Followers

Tampilkan postingan dengan label hidya's. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidya's. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

Klandestin


                Perkenalan pertama tak ubahnya remaja pada umumnya. Di sebuah tempat khusus kursus bahasa Jepang, entitas adam dan hawa saling menemukan pandangan di antara berpuluh-puluh makhluk sejenisnya. Netra hitam dan cokelat. Senyum dikulum dan cengiran lebar.
                Kemudian, keduanya menjadi sahabat.
                Pertemuan keseratus terjadi setelah puluhan pertemuan sebelumnya, pada detik-detik terakhir mereka menjalankan kursus. Senyum dan tawa masih setia mengiringi keduanya. Pertemanan berjalan statis. Semakin hari semakin intim. Ketulusan selalu terlihat di kedua pasang mata itu. Yang pria melindungi, yang gadis melengkapi. Terlihat seperti, persahabatan yang sempurna.
                Hanya saja, tanpa siapa pun tahu, yang gadis diam-diam mencinta.
                Di hari keseratus duapuluh mereka menginjakan kaki ke Tokyo, untuk pertama kalinya. Berdua saja, sebuah vakansi yang telah terencana semenjak satu bulan lalu. Gadis itu, tentu saja, tak dapat menyembunyikan rona-rona bahagianya. Si pria juga tersenyum, tetapi dengan alasan yang berbeda.
                Saat itu, tepat di mana senja mulai hilang. Langit musim semi menggelap bersama aroma pohon yang perlahan menguap. Keduanya duduk bersisian di bawah pohon sakura yang mekar sempurna. Merah mudanya menggelap, sesekali terlihat bersinar di bawah bulan yang mulai mengintip.
                “Aku ketemu teman lama tadi.”
                Yang pria membuka percakapan. Jari-jemarinya sesekali memainkan sejumput rumput di bawahnya. Si gadis menggumam pelan, memintanya untuk meneruskan.
                “Dia … alasan aku kenapa kepingin liburan ke sini.”
                Bersama angin malam yang semakin dingin, sesuatu dalam hati gadis itu berdentum menyakitkan.
                Si pria masih berbicara. Kali ini tentang cintanya pada si teman lama. Matanya memburam, setetes air mata jatuh di antara kegelapan malam.
                Ah, ia terjebak. Bersama cintanya yang klandestin.
a/n: story only 250 words. Dedicated for #PestaFF :)

Kamis, 03 Juli 2014

[Book Review] Melbourne: Rewind by Winna Efendi



Judul              : Melbourne: Rewind
Penulis            : Winna Efendi
Penerbit          : GagasMedia
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku    : 328 halaman
Rating             : 5 of 5 stars



Max dan Laura, kembali bertemu setelah beberapa tahun lamanya berpisah dengan menyandang gelar mantan kekasih. Mereka pernah saling jatuh cinta. Lelaki pengagum cahaya serta gadis pecinta musik aneh.
Suara Laura yang Max dengar melalui siaran radio tengah malam itulah, yang akhirnya kembali memertemukan mereka berdua. Seolah meng-klik tombol Rewind kasat mata yang kembali mengulang kebersamaan mereka. Namun untuk kali ini, tanpa embel-embel cinta.
“Dia berdiri di hadapanku, masih dengan lekuk senyum yang sama, tatapan mata berbinar yang sama, cara berdiri yang sama—kedua tangan dalam saku, dengan bahu sedikit membungkuk.” (Laura)
“Sekarang, dia ada di sini, di hadapan gue, tersenyum dan berbicara mengenai apa saja, seperti malam-malam kami di Prudence, enam tahun yang lalu.” (Max)
Keduanya secara alami terus kembali berhubungan setelah malam itu. Menyamankan diri sebagai sepasang sahabat—tak lebih. Saling berbagi seperti Max dan Laura enam tahun silam.
Seluruhnya hampir terus berjalan dengan baik sampai akhirnya Max menyadari bahwa perasaan yang ia miliki pada Laura saat itu ternyata masih sama seperti beberapa tahun silam. Ia tetap mencintai Laura. Namun, Max terus bertahan dengan kedekatan mereka tanpa ia harus mengatakan perasaan tersebut pada Laura.
Lalu, Evan hadir. Lelaki ramah yang merupakan kekasih dari Cee—sahabat Laura. Max menyadari sebuah ketertarikan tak terlihat di mata Laura pada lelaki itu, walau Laura berusaha menyembunyikannya dan terus menyimpannya rapat-rapat. Perasaan Max pun tak dapat dibendung lagi, saat akhirnya ia mengutarakan tentang perasaannya yang masih ‘bertahan’ pada Laura.
I love you, Laura. Damn it, I love you even now. But you’re making things difficult for me to love you properly.” (Max)
“Hubungan kami berbeda, ekspetasi kami berbeda, hidup kami berbeda. Gue nggak ngerti apa yang dia harapkan dari gue, Cee. And it’s hard to say friends that way.” (Laura)
Dan di sinilah akhirnya mereka, terjebak pada sebuah perasaan absurd tak berujung. Saat mereka tak dapat kembali ke masa lalu, hanya untuk merubah sebuah analogi yang tak diinginkan.



It’s a coolest novel I’ve ever read.
Novel ini merupakan seri proyek STPC yang dibuat oleh GagasMedia. Dan, kali ini, Melbourne sebagai latar tempatnya.
Aku selalu suka dengan cara Kak Winna menuliskan cerita-ceritanya. Bagaimana diksi sederhana dapat menjadi satuan kalimat yang indah dan membekas. Bagaimana sebuah cerita sederhana, dapat menjadi sebuah cerita yang kuanggap excited.
Seperti kata Laura dalam ceritanya; “Kami bertemu, kami saling jatuh cinta, kami berpacaran, kami putus, kami move on. Sesederhana itu.”
Dan cerita ini memang as simple as that.
Namun, Kak Winna mampu membawa para pembacanya merasakan segala kesederhanaan itu menjadi sebuah cerita yang indah untuk dibaca. Aku bahkan tidak segan-segan memberikan Melbourne bintang lima. It’s so cool. Aku suka Max dan Laura. Suka segala obsesi Max pada cahaya, juga obsesi Laura pada lagu-lagu anehnya.
Setiap bab di novel ini menyerupai judul lagu. Kak Winna juga menyertakan daftar playlist keenambelas lagu-lagu itu (yang akhirnya ku download dan sekarang menjadi playlist favoritku). So, kita dapat membaca setiap bab dalam novel ini diiringi lagu-lagu tersebut.
Pokoknya, ini novel sederhana yang keren. So damn cool! Dan, aku tidak akan protes soal ending-nya ;p
I’ll always waiting for Kak Winna’s next project!
Sign,
Hidya Nuralfi Mentari (@hidyanuralfi)

