Followers

Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Januari 2015

[Book Review] Friends Don't Kiss by Syafrina Siregar


Judul              : Friend Don’t Kiss
Penulis            : Syafrina Siregar
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Tebal Buku    : 208 halaman

Mia Ramsy adalah seorang perempuan lajang yang mengabdikan dirinya pada sebuah organisasi nirlaba bertajuk Indonesian Breastfeeding Mothers. Di sana, Mia bersama perempuan-perempuan lainnya memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif dari Ibunya. Karena bagi Mia, tak ada satu pun jenis susu yang dapat menggantikan peran ASI, pun sebuah susu formula dengan merk paling terkenal dan sejumlah embel-embel manfaatnya yang diiklankan.
Mia berjanji pada adiknya–Lia, saat adiknya itu melahirkan nanti, Mia akan mendampingi Ibu muda itu untuk melakukan IMD–Inisiasi Menyusui Dini. Tapi, karena keterlambatannya dan kebiasaan uniknya yang sering menabrak mobil di parkiran, Mia terlambat mendampingi adiknya. Ditambah lagi, bayi Lia yang terus-menerus menangis saat disusui membuat Lia semakin ketakutan akan produksi ASI-nya dan marah dengan Mia.
“Bayi menangis bukan patokan ASI lo kurang, Lia. Itu hanya salah satu kemungkinan.”

Sayangnya, usaha awal Mia yang hampir berhasil untuk kembali meyakinkan Lia memberikan ASI eksklusif terhalang oleh suami Lia yang menyuruh adiknya itu untuk memberikan susu formula juga agar Lia tak terlalu kelelahan menyusui.

“Tapi menurut gue ASI dan susu formula nggak jauh berbeda,”
“Jelas beda dong, Lia. ASI itu makanan yang bergizi dan berkalori tinggi, juga mudah dicerna. Kandungan yang terdapat di dalam ASI membantu penyerapan nutrisi, membantu perkembangan dan pertumbuhan, juga mengandung sel-sel darah putih, anti-bodi, anti-peradangan, dan zat-zat biologi aktif yang penting bagi tubuh bayi dan melindunginya dari berbagai penyakit. Semua itu nggak terdapat dalam susu formula.”

Selain harus menghadapi perbedaan pendapat dengan adiknya, Mia juga harus terlibat masalah dengan seorang pria bernama Ryan yang mobilnya Mia tabrak di parkiran beberapa waktu lalu. Namun, seiring berjalannya waktu, Mia dan Ryan malah semakin berteman akrab. Mulai dari Ryan yang sering mengajak Mia pergi bersama, sampai kedatangan pria itu yang semakin rutin ke apartemen Mia setiap jam makan malam. Sampai akhirnya, sebuah insiden ciuman itu terjadi. Hanya saja, walau setelah kejadian itu, mereka tetap menjadi Mia dan Ryan yang biasa, yang berteman baik.

That’s what friends are for.”
In case you forgot, Mia, friends don’t kiss.”

Hingga suatu hari, ketika hubungan Mia dan Ryan semakin dekat, Mia akhirnya mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan Ryan darinya, gadis itu akhirnya tahu siapa Ryan sebenarnya. Dan itu membuat Mia mau tak mau menjauhi Ryan meskipun ia tahu, kalau ia sudah jatuh cinta dengan pria tersebut.

It’s not gonna work, Ryan. Kita dua pihak yang berseberangan.”
How the hell I know, Mia? Aku mencintaimu. Aku yakin kamu pun mencintai aku. Apa lagi yang lebih penting?”

“Ryan sudah berusaha memperjuangkan lo, apa sekarang lo mau memperjuangkan dia juga? Karena dalam pernikahan nanti yang perlu berjuang itu bukan hanya Ryan, tapi kalian berdua.”

----------FRIENDS DON’T KISS BY SYAFRINA SIREGAR----------

First of all, untuk kesekian kalinya, saya mau mengucapkan selamat atas kelahiran novel terbaru Mbak Nana ini. Akhirnya bisa bertemu Mia dan Ryan dan juga kisah cinta menggemaskannya di sini! :3

Friends Don’t Kiss merupakan tulisan ketiga Mbak Nana yang saya baca–setelah DJ dan JD, yang ditulis bersama Primadonna Angela, dan juga cerpennya yang ditulis bersama 45 penulis GPU di kumpulan cerpen Cerita Cinta Indonesia. Dari sana, saya sedikit banyak sudah memahami gaya tulisan Mbak Nana yang sederhana, to the point, namun enak dibaca karena ringan dan diksinya yang tidak membuat kita terlalu banyak berpikir. Sedikit witty juga karena Mbak Nana suka sekali mendeskripsikan tokoh utama prianya dengan deskripsi menggoda :p

Secara keseluruhan, saya mendapat banyak pengetahuan dari novel bertema breastfeeding ini. Informasi-informasi tentang ASI yang terkandung di dalamnya sukses menjadi daya tarik terbesar dari novel ini. Saya juga kagum dengan Mbak Nana, dari sekian banyak tema novel metropop yang diusung dengan tema ‘pasaran’, Mbak Nana berhasil menciptakan tema yang unik dan berbeda. Dalam sebuah artikel, saya menyebut Friends Don’t Kiss ini sebagai Novel Metropop BereduASI.

Hanya saja, dari tema menarik yang sudah saya sebutkan di atas, justru cerita romansa antara Mia dan Ryan yang Mbak Nana bangun di sini jadi seperti kehilangan nyawanya. Entah mengapa, saya kurang mendapat feel di setiap scene antara Mia dan Ryan. Saya bahkan lebih excited saat berada pada scene di mana deskripsi-deskripsi tentang ASI dijelaskan. Padahal, konflik yang dibangun antara Mia dan Ryan sudah sangat strike. Walau sederhana, tapi sukses dapat menjadi penghalang di antara kedua tokoh ini.

Selain itu, saya juga lumayan geregetan dengan sifat Mia yang plin-plan di sini. Terutama dengan adiknya, Lia. Mereka sering sekali bertengkar, kemudian kembali baikan, tetapi kemudian bertengkar lagi, dan begitu seterusnya. Selain itu, sifat Mia yang menggembor-gemborkan ASI eksklusif untuk bayi tersebut juga tanpa disertai alasan yang jelas. Biar bagaimanapun, Mia masih seorang lajang, mungkin seharusnya diberikan sebuah penjelasan yang menguatkan sikap Mia tersebut.

Kalau dari segi penulisan, sepertinya tidak banyak yang perlu saya komentari, selain typo-typo yang terlewat. Itu pun hanya sedikit sekali, karena secara keseluruhan, saya menikmati tulisan Mbak Nana. Ada satu yang sedikit mengganggu, yaitu ketidakkonsistenan panggilan antara Mia dan Gina. Di sebuah percakapan, mereka berinteraksi dengan menggunakan panggilan “lo-gue”, tetapi di percakapan lain, mereka menggunakan panggilan “aku-kamu”. Saya tidak tahu ini sengaja atau bagaimana, hanya saja, jika panggilannya dibuat secara konsisten akan lebih baik lagi.

Tapi, overall, saya sangat menikmati novel ini. Terutama informasi-informasi serta pengetahuan tentang ASI-nya yang sangat edukatif sekali. Saya acungi jempol untuk Mbak Nana yang sudah berani mengambil tema breastfeeding dalam cerita metropopnya. Saya seperti mendapat sebuah bacaan edukatif berbonus cerita romantis :)

Like I said before, novel ini pantas sekali dijuluki Metropop BereduASI.

3 of 5 stars, then.
hidyanuralfi





Kamis, 03 Juli 2014

[Book Review] The Chronicles of Audy: 4R

Judul: The Chronicles of Audy: 4R
Penulis: Orizuka
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 320 lembar
Tahun Terbit: 2013

5 of 5 stars

Sudah lama semenjak membaca novel-novel Kak Orizuka yang bergenre comedy-romance seperti ini. Terakhir kali aku membaca novel Kak Ori yaitu I For You-With You-The Truth About forever yang menurutku terkesan lebih serius, (btw, aku nggak mengikuti novel-novel Korea yang dibuat Kak Ori karena aku kurang prefer membaca novel Korea).

Membaca novel ini meningatkanku dengan cerita High School Pradise the series yang membuatku jatuh cinta pada Kak Orizuka. So, tanpa keraguan apa pun, aku berani menaruh ekspetasi setinggi mungkin untuk novel ini. And, see? Aku nggak kecewa sama sekali. Novel Kak Ori kali ini lagi-lagi berhasil memenuhi ekspetasi tinggiku.

Bercerita tentang Audy Nagisa. Mahasiswi tingkat akhir yang baru saja mendapat hasil IP too good to be true bagi dirinya. Dengan keherenan serta kebahagian yang bercampur menjadi satu karena akhirnya ia hanya tinggal membuat skripsi, Audy pun dengan bersemangat menjalani targetnya itu.

Sampai akhirnya kedua orang tuanya melakukan hal bodoh--lagi. Mereka ditipu habis-habisan oleh sebuah perusahaan bodong yang membuat kedua orang tua Audy itu bangkrut dan kehilangan banyak uang.

