Followers

Tampilkan postingan dengan label recommended novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label recommended novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Desember 2013

[Book Review] Let Go by Windhy Puspitadewi


Judul: Let Go
Penulis: Windhy Puspitadewi
Penerbit: Gagas Media


4 of 5 stars

Caraka Pamungkas. Kelas X. Baru saja menginjak SMA selama empat bulan, namun sudah dua kali membuat onar karena berkelahi.

Raka—panggilan akrab Caraka, adalah seorang remaja laki-laki yang selalu berbuat sesuatu tanpa harus repot-repot berpikir terlebih dahulu. Karena kecerobohannya serta sikapnya yang tanpa sadar selalu ikut mencampuri orang lain itu, Raka dihadapkan dengan sebuah hukuman mengurus mading sekolah bernama Veritas yang mengharuskannya mengenal Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang teman sekelasnya yang memiliki kepribadian rumit yang berbeda-beda. Buka hanya itu saja, Raka pun harus menelan kenyataan pahit bahwa dua di antara orang itu benar-benar bersikap menyebalkan terhadapnya.

“Satu ruangan dengan Zombie berlidah tajam, Ratu Salju, dan si cengeng penakut itu, entah kenapa bikin jarum jam terasa nggak bergerak ke mana pun.”


Selama beberapa waktu, Raka merasa hidupnya sangat menjengkelkan. Terus menerus berhadapan dengan Nathan yang sangat membencinya, Nadya yang begitu sinis dan menganggap dirinya selalu bisa melakukan semua hal, serta Sarah yang terlihat begitu rapuh dan pemalu.

Sampai akhirnya, sebuah peristiwa membuat Raka mengetahui rahasia besar Nathan yang menjadi alasan laki-laki itu selalu bersikap dingin kepada semua orang. Lalu, sebuah kebetulan manis yang terus-menerus terjadi di antara ia dan Nadya, membuatnya tanpa sadar telah lebih dekat dengan gadis itu. Perlakuan terlalu baiknya kepada Sarah pun memiliki efek yang tidak Raka ketahui dirasakan oleh gadis pemalu itu.

“Semua orang bisa bersikap seolah-olah mereka berumur panjang kayak kamu ini,” kata Nathan sambil tersenyum sinis.
“Sebenarnya, kamu nggak perlu repot-repot menolongku.” kata Nadya dalam perjalanan.


"Aku lupa," jawabnya kemudian. "Aku lupa kamu juara judo. Yang ada dipikiranku, cuma kamu itu cewek, sisanya badanku bergerak sendiri."

Nadya terdiam, tetapi kemudian Caraka merasakan samar-samar tangan Nadya menyentuh punggungnya.
“Makasih, ya….”


Cara mengangkat bahu. “You are welcome.”

"Apa yang sudah kamu lakukan sangat berarti buatku," kata Sarah.


Sebuah konflik tersirat tanpa sadar terjadi pada hubungan Raka-Nadya-Sarah. Nathan yang memang selalu menjadi yang paling peka, sebenarnya sudah melihat apa yang akan terjadi dengan mereka. Diam-diam, cowok itu pun hanya bisa membantu Raka dari belakang, tanpa siapa pun mengetahuinya.

Caraka menelan ludah. Kata-kata Nathan menghujam tepat ke sasaran.

"Aku pernah bilang, kan, suatu saat, kamu akan melakukan sesuatu yang lebih sadis daripada yang kulakukan," tambahnya. "Lihat sekarang."


Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.

—-Let Go—-

Sebenarnya aku sudah pernah me-review novel ini di goodreads. Tetapi, karena sudah sulit mencarinya, aku akan menulisnya lagi di sini.

Firstly, let me to tell you that I have some personal story with this book; ini adalah novel Gagas Media pertama yang kubeli juga kubaca, dan akhirnya menjadi pengawal cerita yang membuat Gagas Media menjadi penerbit favoritku. Sampai sekarang.

Seperti kata Kak Windhy, cerita dalam novel ini bisa dibilang ‘slow-pop’. Kita dibawa kepada para tokoh khas remaja dan masalah-masalah sederhananya.

Yeah, novel ini memang sederhana.

Ya, diksinya. Ya, alurnya. Ya, konfliknya. Namun, aku menemukan pesan yang begitu dalam di novel ini, yang mungkin tidak dapat kutemukan pada novel-novel lainnya. Kak Windhy membuatku percaya, bahwa penulis cerdas bukan hanya dilihat dari tutur setiap kalimatnya yang begitu tinggi dan sukar dimengerti. Tetapi, dari setiap makna dan pesan yang tersirat di dalam tulisan itu sendiri.