Rabu, 02 Juli 2014

[Book Review] Always, Laila by Andi Eriawan

Judul: Always, Laila
Penulis: Andi Eriawan
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 240 lembar
Tahun Terbit: Cetakan I 2005, Cetakan II 2013

5 of 5 stars

Where is my Pram? :’’((

Dulu, aku sempat baca novel ini di google books. Masih versi cover lama dan hanya bisa baca sampai halaman 46. Kemudian novel ini cetak ulang, dan itulah yang aku sesali saat ini karena tidak membelinya secepat mungkin. Kalau seseorang nggak ngasih novel ini ke aku (thanks to Klara :’)) aku yakin aku juga nggak akan pernah bisa menyelesaikan novel ini.

Aku nggak tahu di bagian mana yang spesial dalam novel ini. Yang aku rasakan hanya kesederhanaan di setiap bagiannya. Cerita, diksi, penokohan, percakapan antartokoh, penggambaran para tokoh. It’s too simple. Tapi menurutku, di sanalah kekuatan dalam novel ini. Sederhana.

Namun indah.

Karakternya terasa sangat-sangat nyata. Pram dan Laila. Aku nggak tahu, apa setiap penulis laki-laki selalu dapat menggambarkan kesederhanaan cara menulisnya seperti ini? Nggak berlebihan, pas. Really good. Dan, aku sama sekali nggak menemukan kontak intim antara Pram dan Laila di sini. Ah, mereka pacaran sudah bertahun-tahun. Lebih dari tujuh tahun dan kontak terintim yang Pram berikan pada Laila adalah mengusap kepala? Lol? No, that’s sooooooooo sweet :’) manis. Nggak perlu ciuman, pelukan, pegangan, tetapi aku dapat menangkap seberapa besar mereka mencintai pasangannya satu sama lain. Oh ya, aku juga suka cara penyajian alurnya yang maju-mundur. Kita seperti diajak menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya. Dan ketika mencapai ending, aku benar-benar merasa semua pertanyaan-pertanyaanku yang terus tersirat sepanjang aku membaca, akhirnya terjawab. Yaampun, nggak tahu lagi mau marah atau excited disodorin cerita ini :’ Kak Andi, kenapa memutuskan untuk berhenti menulis? :’)

Akhir-akhir ini bacaanku adalah novel-novel sekelas metropop, yang tokoh-tokohnya benar-benar metroseksual. Cenderung banyak menemukan adegan menjurus di novel-novel yang kubaca sebelumnya, karena kupikir sekarang adegan seperti itu sudah biasa. Dan … membaca ini seperti sebuah sapuan angin lembut yang menghantam wajahku. Damai, nyaman, tenang. Tapi spesial. Dan nyatanya, aku menikmati novel ini lebih dari aku menikmati novel-novel yang kubaca sebelumnya.

Haduh, nggak sanggup mereview ceritanya. Pokoknya, too good :’) dan, Pram, kuharap kamu bisa kembali bereinkarnasi dan kali ini datang ke aku :’’)) really, selalu bayangin enaknya punya pacar yang selalu mengungkapkan perasaannya lewat puisi. That’s one of my destiny.

Intinya, ini sangat-sangat jauh melebihi ekspetasiku. Satu lagi list novel favorit dengan cap ‘sad ending’. But, really good ending.

(ini ampek sembab T.T)

Amazing. 5 of 5 stars :)

[Book Review] London: Angel by Windry Ramadhina

Judul: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 330 lembar
Tahun Terbit: 2013

4 of 5 stars

...
"Aku akan mengejar Ning ke London!"
...

Gilang, pemuda Indonesia yang berprofesi sebagai penulis amatir telah bertahun-tahun memendam perasaan kepada Ning--sahabatnya. Malam itu, di antara bergelas-gelas Jack Daniel's yang membuatnya mabuk, ia menandaskan ide gila bin sinting tersebut. Pergi ke London. Menemui Ning. Untuk mengungkapkan perasaannya.

...
Sebagai seorang penulis, terlebih aku adalah seorang penulis roman, seharusnya aku tahu hal utopis semacam 'mengejar gadis ke London atas nama cinta' hanya berjalan lancar dalam kisah-kisah fiksi.
...

Namun, usahanya menemui Ning dan memberikan kejutan pada gadis itu tidaklah semulus yang Gilang bayangkan. Berhari-hari ia mendapati apartemen yang Ning tempati kosong. Berhari-hari pula ia menghabiskan waktu tak tentu arah mengelilingi London sembari menunggu Ning kembali.

Tanpa disangka, perjalanannya itu membawa Gilang bertemu pada seorang wanita cantik yang ia temui di bawah rintik hujan. Bermata biru indah, berambut ikal gelombang keemasan, dengan senyum memesona yang begitu sempurna. Ia memanggilnya Goldilocks. Berkali-kali ia bertemu dengannya, namun anehnya: Goldilocks selalu muncul saat hujan mulai datang dan pergi saat hujan berhenti. Wanita cantik itu hanya meninggalkan sebuah payung merah yang tanpa Gilang ketahui--akan berperan banyak dalam hidup orang-orang di sekitarnya.

...
"Kau lucu,"

"Terima kasih. Kau misterius."

"Misterius?"

"Ya. Kau muncul tiba-tiba, pergi tiba-tiba. Sangat misterius."
...

Gilang juga bertemu dengan orang-orang berkepribadian unik seperti Ed, Madam Ellis, Mister Lowesley, dan Ayu--gadis maniak buku yang juga berasal dari Indonesia

Saat akhirnya Gilang bertemu dengan Ning, ada pergolakan hati yang muncul pada diri pemuda itu. Bagaimana kalau ternyata Ning menolaknya? Bagaimana kalau ia selama ini bertepuk sebelah tangan? Bagaimana kalau ... selama ini Ning memang hanya menganggapnya sebagai sahabat--tak lebih.