Bukan itu saja, bencana sepertinya tengah senang dengan Audy karena setelahnya ada banyak bencana yang menimpanya berturut-turut; orang tuanya, tunggakan uang kost-nya, serta diusir dari kost.

Karena ia membutuhkan uang untuk biaya skripsi dan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi, ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Hingga ia menemukan sebuah pekerjaan yang menurutnya sangat cocok untuk dirinya sendiri (karena Audy tidak memiliki bakat apa pun), menjadi babysitter.

Di sinilah ia bertemu dengan 4R bersaudara: Regan (pria dewasa yang ganteng dan ramahnya minta banget dipacarin), Romeo (cowok pemalas, mesum dan playboy yang diam-diam dapat menghasilkan uang hanya dengan duduk di depan komputer), Rex (cowok remaja SMA 17 tahun yang dinginnya kelewatan namun memiliki tulang selangka yang seksi, ugh), dan Rafael (si balita sinis yang dewasa sebelum waktunya). Awalnya Audy merasa kesal karena ia seperti dijebak oleh penipuan berkedok babysitter alih-alih pembantu. Sampai lama-kelamaan, Audy merasa ingi mengenal mereka lebih jauh dan ingin menjadi bagian dari mereka.

Ceritanya begitu kompleks. Dengan tokoh yang banyak, namun aku tetap dapat menangkap cerita inti yang ditulis kak Ori ini. Lucu, romantis, senyum-senyum, sedih, sampai sangat sedih ada dicerita ini. Konfliknya memang tidak terlalu berat (dan juga belum keluar secara keseluruhan karena buku ini akan ada bagian keduanya), tetapi aku dapat merasakan kesederhanaan konflik itu menjadi sangat spesial. Tidak berlebihan, namun tetap membuat kita penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya.

Really, setelah beberapa bulan ini aku selalu menamatkan novel dengan ungakapan oh-jadi-begitu tetapi untuk novel ini aku malah tersedot dengan endingnya dan merasa ingin terus membaca lagi, lagi dan lagi. Kita dibuat adiksi dan tidak akan mau berhenti sebelum sampai pada halaman akhir. Dan setelah selesai, yang ada malah nagih lagi:(

Aku tidak perlu komen, lah, mengenai tulisan Kak Orizuka. Karena bagaimanapu, penulisannya selalu menjadi yang paling kusukai. Tidak berlebihan, namun di setiap diksi yang sederhana itu mengandung pesan tersirat yang begitu wow. Sukses menaik-turunkan emosiku; tertawa, senyum-senyum, menangis, tertawa lagi.

Ugh, really love this novel. Ternyata, aku rindu dengan cerita Kak Ori yang bergenre seperti ini:')

Overall, aku sangat menikmatinya. SANGAT SANGAT MENIKMATINYA. So, pesanku hanyalah, sekuelnya jangan lama-lama, ya. Can't wait for the next completely story!

Btw, rasanya aku kepingin banget memakaikan Regan dasi setiap hari juga mengelus-elus tulang selangkanya Rex yang seksi itu :| menjambat rambut Romeo dan juga mencubit pipi si sinis Rafa! Ah, 4R! Kalian membuatku gila dengan segala kesempurnaan sekaligus kekurangan kalian!!!!

Sign,
Hidya ;p

[Book Review] Rhapsody by Mahir Pradana

Judul Buku: Rhapsody
Penulis: Mahir Pradana
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 324 lembar
Tahun Terbit: 2013

4 of 5 stars

Well, aku memiliki ekspetasi yang begitu tinggi pada novel ini. Absolutely, karena novel Kak Mahir sebelumnya (Here, After) benar-benar keren dan unforgetten banget untukku.

Sebenarnya, it's not cup of my tea. Entah kenapa, mungkin karena aku terlalu sering membaca cerita-cerita full romance yang memang fokusnya pada cinta-cintaan saja. Jadi di awal cerita, aku masih meraba-raba mau dibawa kemana kah sebenarnya cerita ini.

But...tanpa aku sadari, di tengah-tengah perabaanku pada cerita ini, justru aku nggak mau berhenti. Beberapa kali aku sempat terkaget-kaget karena tiba-tiba sudah berada di halaman kesekian, padahal sangat ingat bahwa aku membacanya belum lama. Dan lama kelamaan, akhirnya aku menyadari bahwa aku sudah terlanjur jatuh cinta pada novel ini.

Secara garis besar novel ini menceritakan tentang mimpi dan cinta. Tentang Abdul Latif, atau yang biasa dipanggil Al. Bagaimana bittersweet Al membangun hostel sederhananya yang nantinya akan menjadi salah satu hostel paling berpengaruh di Makassar, pertemuannya dengan Miguel--seseorang yang 'ajaib', serta kisah cintanya mengejar seorang gadis yang menganggap bahwa dirinya adalah distraction. Love is distraction, begitu katanya. Dan, di novel ini, Kak Mahir juga menuliskan segala keindahan tentang kota Makasar. Yang membuatku yakin, setelah membaca novel ini para pembacanya pasti akan lebih mencintai Indonesia lagi.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari Rhapsody. I get some important things about a dream. Bahwa jika kita percaya dengan keajaiban dan juga pada kekuatan mimpi, pasti mimpi kita akan benar-benar terwujud.

Ada beberapa typo, namun tidak terlalu mengganggu menurutku. Hanya ada satu yang agak mengganggu yaitu sebuah nama 'Jo' yang tertulis pada sebuah halaman. Padahal di sana tidak ada karakter yang bernama Jo. Menurut perkiraanku, Jo itu adalah nama dari tokoh Simon sebelumnya. Just IMO.

Oh ya, di sini juga ada scene yang menurutku 'membohongi pembaca' ;p dan Kak Mahir berhasil akan hal itu. Saat aku sudah ikut merasakan kesedihan itu, namun tiba-tiba ... voila! Just let's grab fast this novel ;p

Overall, I really like it. Dan novel ini juga memberikanku sebuah value implied saat selesai membacanya. Not just empty and so-yeah-it's-finish story.

Oh, I love this magnificent ending! Ada rasa 'penuh' yang aku rasakan saat mengakhirnya, seraya menghela napas: finally...

Pokoknya, suka.

Sign,
Hidya

[Book Review] Titanium by Sitta Karina

Judul: Titanium
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Terrant Books
Jumlah Halaman: 440 lembar
Tahun Terbit: 2009

3,5 of 5 stars

Romijn-Indira Singgih memakai nama Titanium untuk proyek barunya karena terinspirasi oleh seorang pria yang ditemuinya di Portrait--Austin Taura Hanafiah. Menurut Romy--panggilan akrab Romijn, Titanium menggambarkan kepribadian pria itu; classy, dingin, dan tahan banting.

Namun, siapa sangka kalau ternyata Romy adalah seorang gadis yang telah disebut-sebut oleh sepupu Hanafiah akan diperkenalkan dengan Austin. Dan Austin yang memang sudah sering menjadi objek 'mainan' para sepupunya, entah mengapa setelah tahu target mereka adalah Romy, ia tak merasa keberatan. Akhirnya Austin pun tanpa disadari mendekati Romy dan berhasil membina hubungan dekat.

"Fondasi hubungan mereka segoyah kanopi hutan hujan di pedalaman Papua yang diinjaki nokturnal yang merambat dari satu pohon ke pohon lain."

Tapi, hubungan Austin dan Romy tidak berjalan dengan mulus. Ada banyak hal tentang latar belakang dan masa lalu keluarga Hanafiah yang perlahan terkuak. Tentang kegilaan-kegilaan mereka. Dan tentang seorang Audrey Hanafiah--saudara kembar Austin Hanafiah.

"Semua Hanafiah memang gila--dengan caranya masing-masing."

Di samping itu, hubungan persahabatan Romy dengan seorang pria bernama Tejas yang sudah berjalan semenjak mereka kanak-kanak, kini seperti menapaki puncaknya. Romy dan Tejas seperti menyadari sebuah kenyamanan mereka selama ini menunjukkan adanya hubungan yang lebih dari sekadar sahabat. Ada kalanya Romy bingung dengan perasaannya sendiri. Di lain sisi ia menyukai Austin, tetapi ia tidak bisa menghilangkan eksistensi Tejas di dalam hatinya.

"Masalahnya, cintakah dia pada Austin?

Atau sebenarnya Austin adalah objek kamuflase perasaannya pada Tejas?"

Hingga sebuah kejadian pun membawa Romy dan Austin ke Amsterdam untuk menyelamatkan Tejas dan Elly dari sekapan seorang musuh Hanafiah. Naren.

Di sana, hubungan Romy dan Austin semakin diuji. Austin mau tak mau harus melakukan sebuah pengorbanan demi menyelamatkan Tejas dan Elly. Dan itu bukanlah hal yang mudah.

"Mungkin.. saat itu aku jatuh cinta pada ilusi... pada imej Austin yang ingin dilihat mataku. You are my Titanium. You was."


