Followers

Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2013

Untuk Segala Mimpi yang Hampir Tercapai

gadis itu terdiam

sesaat

ada frase yang hampir terbentuk

ada analogi yang hampir terwujud

dia dan aku sama saja

menampung mimpi lewat kata-kata

lewat goresan petang juga kesepuluh jari tangan

dengan pandangan mata yang tak seolah tak pernah lelah

gadis itu merenung sesaat

menatap senja yang katanya sempurna

memoles pikir bak mesin setiap harinya

adalah hal yang menyenangkan

begitu

karena, untuk segala mimpi yang hampir tercapai

aku tak akan berhenti di sini

aku akan sampai nanti

sesegera mungkin

-Hdy

Kamis, 03 Oktober 2013

Halo, Delapan Belas Tahun

Halo, delapan belas tahun.

Selalu ada harap baru di umur baru yang terhimpun. Ada doa, yang terrapal dalam setiap lamun. Ada mimpi, yang diingin terwujud tanpa ampun. Ada frase baru, pada setiap detik langkah kehidupan baru yang mulai terayun. Ada kasih yang lebih, juga segala ucapan selamat yang datang meruntun. Semoga, terwujud segala doa apapun.

Halo, delapan belas tahun.

Aku punya mimpi yang ingin ku wujud. Aku punya doa yang ingin terkabul. Aku punya harapan yang ingin menyata. Dan aku punya cita-cita yang ingin kucapai. Maka, himpunlah segala mimpi, doa, harapan, dan cita-cita dalam satu adjektif candu; terjadi.

Halo, delapan belas tahun.

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk merasakanmu. Terima kasih masih membuatku bangun dan terpaut pada masa selanjutnya. Terima kasih telah datang dan membawa segala harap. Terima kasih karena sudah menandaiku sebagaimana mestinya. Terima kasih, terima kasih.

Halo, delapan belas tahun.

Kutitip segalanya pada Tuhan. Kuserah semua pada-Nya. Kuberi seluruh mimpi, doa, harap, dan cita-cita pada-Nya untuk kemudian dikabulkan. Semoga segalanya berjalan dengan indah. Semoga seluruhnya berjalan sesuai yang diinginkan.

Halo, delapan belas tahun.

Kuserahkan juga segala mimpi, doa, harap, dan cita-cita untuk orang tuaku. Karena, mereka adalah alasan utamaku untuk bersyukur masih diberi kehidupan sampai saat ini. Untuk mereka, hanya untuk mereka segalanya kuharap penuh.

Halo, delapan belas tahun.

Kau tak akan datang dua kali. Maka dari itu, sempatkanlah untuk mewujudkan segala himpun rapal mimpi, doa, harap, dan cita-citaku. Agar nantinya akan ada himpunan rapal baru di tahun selanjutnya.

Aku,
yang delapan belas tahun