...
"Sejak lama aku menginginkanmu. Enam tahun, atau mungkin lebih dari itu. Bukan sebagai sahabat."
...

Di sela kemelut pikirannya tentang Ning, bayangan Goldilocks yang selalu hadir di saat hujan terus menghantuinya. Ia penasaran. Ia ingin tahu. Dan ia ingin bertemu lagi dengannya. Maka Gilang pun terus mencarinya.

...
"Kau tidak perlu mencarinya. Kau cuma perlu berdoa agar hujan turun."
...

Dan saat akhirnya mereka bertemu, tak pelak ada begitu banyak hal yang telah terjadi berkat keajaiban-keajaiban yang dibawa oleh Goldilocks. Membuat Gilang terus-menerus bertanya,

Siapa sebenarnya wanita itu?

.
.
.

It's my first time read Kak Windry's book. Aku juga punya Memori, Montase, dan Everlasting Love yang berisi tulisannya. Tetapi entah kenapa, aku memilih London menjadi novel pertama Kak Windry yang kubaca. Mungkin karena kabarnya novel ini akan difilmkan?

My first opinion ... beautiful. Kak Windry menulis dengan begitu indah dan cantik. Dengan kekayaan diksi yang begitu indah juga. Bahkan aku seperti merasa membaca buku terjemahan. Semuanya terasa pas. Aku juga suka karena judul-judul buku bertebaran di sini. Memperlihatkan bahwa pengetahuan Kak Windry tentang buku dan dunia kesusastraan klasik lumayan luas :))

Overall, lagi-lagi aku suka dengan sub tema sahabat jadi cinta di sini. Jujur, tema itu membuatku lebih semangat membaca novel ini. Hanya saja, aku kurang sreg dengan tema utamanya. Terlebih karena ini memakai point of view seorang laki-laki (aku tipe pembaca yang lebih mudah bersimpati pada tokoh utama perempuan). Jadi, ya, ada beberapa hal yang masih kurang dapat kunikmati.

Oh ya, keapikan Kak Windry menyambungkan benang-benang cerita juga mengagumkan. Aku suka bagaimana di sini, ia membuat sebuah payung merah milik Goldilock akhirnya menjadi sesuatu yang berperan penting pada orang-orang di sekitar Gilang. Tapi aku kurang puas mengenai penjelasan Goldilocks. Sampai akhir aku tidak menemukan penjelasan yang melegakan atas siapa sebenarnya dia.

Dan endingnya! Oh My God! :''")) bukan ending yang kuharapkan, sih. Tapi di tengah cerita aku sudah 'sempat' menebak walau sedikit.

Tapi overall suka, kok. Suka dengan gaya penulisannya yang mengalun. Mengalir. Cuma kurang greget xP Sepertinya aku akan dengan senang hati mencoba karya Kak Windry yang lainnya :)

4 of 5 stars

[Book Review] Love Lock by Pia Devina

Judul: Love Lock
Penulis: Pia Devina
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 304 lembar
Tahun Terbit: 2014

4 of 5 stars

Kak Pia, sukaaa♥♥♥

Ini pertama kalinya aku baca novel Kak Pia setelah hampir setahun kenal lewat grup metropop (padahal udah ada beberapa novelnya yang terbit sebelum ini xP). Dan aku suka Love Lock ini :)

Terutama cara pendeskripsian tempat-tempat di novel ini. Nggak ngerasa didikte. Aku malah sangsi, jangan-jangan Kak Pia pernah ke Cologne? *nahloh* karena pendeskripsiannya nyata banget. Seolah penulis memang pernah datang ke sana. Sampe hal-hal kecilnya pun terasa nyata. Dan rasa-rasanya, membaca novel ini seperti membaca salah satu novel dalam proyek STPC-nya gagas. Apalagi ditambah ilustrasi-ilustrasi cantiknya itu.

Pokoknya, good job, Kak Pia^^ Jerman-nya terasa, meskipun ada beberapa hal yang dirasa kurang ngena, tapi overall suka banget :)

Lancar buat proyek-proyek yang sedang dan akan dilaksanakan, Kak. Doain aku semoga bisa nyusul Kak Pia jadi seorang [certified] writer xP *aamiiiiiin* hehehehe.

[Book Review] Bangkok: The Journal by Moemoe Rizal

Judul: Bangkok: The Journal
Penulis: Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 436 lembar
Tahun Terbit: 2013

5 of 5 stars

Edvan Wahyudi adalah seorang arsitek muda yang bisa dibilang tengah berada dalam puncak karir. Sepuluh tahun meninggalkan keluarga demi keegoisan dan kekeraskepalaannya sendiri, tiba-tiba saja Edvin--sang adik, membawa kabar buruk yang seolah menghantam Edvan tepat di jantung.

Bahwa Ibunya baru saja meninggal.

Hal tersebut mau tak mau membawa Edvan ke dalam sebuah fragmen non-logis yang terjadi padanya. Pertama, sang adik laki-laki--Edvin, kini telah tampil berbeda dengan menjadi seorang transgender. Ia bukan lagi adik laki-laki Edvan, namun sudah berubah menjadi perempuan cantik nan memesona bernama Edvina.

'Edvin yang kutahu adalah laki-laki. Aku mengajarinya main layangan. Aku mengajarinya main kelereng. Aku pipis bareng Edvin, dan kami pipis berdiri. Bahkan, aku menjadikannya Robin (sementara aku Batman).'

Kemudian, sebuah wasiat Ibunya yang meminta Edvan mencari tujuh jurnal yang berada di Bangkok. Jurnal-jurnal itu dikatakan akan menjadi peta di mana nantinya ia dapat menemukan warisan Ibu dan Ayahnya.

"Semua jurnal ini tersebar di Bangkok, Thailand. Ibu cuma pengin Kakak mengumpulkan semua jurnal itu, merangkaikan, dan menemukan warisan Ibu dari situ."

Dengan hati dongkol dan terheran-heran mengapa dirinya menyanggupi permain 'pencarian jurnal' konyol itu, akhirnya Edvan berangkat ke Bangkok. Bersamaan dengan Edvina yang kebetulan akan mengikuti sebuah kontes kecantikan khusus waria di sana.