-----Titanium-----


Complicated, ya? Ya, memang. Membaca novel ini menurutku merupakan hal yang tidak mudah. Kompleks. Karena ada banyak sekali tokoh dan konflik-konflik sepanjang jalan ceritanya.

Berbeda dengan saat membaca Pesan dari Bintang, meski novel itu dan novel Titanium ini sama-sama tebal, tetapi aku lebih enjoy membaca Pesan dari Bintang. Tidak berbelit-belit.

Di Titanium, aku merasa konfliknya begitu berlarut-larut. Satu konflik belum selesai, tiba-tiba sudah ada konflik baru. Dan hubungan antartokoh di sini juga menurutku agak 'labil'. Berubah-ubah. Kadang musuh bisa menjadi sahabat, dan terkadang sahabat malah menjadi musuh.

Sebenarnya aku merasa terhibur dengan friendzone Romy dan Tejas di sini (friend become lover garis keras xP). Karena hubungan Austin dan Romy itu 'agak membosankan'. Jadi kehadiran Tejas di sini sedikit banyak membangkitkan semangatku, sih ;p

Lepas dari segala kekurangan yang aku sampaikan di atas, buku-buku Kak Arie khususnya Hanafiah Series pada dasarnya memang memiliki cerita yang menarik. Jadi, semembosankan apapun, aku tetap ingin menghabiskannya sampai selesai. Di novel ini tulisan Kak Arie juga sudah lebih baik. Sudah jarang ditemukan ketidakkonsistenan kalimat seperti dalam novel Pesan dari Bintang. Meskipun masih banyak typo dan penggunaan kata awalan di- yang kurang tepat.

Yah, overall, lumayaaaan.

3,5 of 5 stars.

[Book Review] After Rain by Anggun Prameswari

Judul Novel: After Rain
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 323 lembar

4 of 5 stars

3.5 tapi akhirnya aku bulatkan jadi 4 of 5 stars.

Sebenarnya, aku memiliki ekspetasi begitu tinggi dengan buku ini, karena banyaknya review di goodreads yang memberikan bintang 4-5.

Dan, entah karena ekspetasiku yang terlalu tinggi atau bukan, aku jadi merasa sedikit kurang puas dengan ceritanya:( but, really, diksinya sangat bagus. Dan memang untuk ukuran novel debut, you rock, Mbak Anggun;D

Ceritanya itu mengisahkan tentang Serenade Senja atau Seren yang sudah menjalin hubungan selama sepuluh tahun bersama seorang pria bernama Bara--meskipun keadaan Bara saat ini sudah memiliki istri. Dari sudut pandang para pembaca, cerita ini memang menyajikkan sebuah cerita tentang perselingkuhan antara Bara dan Seren. Mungkin agak 'gimana' gitu, ya, memikirkan hubungan mereka. Tetapi, kalau kalian baca, hubungan antara Bara dan Seren tidak seperti perselingkuhan pada umumnya. Karena ada cinta yang begitu besar mendasari hubungan mereka.
Awal bab sampai sekitar setengah halamannya, di dominasi dengan hubungan Seren-Bara-Anggi (istri Bara) yang entah mengapa membuatku agak jenuh karena konflik yang terlihat itu-itu saja.

Dan ... Elang pun datang. Di sinilah aku mulai menikmati cerita ini. Saat sampai sepertiga halaman, aku baru sadar kalau aku sudah benar-benar menikmatinya.

Terkadang aku suka kesal dengan kelabilan para tokoh di sini. Terutama Bara. Oh, he's really annoying dan terlalu labil;p tapi memang kalau tidak ada Bara, cerita ini tidak akan seru, sih. Dan aku suka dengan karakter Elang di sini. Meskipun aku masih merasa antara Elang dan Seren harusnya memiliki interaksi yang 'lebih dalam' dari ini.

But, overall. I like it. Sumpah, deh, diksinya Mbak Anggun itu keren banget. Quotable, Mbak;p apalagi tentang 'punggung yang menjauh' itu.

That's all, aku menikmatinya. So, kutunggu novel-novel selanjutnya, ya, Mbak Anggun.

Dan, oh! I love Kenzo very much!!! So-cool-but-cute-brondong euy!;'3

Sign,
Hidya

[Book Review] Pesan dari Bintang by Sitta Karina

Judul: Pesan dari Bintang
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Terrant Books
Tahun Terbit: 2006

5 of 5 stars

[This review maybe contain subjective perspective]

...
'La amistad es la raiz del amor puro, el amor puro es la fuente de la felicidad.' (Persahabatan adalah akar dari cinta murni, dan cinta murni adalah sumber kebahagiaan)
...

Inez Calassandra Hanafiah dan Nikratama Putra Zakrie telah menjalin hubungan persahabatan selama 5 tahun. Pertemuan Niki--cowok yang sederhana but charming, dan Inez--si cantik eksotis berambut ikal, di NYC saat sama-sama menjalani High School telah membawa mereka pada sebuah ikatan tak terbaca yang terus-menerus mengikat mereka.

Which is called 'friendship'.

...
"Kalo di sebelah gue, elo bebas mau ngapain aja, Nez. Mau nangis lepas, silakan. Abis itu lupain. Playgirl don't cry over one man, right?"
...

Inez adalah seorang gadis dari keluarga Hanafiah yang terhormat. Cantik, fashionable, playgirl, and almost perfect. Sedangkan Niki hanyalah seorang laki-laki sederhana yang kebetulan bertemu dengan Inez 5 tahun yang lalu. Sederhana, berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tampan (tapi ia sendiri tidak merasa tampan)

Niki sebenarnya merasa ia tidak pantas bersanding dengan Inez, pun hanya sebagai sahabat. Ia begitu minder. Sedangkan Inez, ia menyukai Niki yang telah begitu tulus. Niki adalah satu-satunya orang yang melihatnya tidak sebagai seorang Hanafiah. Dan itu membuat Inez nyaman berada di samping Niki secara terus-menerus.

Tapi, mungkin, seperti pepatah mainstream yang bilang kalau seorang pria dan wanita tidak akan pernah benar-benar bisa hanya bersahabat saja, ternyata berlaku pada hubungan Inez dan Niki. Entah rasa itu yang tiba-tiba datang menyergap, atau memang mereka telat menyadarinya. Yang jelas, there is a love behind a good friendship, always.

...
"...Tapi, dari dulu semua pacar saya berambut lurus."

"Oh ya? Kok, bisa begitu? Any special qualification?"

"I save the curly one for my wife."
...

Mungkin Niki menyadari tidak secepat Inez menyadarinya. Karena sesungguhnya, ada begitu banyak hal berkecamuk di dalam hatinya mengenai hubungannya dengan Inez dan kehidupan kelam di masa lalunya.

...
If I ain't got you, Nik? Bolehkah aku pelihara perasaan ini, walaupun kalau kamu tahu pastinya akan menganggap aku cewek kebanyakan--suka ama sahabatnya sendiri?


"Gue suka banget ama persahabatan kita ini, Nez. Bagi gue ini amat berharga, so I just wanna make sure nothing's changed between us."

Mungkin yang nyata hanyalah dinginnya deru angin sore, menjadi saksi keheningan mereka yang rikuh. Adakah kecanggungan terjadi apabila 2 orang sudah dengan yakin mengikrarkan diri mereka hanya sebagai sahabat?
...

Suatu hari, saat pada akhirnya perasaan mereka saling terungkap, seharusnya hanya kebahagiaan yang menyambangi. Seperti mimpi cinta milik Inez--happily ever after. Namun, prinsip itu hanya milik diri Inez sendiri. Tidak untuk Niki.

Kompleks. Perasaan cinta yang seharusnya sudah tinggal mencapai ending pun seperti tercegat di tengah jalan. Karena pada kenyataannya, mencapai hidup happily ever after tidaklah semudah yang Inez bayangkan.

...
Niki terus berjalan, tidak ingin menengok ke belakang, walaupun ia merasakan dingin di punggungnya. Dingin karena tatapan seseorang yang begitu intens. Ia tidak berpikir lebih jauh lagi, karena ia tidak pernah mengerti: seberapa tipiskah garis batas antara sahabat dan kekasih?
...

Ada sesuatu yang Niki tutupi. Di balik rasa mindernya terhadap Inez yang merupakan seorang Hanafiah. Ada masa lalu yang belum terungkap. Dan ada keraguan yang pada akhirnya muncul pada diri masing-masing.

Dan lagi-lagi, Inez yang lebih dulu meruntuhkan keraguan itu. Terutama saat percakapannya dengan Nara Hanafiah--sepupu laki-lakinya yang begitu populer.

...
"Kenapa ya aku nggak bisa jatuh cinta ama kamu? Apakah karena kita sepupuan?"

"Karena gue bukan Nikratama."
...

Ucapan Nara bagaikan sebuah hantaman telak untuk Inez. That's it. Karena cinta Inez Hanafiah, hanya untuk seorang Nikratama Zakrie--sahabatnya, yang justru sekarang, hubungan persahabatan mereka telah hancur berantakan karena perasaan yang pernah terucap itu.