I love the character so much! Mostly, Caraka. Aku suka sifatnya yang kelewat baik dan tidak macam-macam. Sederhana namun mematikan :p

Oh, ya. Aku suka hint-hint dialog Raka dan Nadya di sini. I love the way Raka and Nadya feels enjoy theirself each other. Aku suka pertemuan-pertemuan manis mereka. Pokoknya aku suka ada Raka dan Nadya di novel ini. Bahkan, adegan confession Raka di novel ini adalah adegan yang PALING SERING kubaca ulang. Karena kupikir, mereka manis sekali:’)

Overall, I really like it. Di samping penulisan Kak Windhy yang terkadang keseleo memakai kata ‘kau’ atau ‘kamu’, novel ini menjadi salah satu novel favoritku. Indeed!

So, when your next project will be publish, Kak Wind? Can’t wait, lho;p

Sign,
Hidya

Rabu, 10 Juli 2013

Review: NOTASI By Morra Quatro

Judul: NOTASI
Penulis: Morra Quatro
Penerbit: GagasMedia
Harga: Rp. 43.000
5 of 5 stars
Sinopsis:
Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu....

Pertama kali baca ulasannya digoodreads ataupun media review lainnya, aku tahu novel ini memiliki 'kasus' yang sama dengan FORGIVEN. Kalau FORGIVEN lebih ke sci-fi, NOTASI like a...historical fiction--genre fiksi cerdas yang akhir-akhir ini menarik perhatianku dibandingkan dengan kisah romance yang 'biasa-biasa aja'.

But, fortunately, yet. Kenapa endingnya juga harus kayak gini:''') ini seolah menguak luka lamaku atas Will. Hingga akhirnya berpikir, bahkan sampai Nino pun nggak kesampean:') this takes my tears so much!

But, ada beberapa hal yang akhirnya kusimpulkan. Cerita ini nggak akan se-greget ini kalau endingnya nggak seperti ini. Kak Morra selalu tahu bagaimana menempatkan cerita sad ending namun tetap terlihat happy ending--meski menurutku tidak, sih. Hahaha. Tapi yang aku cari bukan endingnya kok, tentu saja. Dan teman-teman yang baca ini pun pasti tahu sekelumit ending yang kurang menyenangkan disini seolah terbayar dengan keseluruhan cerita cerdas ini.
Seperti yang aku bilang--cerita ini memiliki 'kasus' yang sama dengan FORGIVEN. Bukan 'kasus' dalam arti yang sebenarnya. Tapi seperti alur, kerangka, bahkan prolog-epilog yang mengingatkanku pada novel pertama Kak Morra itu. Hanya saja disini bukan Will dan segala fisikanya. Disini ada Nino-Nalia dengan sejarahnya (dan juga teknik sebagai latar belakang Nino). Aku suka tema reformasi yang diangkat dalam cerita ini. Tentang orang-orang pada masa itu dan juga pemerintahannya yang sangat terkenal. Juga mahasiswa-mahasiswanya yang membuatku merinding sendiri. Dan kisah antara Nino-Nalia membuatku sadar, pasti ada cinta seperti itu ditengah-tengah masanya. Merinding. Aku ingat, di SMA aku sangat tidak menyukai pelajaran sejarah. Satu-satunya pelajaran sejarah yang kuingat ya hanyalah reformasi karena saat itu aku pernah ditugaskan membuat presentasi tentang masa reformasi dan tetek bengeknya. Maka, novel ini seolah mengingatkanku kembali saat-saat guru sejarahku berdiri didepan kelas dan menerangkan tentang Elang dkk yang terbunuh, ataupun orang-orang yang menghilang begitu saja di masa itu. Untuk Kak Morra, terimakasih telah mengangkat tema ini dengan penuh emosi. Dan aku akan selalu memberi seluruh stok jempolku untung pembawaan emosi yang selalu berhasil dibentuk oleh Kak Morra dari tulisan-tulisannya.

Aku sudah sering membaca novel-novel berlable 'sad ending', tetapi aku tak pernah ingin memilikinya. Semua novel berlable itu kubaca dari hasil pinjam atau pun googling book atau bahkan curi-curi baca ditoko buku. Tetapi novel ini telah menyelip diantara semua novel happy ending yang kupunya. Dan aku tak menyesal.

Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku akan selalu menunggu novel-novel karya Kak Morra selanjutnya. Dan aku harap, tak kalah cerdas dari novel ini ataupun FORGIVEN.