Dan, perjalanan itulah yang akhirnya mempertemukan Edvan dengan Charm, gadis Thailand cantik yang ramah dan sopan. Charm menjadi semacam tour guide Edvan selama ia berada di Bangkok atas saran dari seorang pramugari di pesawat yang ditumpanginya.

'She's the one whose I won't mind being kidnapped by. Hahaha.'

Sejak pertama kali bertemu Edvan memang sudah tertarik dengan segala sifat menyenangkan Charm. Namun ia tak pernah menyangka kalau pada akhirnya prinsip witing tresno jalaran soko kulino akan menyambanginya. Ia jatuh cinta pada Charm.

'Berani mengambil hati seorang arsitek? Jangan protes kalau rumahmu mendadak lebih bagus dari sebelum bertemu aku.'

Namun, ternyata Charm tidak mudah untuk dijadikan sebuah objek jatuh cinta. Gadis itu terus-menerus mengatakan pada Edvan bahwa laki-laki itu tidak seharusnya jatuh cinta padanya. Ada banyak hal misterius tentang Charm yang tak Edvan mengerti.

Selain itu, jurnal-jurnal yang lain masih menunggu untuk ditemukan. Ada misteri apa sebenarnya di antara jurnal-jurnal yang tersebar di dataran Bangkok itu? Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Ibu Edvan melalui jurnal-jurnal tersebut?

Dan ... mengapa semakin hari Charm terlihat semakin pucat?

"Hidup ini indah, Khun, sebenarnya. Kalau aku punya kesempatan lebih, aku ingin menikmati dunia ini sambil menciptakan kenangan indah untuk orang-orang di sekitarku."

---Bangkok: The Journal---

Cool, wonderful, beautiful, and meaningful.

Ada banyak hal yang sangat aku sukai dalam novel ini. Pertama, diksi yang dipakai Kak Mumu, semacam gaya bahasa ceplas ceplos khas cowok tapi tetap mengandung arti yang jleb-jleb. Lalu, percakapan-percakapannya yang kocak tapi cerdas. Entah kenapa aku sangat sangat suka dengan percakapan itu. Rasanya keren aja gitu. Kemudian, deskripsi tempat-tempatnya. I don't know apa Kak Mumu sudah pernah pergi ke Bangkok apa belum, yang jelas pendeskripsian tempat di dalam novel ini sangat detai dan nyata. Laluuu, para tokohnya. Edvan, Edvin(a), Charm, Max, Stevan, Monyakol, Kanok, para Miss Waria, Noi, Apsara, dan tokoh-tokoh lainnya dalam novel ini benar-benar menghidupkan cerita. Unik. Dan karena macam-macam sifat unik mereka itulah akhirnya novel ini menjadi sangat menarik.

Selama membaca, entah kenapa aku nggak bisa ngelepas pikiranku yang menyatakan kalau Edvan ini Kak Mumu banget. Nggak ngerti, lah, tapi sepanjang cerita aku membayangkan Edvan ini ya Kak Mumu (dear Kak Mumu, kalau lihat jangan geer yaw xP)

Oh iya, aku juga suka karena ada beberapa bab dalam novel ini yang judul bab-nya diambil dari judul-judul novel Kak Mumu yang sebelumnya (Fly to The Sky, Jump, Outrageous). Dan sebenarnya kepingin nanya, kenapa Oh, Baby dan Satu Cinta Sejuta Repot nggak dimasukin juga xD

Pokoknyaaa suka. Isu transgender dan Ibu ini benar-benar nusuk. Meaningful. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel ini. Aku masih speechless, kok bisa ya Kak Mumu kepikiran bikin novel dengan ide kayak gini? Cool!

Karena bingung mau ngomong apa lagi, intinya novel ini merupakan paket lengkap. Karena cerita yang tertuang tidak hanya melulu soal cinta. Ada banyak hal. Dan semua itu bisa kita pelajari. Keluarga, persahabatan, prinsip, menjadi diri sendiri, sosial, kebudayaan, etc, etc, etc...

So, Kak Mumu, you're cool! :3

[Book Review] Montase by Windry Ramadhina

Judul: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Tebal Buku: 368 halaman
Tahun Terbit: 2012

4 of 5 stars

"Suteki da ne? Kono raifu."

Saya suka Haru Enomoto. Mengingatkan saya pada Haruno Sakura--salah satu character perempuan di manga Naruto. Dan Kak Windry menggambarkan Haru di sini begitu natural. Polos, innocent, energik, ceria, lincah, ceroboh, sekaligus rapuh.

"Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?"

Saya juga suka tentang seni perfilman. Entah kenapa itu selalu menarik perhatian saya, meskipun saya sebenarnya sangat buta mengenai itu. (padahal saya sempat mempelajari sinematografi dan membuat beberapa film pendek bersama teman-teman saya saat SMA).

"Kita hidup tidak selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan."

Dan ... saya juga suka Rayyi. Meskipun ada beberapa sisi dari dirinya yang saya anggap kurang gentleman. Tapi saya suka. Kak Windry sudah berhasil menjadi 'laki-laki' dalam buku ini.

Yeah, like I said before, sad ending always win my heart.

Meskipun ini nggak sad sad banget sih pada akhirnya :')

[Book Review] Paris: Aline by Prisca Primasari

Judul Buku: Paris: Aline
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 224 lembar
Tahun Terbit: 2013

5 of 5 stars

"Jadi, kemarin, dia mengajakku bertemu di salah satu tempat paling berhantu di Paris."

Aline Ofeli, seorang gadis Indonesia yang tengah menempuh pendidikannya di Paris, pada suatu hari menemukan sebuah pecahan porselen. Karena menurutnya porselen tersebut merupakan sebuah benda yang 'tidak murah', akhirnya Aline memutuskan untuk menyatukannya kembali dengan lem, kemudian menyimpannya.

Dalam porselen tersebut tertulis nama 'Aeolus Sena' yang kemudian Aline hubungi lewat alamat email yang ia dapatkan dari pencariannya di internet.

Tanpa disangka, Sena membalas pesannya dan memintanya bertemu di sebuab tempat bekas penjara bernama Place de la Bastille. Yang mana merupakan salah satu tempat terangker di Paris. Dan Sena memintanya bertemu pada pukul 12 malam!