Lalu, saat akhirnya 'rahasia' sekaligus alasan Niki menghindari Inez terbongkar, mampukah Inez memandang Niki dengan pandangan tetap seperti dulu?

Lantas, apa artinya hubungan cinta 5 hari yang mereka mulai saat Niki menyusul Inez yang saat itu kabur--menghindarinya ke Hvar?

...
"Tidak ada yang memaksamu untuk menjadi bagian dari Hanafiah, Niki. Tidak Inez, tidak ibumu, maupun Ety. Cinta yang tumbuh antara kau dan Inez lahir karena kebiasaan, di mana kalian--tanpa sadar--telah meresapi makna 'terbiasa' ini sehingga merasa ada yang hilang apabila salah satu absen."

"Inez adalah bintang saya. Dan saya ingin selalu menjadi malamnya. Kami ini sudah seperti cahaya dan bayangan. Saya lengah menyadari itu."

...

Yeah. Finally. Setelah bertahun-tahun mencari buku ini dan nggak dapet-dapet, lalu akhirnya dapet dengan harga yang cukup 'wow', I should say about finally, finally!

Aku sudah pernah bilang, bahwa genre favoritku itu sahabat jadi cinta. Which is so mainstream, but, that's it.

Secara obyektif, aku masih menemukan banyak kekurangan dalam buku tebal nan besar ini (really, bukunya gede kayak buku pelajaran, dan tebalnya itu hampir 500 halaman). Seperti typo, pemborosan kalimat, eyd yang tidak sesuai kaidah, awalan di- dan ke- yang masih salah, serta pemenggalan-pemenggalan kata yang tidak tepat. Tapi, like I said before, ini mengandung subjective review xP jadi, karena aku sudah terlampau senang mendapat novel ini dan memang ini tema favoritku, aku bisa memaklumi itu semua *smirk*. Lagipula, buku ini terbitan lama--sekitar tahun 2004. Mungkin pada tahun itu masih banyak kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang belum terlalu terekspos kayak sekarang. Dan kayaknya zaman dulu itu typo dan sebagainya belum begitu berpengaruh, ya? ;p

Tapi novel ini page-turning banget, kok. Ya, untuk ukuran novel setebal ini, nyatanya I've never get bored with Inez and Niki. Lagi-lagi mungkin karena memang aku suka temanya kali, ya?

Konfliknya kompleks. Jadi walaupun temanya mainstream, di sini kita akan banyak menemukan sub-konflik baru yang akhirnya menjadi pembeda novel ini dengan novel-novel lain yang bertema sama. Dan untuk pendeskripsian tempat, seseorang, dan lain-lain yang sangat menarik, Kak Arie jagonya, deh!

Pokoknya, overall cool. Walau memang aku merasa kurang dapet feel (tapi kurangnya sedikiiiiiiiiiiiit banget) dan aku nggak rela buku ini masuk dalam deretan 4 bintang, akhirnya aku memberi 4,5 bintang!

Dengan 5 bintang versi goodreas ;p

Karena, bener, deh. Aku nggak bisa nggak subyektif dalam novel yang satu ini. Ada banyak hal yang membuatku merasa novel ini memang harus menjadi salah satu novel berlabel favorit untukku--di samping pencariannya yang sangat sangat susah.

Dan btw, aku suka banget sama nama panjang Niki--Nikratama Putra Zakrie. Nikratama, how cool that name!

Dan aku cukup curious dengan Nara Hanafiah.

Karena serial Hanafiah yang kubaca baru novel ini dan Lukisan Hujan. So, mungkin nanti aku akan mencoba membaca yang lainnya lagi. Kalau sudah cetak ulang.

4,5 stars

Xoxo,
Hidya.

[Book Review] Melbourne: Rewind by Winna Efendi



Judul              : Melbourne: Rewind
Penulis            : Winna Efendi
Penerbit          : GagasMedia
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku    : 328 halaman
Rating             : 5 of 5 stars



Max dan Laura, kembali bertemu setelah beberapa tahun lamanya berpisah dengan menyandang gelar mantan kekasih. Mereka pernah saling jatuh cinta. Lelaki pengagum cahaya serta gadis pecinta musik aneh.
Suara Laura yang Max dengar melalui siaran radio tengah malam itulah, yang akhirnya kembali memertemukan mereka berdua. Seolah meng-klik tombol Rewind kasat mata yang kembali mengulang kebersamaan mereka. Namun untuk kali ini, tanpa embel-embel cinta.
“Dia berdiri di hadapanku, masih dengan lekuk senyum yang sama, tatapan mata berbinar yang sama, cara berdiri yang sama—kedua tangan dalam saku, dengan bahu sedikit membungkuk.” (Laura)
“Sekarang, dia ada di sini, di hadapan gue, tersenyum dan berbicara mengenai apa saja, seperti malam-malam kami di Prudence, enam tahun yang lalu.” (Max)
Keduanya secara alami terus kembali berhubungan setelah malam itu. Menyamankan diri sebagai sepasang sahabat—tak lebih. Saling berbagi seperti Max dan Laura enam tahun silam.
Seluruhnya hampir terus berjalan dengan baik sampai akhirnya Max menyadari bahwa perasaan yang ia miliki pada Laura saat itu ternyata masih sama seperti beberapa tahun silam. Ia tetap mencintai Laura. Namun, Max terus bertahan dengan kedekatan mereka tanpa ia harus mengatakan perasaan tersebut pada Laura.
Lalu, Evan hadir. Lelaki ramah yang merupakan kekasih dari Cee—sahabat Laura. Max menyadari sebuah ketertarikan tak terlihat di mata Laura pada lelaki itu, walau Laura berusaha menyembunyikannya dan terus menyimpannya rapat-rapat. Perasaan Max pun tak dapat dibendung lagi, saat akhirnya ia mengutarakan tentang perasaannya yang masih ‘bertahan’ pada Laura.
I love you, Laura. Damn it, I love you even now. But you’re making things difficult for me to love you properly.” (Max)
“Hubungan kami berbeda, ekspetasi kami berbeda, hidup kami berbeda. Gue nggak ngerti apa yang dia harapkan dari gue, Cee. And it’s hard to say friends that way.” (Laura)
Dan di sinilah akhirnya mereka, terjebak pada sebuah perasaan absurd tak berujung. Saat mereka tak dapat kembali ke masa lalu, hanya untuk merubah sebuah analogi yang tak diinginkan.



It’s a coolest novel I’ve ever read.
Novel ini merupakan seri proyek STPC yang dibuat oleh GagasMedia. Dan, kali ini, Melbourne sebagai latar tempatnya.
Aku selalu suka dengan cara Kak Winna menuliskan cerita-ceritanya. Bagaimana diksi sederhana dapat menjadi satuan kalimat yang indah dan membekas. Bagaimana sebuah cerita sederhana, dapat menjadi sebuah cerita yang kuanggap excited.
Seperti kata Laura dalam ceritanya; “Kami bertemu, kami saling jatuh cinta, kami berpacaran, kami putus, kami move on. Sesederhana itu.”
Dan cerita ini memang as simple as that.
Namun, Kak Winna mampu membawa para pembacanya merasakan segala kesederhanaan itu menjadi sebuah cerita yang indah untuk dibaca. Aku bahkan tidak segan-segan memberikan Melbourne bintang lima. It’s so cool. Aku suka Max dan Laura. Suka segala obsesi Max pada cahaya, juga obsesi Laura pada lagu-lagu anehnya.
Setiap bab di novel ini menyerupai judul lagu. Kak Winna juga menyertakan daftar playlist keenambelas lagu-lagu itu (yang akhirnya ku download dan sekarang menjadi playlist favoritku). So, kita dapat membaca setiap bab dalam novel ini diiringi lagu-lagu tersebut.
Pokoknya, ini novel sederhana yang keren. So damn cool! Dan, aku tidak akan protes soal ending-nya ;p
I’ll always waiting for Kak Winna’s next project!
Sign,
Hidya Nuralfi Mentari (@hidyanuralfi)

Rabu, 02 Juli 2014

[Book Review] Always, Laila by Andi Eriawan

Judul: Always, Laila
Penulis: Andi Eriawan
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 240 lembar
Tahun Terbit: Cetakan I 2005, Cetakan II 2013

5 of 5 stars

Where is my Pram? :’’((

Dulu, aku sempat baca novel ini di google books. Masih versi cover lama dan hanya bisa baca sampai halaman 46. Kemudian novel ini cetak ulang, dan itulah yang aku sesali saat ini karena tidak membelinya secepat mungkin. Kalau seseorang nggak ngasih novel ini ke aku (thanks to Klara :’)) aku yakin aku juga nggak akan pernah bisa menyelesaikan novel ini.

Aku nggak tahu di bagian mana yang spesial dalam novel ini. Yang aku rasakan hanya kesederhanaan di setiap bagiannya. Cerita, diksi, penokohan, percakapan antartokoh, penggambaran para tokoh. It’s too simple. Tapi menurutku, di sanalah kekuatan dalam novel ini. Sederhana.

Namun indah.

Karakternya terasa sangat-sangat nyata. Pram dan Laila. Aku nggak tahu, apa setiap penulis laki-laki selalu dapat menggambarkan kesederhanaan cara menulisnya seperti ini? Nggak berlebihan, pas. Really good. Dan, aku sama sekali nggak menemukan kontak intim antara Pram dan Laila di sini. Ah, mereka pacaran sudah bertahun-tahun. Lebih dari tujuh tahun dan kontak terintim yang Pram berikan pada Laila adalah mengusap kepala? Lol? No, that’s sooooooooo sweet :’) manis. Nggak perlu ciuman, pelukan, pegangan, tetapi aku dapat menangkap seberapa besar mereka mencintai pasangannya satu sama lain. Oh ya, aku juga suka cara penyajian alurnya yang maju-mundur. Kita seperti diajak menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya. Dan ketika mencapai ending, aku benar-benar merasa semua pertanyaan-pertanyaanku yang terus tersirat sepanjang aku membaca, akhirnya terjawab. Yaampun, nggak tahu lagi mau marah atau excited disodorin cerita ini :’ Kak Andi, kenapa memutuskan untuk berhenti menulis? :’)

Akhir-akhir ini bacaanku adalah novel-novel sekelas metropop, yang tokoh-tokohnya benar-benar metroseksual. Cenderung banyak menemukan adegan menjurus di novel-novel yang kubaca sebelumnya, karena kupikir sekarang adegan seperti itu sudah biasa. Dan … membaca ini seperti sebuah sapuan angin lembut yang menghantam wajahku. Damai, nyaman, tenang. Tapi spesial. Dan nyatanya, aku menikmati novel ini lebih dari aku menikmati novel-novel yang kubaca sebelumnya.

Haduh, nggak sanggup mereview ceritanya. Pokoknya, too good :’) dan, Pram, kuharap kamu bisa kembali bereinkarnasi dan kali ini datang ke aku :’’)) really, selalu bayangin enaknya punya pacar yang selalu mengungkapkan perasaannya lewat puisi. That’s one of my destiny.

Intinya, ini sangat-sangat jauh melebihi ekspetasiku. Satu lagi list novel favorit dengan cap ‘sad ending’. But, really good ending.

(ini ampek sembab T.T)

Amazing. 5 of 5 stars :)

[Book Review] London: Angel by Windry Ramadhina

Judul: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 330 lembar
Tahun Terbit: 2013

4 of 5 stars

...
"Aku akan mengejar Ning ke London!"
...

Gilang, pemuda Indonesia yang berprofesi sebagai penulis amatir telah bertahun-tahun memendam perasaan kepada Ning--sahabatnya. Malam itu, di antara bergelas-gelas Jack Daniel's yang membuatnya mabuk, ia menandaskan ide gila bin sinting tersebut. Pergi ke London. Menemui Ning. Untuk mengungkapkan perasaannya.

...
Sebagai seorang penulis, terlebih aku adalah seorang penulis roman, seharusnya aku tahu hal utopis semacam 'mengejar gadis ke London atas nama cinta' hanya berjalan lancar dalam kisah-kisah fiksi.
...

Namun, usahanya menemui Ning dan memberikan kejutan pada gadis itu tidaklah semulus yang Gilang bayangkan. Berhari-hari ia mendapati apartemen yang Ning tempati kosong. Berhari-hari pula ia menghabiskan waktu tak tentu arah mengelilingi London sembari menunggu Ning kembali.

Tanpa disangka, perjalanannya itu membawa Gilang bertemu pada seorang wanita cantik yang ia temui di bawah rintik hujan. Bermata biru indah, berambut ikal gelombang keemasan, dengan senyum memesona yang begitu sempurna. Ia memanggilnya Goldilocks. Berkali-kali ia bertemu dengannya, namun anehnya: Goldilocks selalu muncul saat hujan mulai datang dan pergi saat hujan berhenti. Wanita cantik itu hanya meninggalkan sebuah payung merah yang tanpa Gilang ketahui--akan berperan banyak dalam hidup orang-orang di sekitarnya.

...
"Kau lucu,"

"Terima kasih. Kau misterius."

"Misterius?"

"Ya. Kau muncul tiba-tiba, pergi tiba-tiba. Sangat misterius."
...

Gilang juga bertemu dengan orang-orang berkepribadian unik seperti Ed, Madam Ellis, Mister Lowesley, dan Ayu--gadis maniak buku yang juga berasal dari Indonesia

Saat akhirnya Gilang bertemu dengan Ning, ada pergolakan hati yang muncul pada diri pemuda itu. Bagaimana kalau ternyata Ning menolaknya? Bagaimana kalau ia selama ini bertepuk sebelah tangan? Bagaimana kalau ... selama ini Ning memang hanya menganggapnya sebagai sahabat--tak lebih.

...
"Sejak lama aku menginginkanmu. Enam tahun, atau mungkin lebih dari itu. Bukan sebagai sahabat."
...

Di sela kemelut pikirannya tentang Ning, bayangan Goldilocks yang selalu hadir di saat hujan terus menghantuinya. Ia penasaran. Ia ingin tahu. Dan ia ingin bertemu lagi dengannya. Maka Gilang pun terus mencarinya.

...
"Kau tidak perlu mencarinya. Kau cuma perlu berdoa agar hujan turun."
...

Dan saat akhirnya mereka bertemu, tak pelak ada begitu banyak hal yang telah terjadi berkat keajaiban-keajaiban yang dibawa oleh Goldilocks. Membuat Gilang terus-menerus bertanya,

Siapa sebenarnya wanita itu?

.
.
.

It's my first time read Kak Windry's book. Aku juga punya Memori, Montase, dan Everlasting Love yang berisi tulisannya. Tetapi entah kenapa, aku memilih London menjadi novel pertama Kak Windry yang kubaca. Mungkin karena kabarnya novel ini akan difilmkan?

My first opinion ... beautiful. Kak Windry menulis dengan begitu indah dan cantik. Dengan kekayaan diksi yang begitu indah juga. Bahkan aku seperti merasa membaca buku terjemahan. Semuanya terasa pas. Aku juga suka karena judul-judul buku bertebaran di sini. Memperlihatkan bahwa pengetahuan Kak Windry tentang buku dan dunia kesusastraan klasik lumayan luas :))

Overall, lagi-lagi aku suka dengan sub tema sahabat jadi cinta di sini. Jujur, tema itu membuatku lebih semangat membaca novel ini. Hanya saja, aku kurang sreg dengan tema utamanya. Terlebih karena ini memakai point of view seorang laki-laki (aku tipe pembaca yang lebih mudah bersimpati pada tokoh utama perempuan). Jadi, ya, ada beberapa hal yang masih kurang dapat kunikmati.

Oh ya, keapikan Kak Windry menyambungkan benang-benang cerita juga mengagumkan. Aku suka bagaimana di sini, ia membuat sebuah payung merah milik Goldilock akhirnya menjadi sesuatu yang berperan penting pada orang-orang di sekitar Gilang. Tapi aku kurang puas mengenai penjelasan Goldilocks. Sampai akhir aku tidak menemukan penjelasan yang melegakan atas siapa sebenarnya dia.

Dan endingnya! Oh My God! :''")) bukan ending yang kuharapkan, sih. Tapi di tengah cerita aku sudah 'sempat' menebak walau sedikit.

Tapi overall suka, kok. Suka dengan gaya penulisannya yang mengalun. Mengalir. Cuma kurang greget xP Sepertinya aku akan dengan senang hati mencoba karya Kak Windry yang lainnya :)

4 of 5 stars

[Book Review] Love Lock by Pia Devina

Judul: Love Lock
Penulis: Pia Devina
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 304 lembar
Tahun Terbit: 2014

4 of 5 stars

Kak Pia, sukaaa♥♥♥

Ini pertama kalinya aku baca novel Kak Pia setelah hampir setahun kenal lewat grup metropop (padahal udah ada beberapa novelnya yang terbit sebelum ini xP). Dan aku suka Love Lock ini :)

Terutama cara pendeskripsian tempat-tempat di novel ini. Nggak ngerasa didikte. Aku malah sangsi, jangan-jangan Kak Pia pernah ke Cologne? *nahloh* karena pendeskripsiannya nyata banget. Seolah penulis memang pernah datang ke sana. Sampe hal-hal kecilnya pun terasa nyata. Dan rasa-rasanya, membaca novel ini seperti membaca salah satu novel dalam proyek STPC-nya gagas. Apalagi ditambah ilustrasi-ilustrasi cantiknya itu.

Pokoknya, good job, Kak Pia^^ Jerman-nya terasa, meskipun ada beberapa hal yang dirasa kurang ngena, tapi overall suka banget :)

Lancar buat proyek-proyek yang sedang dan akan dilaksanakan, Kak. Doain aku semoga bisa nyusul Kak Pia jadi seorang [certified] writer xP *aamiiiiiin* hehehehe.