Namun, betapa kesalnya Aline karena ternyata Sena tidak menepati janjinya. Lelaki itu tidak datang dan menyusun ulang pertemuan mereka keesokan harinya. Di tempat yang sama dan jam yang sama!

Namun, lagi-lagi, Sena tidak datang menemui Aline.

"Aku punya dugaan kuat kalau si Aeolus Sena ini punya masalah."

Akhirnya mereka pun kembali menyusun pertemuan. Kali ini di tempat yang berbeda dan siang hari. Mereka pun bertemu.

Tapi Aline merasakan sebuah kejanggalan dalam diri Sena. Di balik sikapnya yang konyol dan meledak-ledak, tersimpan sebuah kemisteriusan di sana.

"Sebelum ini, aku tak pernah benar-benar menemui hal yang mengundang tanda tanya. Terkadang, memang aku bereaksi berlebihan terhadap seauatu--lampu mati atau dompet yang tertinggal di rumah atau rasa sup yang kurang pas. Namun, semua masih dalam koridor normal dan terjelaskan.

Sampai aku bertemu laki-laki ini.

Sejak aku bertemu dengannya, yang terjadi hanyalah hal-hal aneh dan teka-teki."

Segala misteri dan teka-teki pun bergulir. Tentang Sena yang bekerja di sebuab tempat reparasi mesin tik, tentang Sena yang muncul tiba-tiba dan hilang tiba-tiba, tentang Sena yang mengajaknya ke sebuah tempat-tempat aneh dan misterius, tentang Sena yang melakukan sebuah kerjasama dengan Ezra--senior yang tinggal di sebelah kamarnya.

Ya, Ezra yang ternyata juga menyimpan sesuatu terhadap Aline.

Aline pun semakin jauh masuk ke dalam kehidupan misterius Sena. Ia ingin mengenal lelaki itu. Semakin hari, ia semakin merasa sesuatu yang berbeda pada diri lelaki itu.

Lalu, sesuatu terjadi. Membawa Aline yang akhirnya mengetahui semua misteri di balik layar seorang Sena. Dan Aline ... harus menolongnya.

"Di sini, tidak semenyenangkan yang dikira orang-orang. Ada sudut-sudut tertentu yang lebih baik tidak dimasuki. Ada tipe-tipe orang yang lebih baik tidak dikenal."

-----Paris: Aline-----

Saya suka Aline Ofeli, saya suka Aeolus Sena, saya suka Ezra Yoga, dan ada banyak hal lain yang saya sukai dalam novel ini.

Termasuk alur dan ide ceritanya. Saya rasa, isi keseluruhan cerita dalam novel ini sangat cantik. Berbeda dan unik. Sejak awal, kemunculan Sena dan tetek bengeknya yang tidak biasa itu sudah berhasil menarik perhatian saya. Saya suka.

Ezra ... saya juga suka dia xD tenang, dingin, dan lembut. Saya jadi ikut tenang saat membaca bagian dia. Manis sekali :')

Begitu pula dengan hubungan antartokohnya, terutama Aline dan Sena. Pas dan tidak berlebihan. Meskipun, ya, saya memang merasa seperti masih ada yang kurang greget dalam novel ini, tapi saya tidak bisa mengelak kalau saya sangat-sangat suka dengan keseluruhan isinya.

Page-turner. Dan selesai hanya dalam sekali duduk. Saya memulainya tadi pagi, sekitar pukul setengah 7. Tadinya sama sekali tidak berniat untuk menyelesaikan sekaligus, tapi ternyata saya tidak bisa berhenti. Dan kurang lebih jam 10 tadi, saya baru mau berhenti. Setelah cerita menggoreskan 'The End' x)) mungkin karena novelnya tidak terlalu tebal juga kali, ya.

Tapi yang jelas, berdasarkan pandangan subjektif saya, sangat suka.

Jumat, 27 Juni 2014

[Book Review] By Your Side by Bulan Nosarios



Judul: By Your Side
Pengarang: Bulan Nosarios
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal Buku: 296 halaman
Harga: Rp. 60.000

|"Tak perlu meluruskan, orang-orang dengan sendirinya akan tahu mereka hanya teman. Dua orang sahabat yang terlalu susah dipisahkan."|


Kania dan Erga adalah sepasang sahabat yang menjalani segala hal dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki pandangan yang sama tentang satu sama lain. Kania adalah tipe pribadi pemikir, tak banyak bicara, selalu berpikiran logis, dan merencanakan segala tetek bengek kehidupannya. Sedangkan Erga adalah seorang pria yang memercayai bahwa hidup itu mengalir. Sebab hidup tak selalu harus direncanakan.

Erga mencintai Kania, tetapi ia tidak yakin apakah Kania juga mencintainya. Kania tahu Erga mencintainya, tetapi ia bahkan tidak tahu apakah hatinya siap menerima semua itu.


|"Tidak ada dalam rencananya untuk jatuh cinta saat cita-citanya masih jauh. Kania tidak berani menebak-nebak akan ke mana ujungnya hubungan ini."|


Bagi Kania, jatuh cinta bukanlah prioritas utama. Karena ada cita-cita yang selalu menjadi pemenang peran dalam kehidupannya. Ada banyak rencana-rencana masa depan yang harus Kania raih. Dan jatuh cinta pada Erga tidak ada dalam rencana hidupnya itu.


|"Kadang kala, perasaan tidaklah penting..."
"Lalu apa yang penting buatmu?"
"Masa depanku yang tidak diisi hal-hal absurd?"
"Bagaimana kalau memasukkan sedikit hal absurd ke dalam rencana hidupmu? Biar lebih berwarna..."|

|"Kita terbiasa merencanakan banyak hal yang mudah kita jalani, Kan. Tapi Tuhan membuat rencana supaya kita menjadi kuat. Sedikit hal yang tidak pasti, sedikit kepedihan, sedikit kebimbangan, begitulah hidup."|


Namun Erga tak bisa terus-menerus menunggu. Dan Kania tak bisa selamanya membohongi diri sendiri. Ada perasaan yang perlahan menyusup ke dalam kebersaman mereka. Yang kini menuntut lebih dari sekadar sepasang sahabat.