[Book Review] Bangkok: The Journal by Moemoe Rizal

Judul: Bangkok: The Journal
Penulis: Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 436 lembar
Tahun Terbit: 2013

5 of 5 stars

Edvan Wahyudi adalah seorang arsitek muda yang bisa dibilang tengah berada dalam puncak karir. Sepuluh tahun meninggalkan keluarga demi keegoisan dan kekeraskepalaannya sendiri, tiba-tiba saja Edvin--sang adik, membawa kabar buruk yang seolah menghantam Edvan tepat di jantung.

Bahwa Ibunya baru saja meninggal.

Hal tersebut mau tak mau membawa Edvan ke dalam sebuah fragmen non-logis yang terjadi padanya. Pertama, sang adik laki-laki--Edvin, kini telah tampil berbeda dengan menjadi seorang transgender. Ia bukan lagi adik laki-laki Edvan, namun sudah berubah menjadi perempuan cantik nan memesona bernama Edvina.

'Edvin yang kutahu adalah laki-laki. Aku mengajarinya main layangan. Aku mengajarinya main kelereng. Aku pipis bareng Edvin, dan kami pipis berdiri. Bahkan, aku menjadikannya Robin (sementara aku Batman).'

Kemudian, sebuah wasiat Ibunya yang meminta Edvan mencari tujuh jurnal yang berada di Bangkok. Jurnal-jurnal itu dikatakan akan menjadi peta di mana nantinya ia dapat menemukan warisan Ibu dan Ayahnya.

"Semua jurnal ini tersebar di Bangkok, Thailand. Ibu cuma pengin Kakak mengumpulkan semua jurnal itu, merangkaikan, dan menemukan warisan Ibu dari situ."

Dengan hati dongkol dan terheran-heran mengapa dirinya menyanggupi permain 'pencarian jurnal' konyol itu, akhirnya Edvan berangkat ke Bangkok. Bersamaan dengan Edvina yang kebetulan akan mengikuti sebuah kontes kecantikan khusus waria di sana.

Dan, perjalanan itulah yang akhirnya mempertemukan Edvan dengan Charm, gadis Thailand cantik yang ramah dan sopan. Charm menjadi semacam tour guide Edvan selama ia berada di Bangkok atas saran dari seorang pramugari di pesawat yang ditumpanginya.

'She's the one whose I won't mind being kidnapped by. Hahaha.'

Sejak pertama kali bertemu Edvan memang sudah tertarik dengan segala sifat menyenangkan Charm. Namun ia tak pernah menyangka kalau pada akhirnya prinsip witing tresno jalaran soko kulino akan menyambanginya. Ia jatuh cinta pada Charm.

'Berani mengambil hati seorang arsitek? Jangan protes kalau rumahmu mendadak lebih bagus dari sebelum bertemu aku.'

Namun, ternyata Charm tidak mudah untuk dijadikan sebuah objek jatuh cinta. Gadis itu terus-menerus mengatakan pada Edvan bahwa laki-laki itu tidak seharusnya jatuh cinta padanya. Ada banyak hal misterius tentang Charm yang tak Edvan mengerti.

Selain itu, jurnal-jurnal yang lain masih menunggu untuk ditemukan. Ada misteri apa sebenarnya di antara jurnal-jurnal yang tersebar di dataran Bangkok itu? Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Ibu Edvan melalui jurnal-jurnal tersebut?

Dan ... mengapa semakin hari Charm terlihat semakin pucat?

"Hidup ini indah, Khun, sebenarnya. Kalau aku punya kesempatan lebih, aku ingin menikmati dunia ini sambil menciptakan kenangan indah untuk orang-orang di sekitarku."

---Bangkok: The Journal---

Cool, wonderful, beautiful, and meaningful.

Ada banyak hal yang sangat aku sukai dalam novel ini. Pertama, diksi yang dipakai Kak Mumu, semacam gaya bahasa ceplas ceplos khas cowok tapi tetap mengandung arti yang jleb-jleb. Lalu, percakapan-percakapannya yang kocak tapi cerdas. Entah kenapa aku sangat sangat suka dengan percakapan itu. Rasanya keren aja gitu. Kemudian, deskripsi tempat-tempatnya. I don't know apa Kak Mumu sudah pernah pergi ke Bangkok apa belum, yang jelas pendeskripsian tempat di dalam novel ini sangat detai dan nyata. Laluuu, para tokohnya. Edvan, Edvin(a), Charm, Max, Stevan, Monyakol, Kanok, para Miss Waria, Noi, Apsara, dan tokoh-tokoh lainnya dalam novel ini benar-benar menghidupkan cerita. Unik. Dan karena macam-macam sifat unik mereka itulah akhirnya novel ini menjadi sangat menarik.

Selama membaca, entah kenapa aku nggak bisa ngelepas pikiranku yang menyatakan kalau Edvan ini Kak Mumu banget. Nggak ngerti, lah, tapi sepanjang cerita aku membayangkan Edvan ini ya Kak Mumu (dear Kak Mumu, kalau lihat jangan geer yaw xP)

Oh iya, aku juga suka karena ada beberapa bab dalam novel ini yang judul bab-nya diambil dari judul-judul novel Kak Mumu yang sebelumnya (Fly to The Sky, Jump, Outrageous). Dan sebenarnya kepingin nanya, kenapa Oh, Baby dan Satu Cinta Sejuta Repot nggak dimasukin juga xD

Pokoknyaaa suka. Isu transgender dan Ibu ini benar-benar nusuk. Meaningful. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel ini. Aku masih speechless, kok bisa ya Kak Mumu kepikiran bikin novel dengan ide kayak gini? Cool!

Karena bingung mau ngomong apa lagi, intinya novel ini merupakan paket lengkap. Karena cerita yang tertuang tidak hanya melulu soal cinta. Ada banyak hal. Dan semua itu bisa kita pelajari. Keluarga, persahabatan, prinsip, menjadi diri sendiri, sosial, kebudayaan, etc, etc, etc...

So, Kak Mumu, you're cool! :3

[Book Review] Montase by Windry Ramadhina

Judul: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Tebal Buku: 368 halaman
Tahun Terbit: 2012

4 of 5 stars

"Suteki da ne? Kono raifu."

Saya suka Haru Enomoto. Mengingatkan saya pada Haruno Sakura--salah satu character perempuan di manga Naruto. Dan Kak Windry menggambarkan Haru di sini begitu natural. Polos, innocent, energik, ceria, lincah, ceroboh, sekaligus rapuh.

"Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?"

Saya juga suka tentang seni perfilman. Entah kenapa itu selalu menarik perhatian saya, meskipun saya sebenarnya sangat buta mengenai itu. (padahal saya sempat mempelajari sinematografi dan membuat beberapa film pendek bersama teman-teman saya saat SMA).

"Kita hidup tidak selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan."

Dan ... saya juga suka Rayyi. Meskipun ada beberapa sisi dari dirinya yang saya anggap kurang gentleman. Tapi saya suka. Kak Windry sudah berhasil menjadi 'laki-laki' dalam buku ini.

Yeah, like I said before, sad ending always win my heart.

Meskipun ini nggak sad sad banget sih pada akhirnya :')

[Book Review] Paris: Aline by Prisca Primasari

Judul Buku: Paris: Aline
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 224 lembar
Tahun Terbit: 2013

5 of 5 stars

"Jadi, kemarin, dia mengajakku bertemu di salah satu tempat paling berhantu di Paris."

Aline Ofeli, seorang gadis Indonesia yang tengah menempuh pendidikannya di Paris, pada suatu hari menemukan sebuah pecahan porselen. Karena menurutnya porselen tersebut merupakan sebuah benda yang 'tidak murah', akhirnya Aline memutuskan untuk menyatukannya kembali dengan lem, kemudian menyimpannya.

Dalam porselen tersebut tertulis nama 'Aeolus Sena' yang kemudian Aline hubungi lewat alamat email yang ia dapatkan dari pencariannya di internet.

Tanpa disangka, Sena membalas pesannya dan memintanya bertemu di sebuab tempat bekas penjara bernama Place de la Bastille. Yang mana merupakan salah satu tempat terangker di Paris. Dan Sena memintanya bertemu pada pukul 12 malam!

Namun, betapa kesalnya Aline karena ternyata Sena tidak menepati janjinya. Lelaki itu tidak datang dan menyusun ulang pertemuan mereka keesokan harinya. Di tempat yang sama dan jam yang sama!

Namun, lagi-lagi, Sena tidak datang menemui Aline.

"Aku punya dugaan kuat kalau si Aeolus Sena ini punya masalah."

Akhirnya mereka pun kembali menyusun pertemuan. Kali ini di tempat yang berbeda dan siang hari. Mereka pun bertemu.

Tapi Aline merasakan sebuah kejanggalan dalam diri Sena. Di balik sikapnya yang konyol dan meledak-ledak, tersimpan sebuah kemisteriusan di sana.

"Sebelum ini, aku tak pernah benar-benar menemui hal yang mengundang tanda tanya. Terkadang, memang aku bereaksi berlebihan terhadap seauatu--lampu mati atau dompet yang tertinggal di rumah atau rasa sup yang kurang pas. Namun, semua masih dalam koridor normal dan terjelaskan.

Sampai aku bertemu laki-laki ini.

Sejak aku bertemu dengannya, yang terjadi hanyalah hal-hal aneh dan teka-teki."

Segala misteri dan teka-teki pun bergulir. Tentang Sena yang bekerja di sebuab tempat reparasi mesin tik, tentang Sena yang muncul tiba-tiba dan hilang tiba-tiba, tentang Sena yang mengajaknya ke sebuah tempat-tempat aneh dan misterius, tentang Sena yang melakukan sebuah kerjasama dengan Ezra--senior yang tinggal di sebelah kamarnya.

Ya, Ezra yang ternyata juga menyimpan sesuatu terhadap Aline.

Aline pun semakin jauh masuk ke dalam kehidupan misterius Sena. Ia ingin mengenal lelaki itu. Semakin hari, ia semakin merasa sesuatu yang berbeda pada diri lelaki itu.

Lalu, sesuatu terjadi. Membawa Aline yang akhirnya mengetahui semua misteri di balik layar seorang Sena. Dan Aline ... harus menolongnya.

"Di sini, tidak semenyenangkan yang dikira orang-orang. Ada sudut-sudut tertentu yang lebih baik tidak dimasuki. Ada tipe-tipe orang yang lebih baik tidak dikenal."

-----Paris: Aline-----

Saya suka Aline Ofeli, saya suka Aeolus Sena, saya suka Ezra Yoga, dan ada banyak hal lain yang saya sukai dalam novel ini.

Termasuk alur dan ide ceritanya. Saya rasa, isi keseluruhan cerita dalam novel ini sangat cantik. Berbeda dan unik. Sejak awal, kemunculan Sena dan tetek bengeknya yang tidak biasa itu sudah berhasil menarik perhatian saya. Saya suka.

Ezra ... saya juga suka dia xD tenang, dingin, dan lembut. Saya jadi ikut tenang saat membaca bagian dia. Manis sekali :')

Begitu pula dengan hubungan antartokohnya, terutama Aline dan Sena. Pas dan tidak berlebihan. Meskipun, ya, saya memang merasa seperti masih ada yang kurang greget dalam novel ini, tapi saya tidak bisa mengelak kalau saya sangat-sangat suka dengan keseluruhan isinya.

Page-turner. Dan selesai hanya dalam sekali duduk. Saya memulainya tadi pagi, sekitar pukul setengah 7. Tadinya sama sekali tidak berniat untuk menyelesaikan sekaligus, tapi ternyata saya tidak bisa berhenti. Dan kurang lebih jam 10 tadi, saya baru mau berhenti. Setelah cerita menggoreskan 'The End' x)) mungkin karena novelnya tidak terlalu tebal juga kali, ya.

Tapi yang jelas, berdasarkan pandangan subjektif saya, sangat suka.

Jumat, 27 Juni 2014

[Book Review] By Your Side by Bulan Nosarios



Judul: By Your Side
Pengarang: Bulan Nosarios
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal Buku: 296 halaman
Harga: Rp. 60.000

|"Tak perlu meluruskan, orang-orang dengan sendirinya akan tahu mereka hanya teman. Dua orang sahabat yang terlalu susah dipisahkan."|


Kania dan Erga adalah sepasang sahabat yang menjalani segala hal dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki pandangan yang sama tentang satu sama lain. Kania adalah tipe pribadi pemikir, tak banyak bicara, selalu berpikiran logis, dan merencanakan segala tetek bengek kehidupannya. Sedangkan Erga adalah seorang pria yang memercayai bahwa hidup itu mengalir. Sebab hidup tak selalu harus direncanakan.

Erga mencintai Kania, tetapi ia tidak yakin apakah Kania juga mencintainya. Kania tahu Erga mencintainya, tetapi ia bahkan tidak tahu apakah hatinya siap menerima semua itu.


|"Tidak ada dalam rencananya untuk jatuh cinta saat cita-citanya masih jauh. Kania tidak berani menebak-nebak akan ke mana ujungnya hubungan ini."|


Bagi Kania, jatuh cinta bukanlah prioritas utama. Karena ada cita-cita yang selalu menjadi pemenang peran dalam kehidupannya. Ada banyak rencana-rencana masa depan yang harus Kania raih. Dan jatuh cinta pada Erga tidak ada dalam rencana hidupnya itu.


|"Kadang kala, perasaan tidaklah penting..."
"Lalu apa yang penting buatmu?"
"Masa depanku yang tidak diisi hal-hal absurd?"
"Bagaimana kalau memasukkan sedikit hal absurd ke dalam rencana hidupmu? Biar lebih berwarna..."|

|"Kita terbiasa merencanakan banyak hal yang mudah kita jalani, Kan. Tapi Tuhan membuat rencana supaya kita menjadi kuat. Sedikit hal yang tidak pasti, sedikit kepedihan, sedikit kebimbangan, begitulah hidup."|


Namun Erga tak bisa terus-menerus menunggu. Dan Kania tak bisa selamanya membohongi diri sendiri. Ada perasaan yang perlahan menyusup ke dalam kebersaman mereka. Yang kini menuntut lebih dari sekadar sepasang sahabat.

Dan, cinta yang Erga miliki untuknya pun rasanya masih belum cukup untuk Kania. Di samping cita-citanya yang sudah ia rencanakan rapi-rapi, belum ada hal yang mampu meyakinkan akan seperti apa nantinya cinta itu di masa depan.


|"Aku selalu menunggumu, Kan. Meski tidak pernah diberitahu sampai kapan aku harus menunggu."|

|"Kania percaya pada Erga, tapi ia tidak percaya pada waktu."|


Maka, sebuah keputusan pun dibuat Erga. Ia ingin pergi menjauh. Keluar dari zona nyamannya bersama Kania dan menjauhi kebersamaan mereka yang tenang. Dengan begitu, ia akan tahu, apakah ada kemungkinan-kemungkinan lain yang akan ia dapatkan di luar sana.

Apakah ada kehidupan yang ia cari--selain kehidupannya yang selama ini statis berjalan hanya di sekitar Kania.


|"Ada yang berdendang lebih harmonis di antara mereka. Sebut saja itu cinta."|


-----By Your Side-Bulan Nosarios-----


Ah, jatuh cinta dengan setiap kalimat yang tertulis. Plus kalimat penutup yang sangat manis.

Jujur saja, novel ini bukanlah sebuah novel dengan tema atau alur cerita yang luar biasa. Daripada dikatakan luar biasa, aku lebih senang menyebutnya sederhana. Karena tema, alur, bahkan konflik dalam novel ini begitu sederhana.

Tapi kesederhanaan itu membuatku jatuh cinta.

Dari awal, aku sudah tahu akan dibawa ke mana cerita ini sebenarnya--which is, so boring, karena ceritanya sudah 'tertebak'. Tapi aku tidak bisa merasa bosan. Karena setiap kata yang ditulis Kak Bulan di sini begitu memesona. Rasanya mencandu. Di samping itu, aku juga salah seorang pembaca yang sangat menyukai tema sahabat jadi cinta, jadilah buku ini menjadi sebuah kesatuan yang sempurna dalam pandangan subyektifku.

Aku suka semua isinya. Tema, tokoh, latar tempat, latar belakang profesi tokoh, dan segala gambaran scene-nya. Dan yang paling kusuka adalah bagaimana Kak Bulan membangun karakter para tokohnya dengan begitu kuat. Begitu pun dengan hubungan antartokoh yang begitu hangatnya. Tidak ada tokoh yang kubenci di sini. Sekalipun si tokoh yang ditempatkan untuk menjadi orang ketiga.

Potongan-potongan flashback di awal-awal cerita juga sama sekali tidak mengganggu. Meski terkadang ditaruh tanpa peringatan, tapi toh tidak membingungkan sedikitpun.

Dan dunia kedokteran memang selalu menarik untuk dibahas :) meskipun tidak terlalu banyak, tapi profesi dokter yang dimiliki Kania sedikit banyak mampu membuat cerita ini menjadi lebih menarik.

Kekurangannya hanya beberapa typo dan masih terdapatnya kalimat majemuk yang kutemukan beberapa. Tapi sama sekali tidak mengganggu cerita, sih, menurutku :D oh ya, juga di akhir-akhir cerita, antiklimaksnya kurang nendang xP karena jarak antiklimaks dan ending (menurutku) sangat cepat. Jadi terkesan terburu-buru.

Tapi kekurangan-kekurangan itu rasanya tidak terlalu berarti dibandingkan dengan keberhasilan Kak Bulan membawaku menikmati keseluruhan cerita. I want more! Encore! xD

Yang paling kukagumi, sih, pemakaian diksi Kak Bulan :'3 sumpah, adem banget. Rasanya tenang, mengalir, sampai-sampai hatiku ikut 'cekit-cekit' nyesek di sini :')

Dan itu yang membedakan novel ini dengan novel-novel bertema sama lainnya. Biasanya novel-novel lain itu akan bercerita tentang hubungan antarsahabat yang meledak-ledak. Light and sweet. Tapi di sini, kita akan menemukan cerita yang calm but sweet and heartwarming♥

Pokoknya terima kasih untuk Bang Ijul dan Kak Bulan yang sudah memberiku kesempatan menjadi salah satu teman #BacaBarengMinjul #ByYourSide with @fiksimetropop dan Kak Cinthya seminggu ini :)

Can't wait for your next sweet story, Kak Bulan xD

Minggu, 22 Desember 2013

[Book Review] Glam Girls by Nina Ardianti


Judul: Glam Girls
Penulis: Nina Ardianti
Penerbit: Gagas Media

3.5 stars of 5 stars

Another teen story. But, not as usual teen story.