Dan, cinta yang Erga miliki untuknya pun rasanya masih belum cukup untuk Kania. Di samping cita-citanya yang sudah ia rencanakan rapi-rapi, belum ada hal yang mampu meyakinkan akan seperti apa nantinya cinta itu di masa depan.


|"Aku selalu menunggumu, Kan. Meski tidak pernah diberitahu sampai kapan aku harus menunggu."|

|"Kania percaya pada Erga, tapi ia tidak percaya pada waktu."|


Maka, sebuah keputusan pun dibuat Erga. Ia ingin pergi menjauh. Keluar dari zona nyamannya bersama Kania dan menjauhi kebersamaan mereka yang tenang. Dengan begitu, ia akan tahu, apakah ada kemungkinan-kemungkinan lain yang akan ia dapatkan di luar sana.

Apakah ada kehidupan yang ia cari--selain kehidupannya yang selama ini statis berjalan hanya di sekitar Kania.


|"Ada yang berdendang lebih harmonis di antara mereka. Sebut saja itu cinta."|


-----By Your Side-Bulan Nosarios-----


Ah, jatuh cinta dengan setiap kalimat yang tertulis. Plus kalimat penutup yang sangat manis.

Jujur saja, novel ini bukanlah sebuah novel dengan tema atau alur cerita yang luar biasa. Daripada dikatakan luar biasa, aku lebih senang menyebutnya sederhana. Karena tema, alur, bahkan konflik dalam novel ini begitu sederhana.

Tapi kesederhanaan itu membuatku jatuh cinta.

Dari awal, aku sudah tahu akan dibawa ke mana cerita ini sebenarnya--which is, so boring, karena ceritanya sudah 'tertebak'. Tapi aku tidak bisa merasa bosan. Karena setiap kata yang ditulis Kak Bulan di sini begitu memesona. Rasanya mencandu. Di samping itu, aku juga salah seorang pembaca yang sangat menyukai tema sahabat jadi cinta, jadilah buku ini menjadi sebuah kesatuan yang sempurna dalam pandangan subyektifku.

Aku suka semua isinya. Tema, tokoh, latar tempat, latar belakang profesi tokoh, dan segala gambaran scene-nya. Dan yang paling kusuka adalah bagaimana Kak Bulan membangun karakter para tokohnya dengan begitu kuat. Begitu pun dengan hubungan antartokoh yang begitu hangatnya. Tidak ada tokoh yang kubenci di sini. Sekalipun si tokoh yang ditempatkan untuk menjadi orang ketiga.

Potongan-potongan flashback di awal-awal cerita juga sama sekali tidak mengganggu. Meski terkadang ditaruh tanpa peringatan, tapi toh tidak membingungkan sedikitpun.

Dan dunia kedokteran memang selalu menarik untuk dibahas :) meskipun tidak terlalu banyak, tapi profesi dokter yang dimiliki Kania sedikit banyak mampu membuat cerita ini menjadi lebih menarik.

Kekurangannya hanya beberapa typo dan masih terdapatnya kalimat majemuk yang kutemukan beberapa. Tapi sama sekali tidak mengganggu cerita, sih, menurutku :D oh ya, juga di akhir-akhir cerita, antiklimaksnya kurang nendang xP karena jarak antiklimaks dan ending (menurutku) sangat cepat. Jadi terkesan terburu-buru.

Tapi kekurangan-kekurangan itu rasanya tidak terlalu berarti dibandingkan dengan keberhasilan Kak Bulan membawaku menikmati keseluruhan cerita. I want more! Encore! xD

Yang paling kukagumi, sih, pemakaian diksi Kak Bulan :'3 sumpah, adem banget. Rasanya tenang, mengalir, sampai-sampai hatiku ikut 'cekit-cekit' nyesek di sini :')

Dan itu yang membedakan novel ini dengan novel-novel bertema sama lainnya. Biasanya novel-novel lain itu akan bercerita tentang hubungan antarsahabat yang meledak-ledak. Light and sweet. Tapi di sini, kita akan menemukan cerita yang calm but sweet and heartwarming♥

Pokoknya terima kasih untuk Bang Ijul dan Kak Bulan yang sudah memberiku kesempatan menjadi salah satu teman #BacaBarengMinjul #ByYourSide with @fiksimetropop dan Kak Cinthya seminggu ini :)

Can't wait for your next sweet story, Kak Bulan xD

Jumat, 21 Februari 2014

My Writing Playlist



Sebenarnya, saat menulis atau membaca, saya akan lebih suka dengan suasana hening. Seperti saat membaca, beberapa orang mungkin akan lebih senang memasang earphone dan mendengarkan musik di telinganya seraya membaca. Hal ini jarang saya terapkan, karena saat saya mulai memutar lagu, saya akan kembali mematikannya karena merasa konsentrasi saya terpecah antara lirik lagu dengan ribuan kata yang sedang saya baca. Satu-satunya buku yang pernah saya baca diiringi dengan lagu adalah Melbourne: Rewind karya Winna Efendi. Itu juga karena dalam novel itu terdiri dari beberapa playlist lagu yang dijadikan judul pada setiap bab-nya. Jadi, demi menyelami cerita, saya mendengarkan lagu-lagu itu seraya membaca.
Untuk menulis, saya juga tidak selalu sambil mendengarkan lagu. Adakalanya suasana hening lebih bisa membuat saya berkonsentrasi dengan jalan cerita. Tapi, saya tetap memiliki beberapa writing playlist. Saya sebut writing playlist bukan karena lagu-lagu itu selalu saya dengarkan saat menulis, sih. Terkadang memang iya. Tapi lebih ke—saya akan langsung merasa ingin menulis saat mendengarkan lagu itu.
Dari ratusan daftar playlist yang ada dalam music player saya, ada sekitar 19 lagu yang masuk ke dalam my writing playlist. Dan ini dia daftarnya (urutan acak):