Uhm, gimana, ya. Ini merupakan bacaan ringan untuk dibaca. Tetapi tetap memiliki value implied di dalamnya. Khas remaja, tetapi dengan tulisan Kak Nina dan keseluruhan tipe cerita yang nggak biasa, it’s so cool teenlit.

Ini seri glam girls pertama yang aku baca (lucky me, I found it at gramedia shocking sale with oh-too-friendly-price) dan berhasil membuatku suka. Setidaknya, kisah Adrianna ini membuatku ingin melanjutkan ke seri glam girls berikutnya.
Novel ini bercerita tentang kehidupan para remaja glamour—khas orang-orang menengah ke atas yang lebih memilih hidup mengikuti trend western. Dan, menggunakan Adrianna’s point of view yang menjadi si plain vanilla girl, atau gadis biasa-biasa aja. Si Ad ini tipe-tipe orang yang menganggap nilai lebih berharga dibandingkan dengan popularitas. Sehingga saat melihat clique yang bebrisikan Rashi, Maybella (or Shinna) and Marion, dia merasa mereka semua sangat mengganggu. Di saat murid-murid VIS—sekolahnya, sangat memuja-muja mereka, dia malah dengan pendiriannya berlawanan arah dengan bersikap tak suka dengan Rashi and the clique. Perlu dicatat; tak suka yang Ad rasakan bukan semacam tak suka karena iri, melainkan karena kesederhanaan pikirannya yang seperti menganggap Rashi dkk “So What? Memangnya apa yang spesial dari mereka?”

Sampai akhirnya, sebuah tugas kelompok Indonesian Studies membuat Ad mau tidak mau berurusan dengan Rashi dan Maybella yang menjadi teman sekelompoknya. Tanpa disangka-sangka, itu adalah first step Ad yang pada hari-hari selanjutnya malah semakin dekat dengan Rashi dan Maybella dan akhirnya bergabung dengan their clique (menggantikan Marion yang memiliki masalah dengan Rashi). Semenjak menjadi bagian dari mereka, sangat banyak perubahan yang Ad rasakan, terutama popularitasnya di VIS. Ia yang tadinya hanyalah seorang ‘nobody’ tiba-tiba saja menjadi ‘somebody’. Ada banyak hal positif dan too much negative thing yang menjadi akibat Ad bergabung berama mereka.

It’s about friendship. That’s all.

Makanya aku bilang, ini adalah bacaan ringan khas teenlit, tetapi memiliki value implied yang membuat novel ini menjadi ‘berisi’. Bukan hanya kisah roman picisan biasa yang melulu. Dan, thanks to Kak Nina as writer, aku selalu suka gaya tulisannya yang catching up abis itu xD membuatku nggak bosan saat membacanya. Cool, kak!

Yeah, recommended buat dibaca saat santai. Cukup menghibur dan menyampaikan sesuatu yang bermanfaat namun tanpa harus banyak berpikir. I like it lah (:

Nb: dibanding Rashi, entah kenapa aku lebih prefer ke Maybella (or Shinna) lho. She’s cheer up girl. Suka sama kepolosan serta ceplas-ceplosnya itu. And, I’m on progress to read her other story on the next glam girls: Unbelievable by Winna Efendi. Yeay! That’s written by my favorite author! xD

[Hidya]

[Book Review] Let Go by Windhy Puspitadewi


Judul: Let Go
Penulis: Windhy Puspitadewi
Penerbit: Gagas Media


4 of 5 stars

Caraka Pamungkas. Kelas X. Baru saja menginjak SMA selama empat bulan, namun sudah dua kali membuat onar karena berkelahi.

Raka—panggilan akrab Caraka, adalah seorang remaja laki-laki yang selalu berbuat sesuatu tanpa harus repot-repot berpikir terlebih dahulu. Karena kecerobohannya serta sikapnya yang tanpa sadar selalu ikut mencampuri orang lain itu, Raka dihadapkan dengan sebuah hukuman mengurus mading sekolah bernama Veritas yang mengharuskannya mengenal Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang teman sekelasnya yang memiliki kepribadian rumit yang berbeda-beda. Buka hanya itu saja, Raka pun harus menelan kenyataan pahit bahwa dua di antara orang itu benar-benar bersikap menyebalkan terhadapnya.

“Satu ruangan dengan Zombie berlidah tajam, Ratu Salju, dan si cengeng penakut itu, entah kenapa bikin jarum jam terasa nggak bergerak ke mana pun.”


Selama beberapa waktu, Raka merasa hidupnya sangat menjengkelkan. Terus menerus berhadapan dengan Nathan yang sangat membencinya, Nadya yang begitu sinis dan menganggap dirinya selalu bisa melakukan semua hal, serta Sarah yang terlihat begitu rapuh dan pemalu.

Sampai akhirnya, sebuah peristiwa membuat Raka mengetahui rahasia besar Nathan yang menjadi alasan laki-laki itu selalu bersikap dingin kepada semua orang. Lalu, sebuah kebetulan manis yang terus-menerus terjadi di antara ia dan Nadya, membuatnya tanpa sadar telah lebih dekat dengan gadis itu. Perlakuan terlalu baiknya kepada Sarah pun memiliki efek yang tidak Raka ketahui dirasakan oleh gadis pemalu itu.

“Semua orang bisa bersikap seolah-olah mereka berumur panjang kayak kamu ini,” kata Nathan sambil tersenyum sinis.
“Sebenarnya, kamu nggak perlu repot-repot menolongku.” kata Nadya dalam perjalanan.


"Aku lupa," jawabnya kemudian. "Aku lupa kamu juara judo. Yang ada dipikiranku, cuma kamu itu cewek, sisanya badanku bergerak sendiri."

Nadya terdiam, tetapi kemudian Caraka merasakan samar-samar tangan Nadya menyentuh punggungnya.
“Makasih, ya….”


Cara mengangkat bahu. “You are welcome.”

"Apa yang sudah kamu lakukan sangat berarti buatku," kata Sarah.


Sebuah konflik tersirat tanpa sadar terjadi pada hubungan Raka-Nadya-Sarah. Nathan yang memang selalu menjadi yang paling peka, sebenarnya sudah melihat apa yang akan terjadi dengan mereka. Diam-diam, cowok itu pun hanya bisa membantu Raka dari belakang, tanpa siapa pun mengetahuinya.

Caraka menelan ludah. Kata-kata Nathan menghujam tepat ke sasaran.

"Aku pernah bilang, kan, suatu saat, kamu akan melakukan sesuatu yang lebih sadis daripada yang kulakukan," tambahnya. "Lihat sekarang."


Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.

—-Let Go—-

Sebenarnya aku sudah pernah me-review novel ini di goodreads. Tetapi, karena sudah sulit mencarinya, aku akan menulisnya lagi di sini.

Firstly, let me to tell you that I have some personal story with this book; ini adalah novel Gagas Media pertama yang kubeli juga kubaca, dan akhirnya menjadi pengawal cerita yang membuat Gagas Media menjadi penerbit favoritku. Sampai sekarang.

Seperti kata Kak Windhy, cerita dalam novel ini bisa dibilang ‘slow-pop’. Kita dibawa kepada para tokoh khas remaja dan masalah-masalah sederhananya.

Yeah, novel ini memang sederhana.

Ya, diksinya. Ya, alurnya. Ya, konfliknya. Namun, aku menemukan pesan yang begitu dalam di novel ini, yang mungkin tidak dapat kutemukan pada novel-novel lainnya. Kak Windhy membuatku percaya, bahwa penulis cerdas bukan hanya dilihat dari tutur setiap kalimatnya yang begitu tinggi dan sukar dimengerti. Tetapi, dari setiap makna dan pesan yang tersirat di dalam tulisan itu sendiri.

I love the character so much! Mostly, Caraka. Aku suka sifatnya yang kelewat baik dan tidak macam-macam. Sederhana namun mematikan :p

Oh, ya. Aku suka hint-hint dialog Raka dan Nadya di sini. I love the way Raka and Nadya feels enjoy theirself each other. Aku suka pertemuan-pertemuan manis mereka. Pokoknya aku suka ada Raka dan Nadya di novel ini. Bahkan, adegan confession Raka di novel ini adalah adegan yang PALING SERING kubaca ulang. Karena kupikir, mereka manis sekali:’)

Overall, I really like it. Di samping penulisan Kak Windhy yang terkadang keseleo memakai kata ‘kau’ atau ‘kamu’, novel ini menjadi salah satu novel favoritku. Indeed!

So, when your next project will be publish, Kak Wind? Can’t wait, lho;p

Sign,
Hidya