  1. 1     When You Love Someone – Endah n Resa
    Ini juga masuk ke dalam lagu favorit saya. Mellow dan sangat enak didengarkan saat kita tetap menginginkan suasana yang hening. Kalau biasanya saya mudah bosan terhadap sebuah lagu yang sudah terlalu sering saya dengar, tetapi tidak untuk lagu yang satu ini.
    2.       You and Me – Lifehouse
    Kenal lagu ini dari novel Melbourne: Rewind. Suka dengan lirik dan nadanya. Alhasil, setiap dengar ini, kepala saya sudah berkeliaran mencari ide xP
    3.       You Belong with Me – Taylor Swift
    Geeky banget, ya, masih suka denger lagu ini >.< tapi, makna lirik lagunya itu benar-benar membuat saya mencari ide. Yah, sedikit banyak, saya banget juga lah.
    4.       You’re Not Sorry – Taylor Swift
    Meskipun saya juga bingung kenapa lagu ini masuk ke dalam writing playlist, tapi rasanya ada yang kurang kalau saya melewatkan lagu ini. Suka dengan melodinya.
    5.       Sure Feels Like Love – Tiffany Thornton
    Suka lirik dan nadanya, sih. Apalagi bagian awalnya. Beberapa lirik membuat otak di kepala saya segera berkeliaran mencari ide hehehe.
    6.       The Only Exception – Paramore
    Nadanya membuat saya ingin cepat-cepat duduk di depan laptop dan meneruskan draft saya. Entah kenapa, tapi lagu ini memang melakukan itu. Dan saya sempat membuat sebuah bab dalam project NaNoWriMo dengan judul Exception. Cocok dibaca sambil mendengarkan lagu ini ;p
    7.       Breakeven – The Script
    Tidak ada alasan khusus, seperti You’re Not Sorry tadi, lagu ini juga terasa sayang jika saya lewatkan.
    8.       Six Degrees of Separation – The Script
    Untuk lagu ini, sebenarnya saya suka dengan judul dan liriknya. Sempat terpikirkan untuk membuat sebuah cerita dengan tema yang sama, tapi belum tercapai sampai sekarang :p
    9.       When I Was Your Man – Bruno Mars
    Siapa, sih, yang nggak suka lagu ini? Tidak ada hal yang lebih indah dibanding menulis dengan ditemani suara si manis satu ini xP
    10.   21 Guns – Green Day
    Nadanyaaaaaaaa! Membangkitkan semangat menulis sekali. Meskipun liriknya sama sekali tidak berhubungan dengan segala ide yang saya punya, tapi saya sangat menyukai nadanya.
    11.   A Thousand Years – Christina Perri
    Lagu ini juga merupakan salah satu lagu yang membuat saya ingin cepat-cepat duduk di depan laptop dan menulis hanya dengan mendengarkan detik-detik intro awalnya.
    12.   Fix You – Coldplay
    Mungkin Coldplay dan Fix You adalah lagu sejuta umat. Lagu ini juga dicover oleh Secondhand Serenade (penyanyi favorit saya, btw). Tapi saya tetap lebih suka mendengarkan versi Coldplay. Mendayu-dayu dan membuat saya terbawa perasaan. Dan akhirnya … kepingin nulis ;p
    13.   Cinta Datang Terlambat – Maudy Ayunda
    Denger lagu ini langsung teringat Refrain! So, what? Saya jadi ingin cepat-cepat menulis supaya novel saya nanti sekeren Refrain—atau kalau perlu, diangkat jadi film juga :’)
    14.   Michi (To You All) – Aluto
    Ini satu-satunya lagu berbahasa Jepang yang ada di music player saya >.< salah satu soundtrack anime Naruto. Memang banyak soundtrack anime itu yang saya suka. Salah satunya adalah lagu ini. Coba, deh, sekali-sekali dengerin. Melodinya bagus. Ada selingan biolanya juga. Dan membuat pikiran saya tenang sesaat saat mencari ide.
    15.   One and Only – Teitur
    Tahu lagu ini juga dari Melbourne: Rewind :’) lagi-lagi lagunya bikin saya kepingin nulis.
    16.   Parachute – Kiss Me Slowly
    And this one too. Dari Melbourne: Rewind lagi hehehe. Ternyata lagu di sana memang enak-enak. Dan untuk lagu ini, liriknya menggambarkan sebuah scene yang ingin saya buat. Belum kesampaian, sih (lagi). Tapi saya udah kepikiran >.< liriknya seksi aja, gitu. Dan ini juga bikin keinginan menulis saya bangkit :D
    17.   Only Hope – Mandy More
    Salah satu soundtrack A Walk To Remember. Saya suka mendengarkan lagu dari sebuah soundtrack adaptasi film yang berhasil membuat saya menangis. Apalagi saat saya membaca novel Nic ini. So … lagu ini salah satu pemancing saya untuk membuat sebuah scene mengharukan.
    18.   Learning to Breath – Switchfoot
    Kalau lagu ini, salah satu pemancing saya untuk membuat sebuah scene di mana sang tokoh utama menyatakan perasaan cintanya pada tokoh lawannya xP
    19.   The Scientist – Coldplay
    Ah :’’) ini lagu yang sedang memiliki peran banyak untuk meningkatkan mood menulis saya saat ini. Salah satu alasannya karena lagu ini mellow sangat—which is, salah satu tipe yang paling saya sukai haha (kalau ditilik dari 18 lagu di atas juga sebagian besar mellow). Dan alasan lainnya adalah, karena lagu ini saya jadikan back song di dalam project novel baru saya. Intinya, untuk saat ini, selalu lagu ini yang saya putar setiap membuka draft atau pun saat ingin mendengarkan lagu. Liriknya pas dengan salah satu scene yang akan saya buat dalam project novel saya itu. Lagu ini juga nantinya akan memiliki peran besar dan akan saya masukkan ke dalam tulisan saya itu. Pokoknya … ini yang paling spesial untuk saat ini.

    Untuk 19 lagu itu, mungkin saja akan terus bertambah atau berkurang nantinya. Tapi untuk sekarang, 19 lagu itulah yang bertengger dalam writing playlist saya dan berpengaruh besar pada mood menulis saya.

    So, what’s your writing playlist? Wanna share?

Rabu, 22 Januari 2014

Gagas Reader Interview (Repost)

Hello hello, sudah lama nggak muncul pake basa-basi gini, ya, keasyikan nulis fiksi di blog sih hahaha xD tapi kali ini, aku mau membagi sedikit pengalamanku. Seperti judulnya, "Gagas Reader Interview" ini adalah interview yang dilakukan oleh admin twitter GagasAddictInd kepada para pembaca setia novel-novel GagasMedia. Nah, beberapa waktu lalu, ternyata aku mendapat dm (direct message) di twitter dari admin GagasAddictInd ini. Kirain ada apa, ternyata si adminnya bilang mau meng-interviewku. Wow, excited dong aku haha xD langsung, deh, beberapa hari kemudian aku terlibat interview seru dengan admin GagasAddictInd lewat e-mail :)

Dan, karena interview-nya itu hanya dipasang di blog GagasAddictInd, akhirnya aku minta izin sama adminnya untuk menyalin bincang interview kami itu di blogku ini :) nah, gimana, sih, serunya? Let's check it out! xP






Interview Gagas Reader : Hidya Nuralfi




Hai, namaku Hidya Nuralfi Mentari, biasa dipanggil Hidya aja. Umurku 18 tahun, masih mengenyam pendidikam sebagai mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Oh, ya, hobiku menulis dan membaca. Terutama membaca novel-novel GagasMedia :)


Kamu awal tau gagasmedia darimana, sih? Terus kenapa sekarang bisa suka banget sama novel" gagas?

Pertama kali kenal GagasMedia itu waktu aku SMP. Lagi pergi ke toko buku bareng teman-teman, terus melihat-lihat ke rak novel-novel baru. Aku ingat, novel GagasMedia pertama yang menarik perhatianku itu Refrain karya Kak
Winna Efendi dan Let Go karya Kak Windhy Puspitadewi. Memang awalnya karena cover Gagas yang keren itu, sih, jadi tertarik hehe. Akhirnya aku memutuskan membeli Let Go dan temanku membeli Refrain. Jadilah Let Go menjadi novel Gagas pertamaku xD
Setelah baca Let Go, aku merasa penulisannya Kak Windhy itu asik banget. Lalu aku membaca Refrain, dan lagi-lagi suka. Karena itulah akhirnya aku membeli novel-novel Gagas yang lainnya, yang ternyata tidak mengecewakan dan malah membuatku teradiksi sama tata cara penulisan para penulisnya itu. Dan covernya! :)


Wah kapan itu tepatnya kamu pertama kali beli novel gagas?

Aku lupa tanggalnya xD tapi di halaman pertama novel Let Go tertulis identitasku dan bulan belinya 'Okt 2010' :D


Sudah 3 tahun yang lalu yah :) Berarti sekarang novel gagas yang kamu punya berapa banyak tuh? :3

Haha iya xD ada sekitar 30 novel Gagas, semoga saja masih bisa bertambah ;3


Wah banyak ya.. Nah diantara 30 itu, mana 5 terbaik buat kamu? Dan kenapa? :)

Hmm pertanyaan sulit, nih, Min ;p hampir semua novel Gagas aku suka. Tapi kalo 5 yang terpaling itu:



1. Forgiven by Morra Quatro.


Novel ini unforgotten banget. Keren, tentang William Hakim dan fisikanya :') habis baca ini aku galau berhari-hari karena endingnya haha

2. Melbourne by Winna Efendi.


Suka banget dengan ceritanya yang simple tapi diksinya mengalir dengan keren xD plus beberapa playlist lagu di dalamnya bikin aku suka maksimal sama novel STPC ini.

3. Notasi by Morra Quatro.


Novel ini juga berhasil bikin aku galau karena endingnya. Temanya keren, tentang reformasi tahun '98 dan kisah cinta di dalamnya. Mengaduk emosi banget :')

4. Refrain by Winna Efendi.


Suka banget sama kisah Nata Niki di sini xD sederhana tapi manis. Plus suka banget covernya!

5. Let Go by Windhy Puspitadewi.


Jelas aja, karena ini novel Gagas pertamaku. Jadi, novel ini berperan besar, lah hehe. Karena novel ini aku jadi kenal Gagas dan akhirnya mengoleksi novel-novel GagasMedia :)


Dua novel kak winna, dan dua lagi kak morra, ya.. Apa mereka penulis gagas favorit kamu? Kalau iya, kenapa? :)

Haha iya xD
Kalau Kak Winna, aku suka dengan gaya penulisannya yang mengalir dan soft gimana gitu :3 kalau lagi baca tulisannya pasti rasanya tenang dan hening. Karena terbawa sama tulisannya itu. Hihi rasanya kepingin bisa nulis kayak gitu xP dan, orangnya juga ramah banget :)
Kalau Kak Morra, awalnya memang karena aku suka dengan novel-novelnya, jadi aku ngefans sama orangnya juga, deh, hehe. Kak Morra selalu bisa memainkan emosi pembaca lewat tulisannya. Dari dua novel Kak Morra ya kubaca, dua-duanya itu dapet banget feel-nya. Tema yang diangkat dalam tulisannya juga unik dan agak jarang dengan novel romance lainnya. Jadi menimbulkan sensasi merinding kalau baca novelnya haha. Suka pokoknya :D


Nah gagas kan buat banyak project novel sepert stpc dll. Yg plg kamu suka yg mna?:)

Maksudnya projectnya atau novelnya, Min? Hehe. Kalau projectnya aku lebih suka STPC. Tapi Glam Girls dan Gagas Duet nggak kalah seru kok xD sekarang lagi penasaran sama S.C.H.O.O.L nih :)


Admin juga penasaran.. Hahaha.. Harapannya, kamu pengen ada project novel apa? :)

Kepinginnya ada program STPC versi Indonesia, tapi kalau nggak salah udah mau diadain Gagas ya, dengan tema Indonesiana? Jadi ... aku kepingin program novel dengan tokoh utama yang antagonis xP misalnya penjahat, pencuri, dan profesi-profesi yang dianggap masyarakat buruk. Kali aja jadi tema baru dengan tokoh utama yang nggak selalu protagonis. Karena biasanya pembaca susah suka dengan tokoh utama yang tidak sempurna. XD


Semoga ada, ya :)  Apa harapan kamu buat gagasmedia kedepannya?


Harapanku untuk Gagas, semoga bisa lebih baik dan lebih sukses untuk ke depannya. Juga semoga semakin banyak novel-novel berkualitas dan unforgotten yang diterbitkan GagasMedia. Dan ... semoga suatu saat aku bisa menjadi salah satu penulis GagasMedia juga haha (harapan terselubung xP). Pokoknya, semakin baik, deh, untuk GagasMedia! Tetep kece! Because reading is hot, writing is cool! \m/