Followers

Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2015

[Book's Review] What If by Morra Quatro





Judul : What If
Penulis : Morra Quatro
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2015

“Apa yang berbeda itu memang tidak pantas bersama?”

Jupiter bertemu Kamila pertama kali di antara langit siang yang terik dan lapangan basket yang lapang. Si Anal. Senior satu tingkat. Asisten dosen kelas semester pendeknya yang selalu berkeras diri bahwa ia bisa membawa tumpukkan lembar kertas mahasiswa dengan tangan kecilnya.

Sejak pertemuan pertama mereka, perbedaan itu sudah jelas terlihat. Tapi, ada sesuatu tentang Jupiter yang membuat Kamila dengan begitu saja menyerahkan nomor teleponnya di antara sunyi-senyap perpustakaan yang menyesakkan. Sejak saat itu, mereka percaya, bahwa tak apa jika berbeda. Tidak apa-apa selama mereka bersama dan dapat mengatasinya.

Tapi, takdir tak berbicara begitu. Sebab ada beberapa hal yang memang tak bisa disatukan, meski sekuat apa pun dikonvergensikan. Perbedaan itu akan mencari jalan divergennya sendiri.

“This is not going to happen, Jupiter. We’re not going to make it.”

“In the end, only kindness matters.
only kindness matters.”

-----WHAT IF BY MORRA QUATRO-----

Saya punya banyak kata untuk buku ini—dan khususnya, untuk Kak Morra. Tapi, saya akan merangkumnya hingga semua kata-kata itu bisa tersampaikan hanya dengan satu wacana bertitel review ini.

What If adalah karya keempat Kak Morra yang saya baca. Bercerita tentang Kamila, Jupiter, dan perbedaa-perbedaan di sekeliling mereka. Untuk para pembaca setianya, saya yakin, segalanya begitu familier dan tidak asing. Bukan tentang ceritanya, atau alur dan endingnya yang (memang juga) familier. Tapi, tentang suasananya. Tentang bagaimana Kak Morra menulis segala detail dan deskripsi dari setiap diksi yang ia pilih. Saya merasakannya, penulisan Kak Morra yang selalu saya anggap mempunyai magis juga nyawa. Penulisan deskripsi yang membawa emosi dan … breath-taking? Heart-warming? Page-turning? Semuanya. Jika ditanya siapa penulis favorit yang pantas menyandang gelar best story-teller, saya tidak akan ragu untuk menyebut Kak Morra sebagai jawaban.

Seperti ketika Kak Morra menjajah emosi saya dengan Will, Langit, dan Nino, Kak Morra melakukannya lagi di sini melalui Jupiter. Jupiter punya sisi yang berbeda dari ketiga tokoh-tokoh pria Kak Morra sebelumnya. Jupiter lebih bad boy, bukan mahasiswa teladan, selengekan, tapi juga punya cinta yang besar. Saya suka ketika dia menatap Kamila dan segala detail yang ada pada dirinya. Tapi, saya juga suka ketika ia tersenyum jahil ketika nama Kamila dikaitkan dengan kata Si Anal. Memang bukan anal yang itu. Tapi, Jupiter selalu punya hal-hal humoris—yang tentu saja tidak menyinggung—ketika istilah itu disebut.

Ah, ya, cerita ini juga berhasil mengubah segala perspektif saya tentang “tidak mau membaca cerita yang mengandung unsur agamis selain Islam”. Jujur saja, saya orang yang sedikit kencang tentang hal itu. Dan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya sulit mendapat feel ketika membaca cerita yang tokohnya memiliki kepercayaan di luar kepercayaan saya—maaf. Tapi, entah kenapa What If berbeda. Jupiter berbeda. Saya berhasil jatuh cinta padanya, sealami saya jatuh cinta dengan tokoh-tokoh mengesankan yang lain. Jupiter melakukannya. Kak Morra melakukannya. Jadi, atas segala pelajaran dan perspektif baru yang saya dapat, sudah sepatutnya saya berterima kasih pada Sang Penulis; Terima kasih, Kak Morra.

Sebelum mengutip adegan yang paling saya suka, ada beberapa hal teknis seperti typo, kesalahan penulisan (krabby peaty : krabby patty), kekeliruan pemenggalan (mer-apat : me-rapat), dan kesalahan EYD (tercekat : tersekat). Mungkin, ada beberapa hal yang saya lewatkan, karena keterbatasan akan ketelitian atau terlalu malas untuk mengecek secara detail (karena saya terlampau menikmati ceritanya). Tapi, hanya itu yang saya temukan dan sempat saya catat ;p

So, my favorite part? Ada dua. Pertama, ketika dengan nekatnya Kamila memangkas rambut panjangnya di awal cerita! Demi apa pun, adegan ini langsung saja membuat saya jatuh cinta pada Kamila. Saya suka penggambaran tokoh perempuan yang seperti ini. Kedua, ketika Piter berkata, “Kamila, your hands are small—“ di antara langkah-langkah kakinya menuju loker dosen untuk menaruh berkas-berkas tugas yang seharusnya menjadi tugas Kamila. Saya selalu tersenyum mengingat adegan ini. Dan adegan-adegan permintaan Piter membantu Kamila membawa berkas-berkasnya yang lain. Mungkin, ini klise, tapi Kak Morra mengemasnya dengan berbeda dan … berkesan :)

Saya tidak akan mengomentari tentang ending. Sebab, bagian inilah yang selalu saya suka dari tulisan-tulisan Kak Morra. And, saya tidak akan pernah bosan untuk bilang: selalu ditunggu cerita-cerita cerdas yang lainnya, Kak!

4 of 5 stars for What If

love,
hidya

Jumat, 16 Januari 2015

[Book Review] Friends Don't Kiss by Syafrina Siregar


Judul              : Friend Don’t Kiss
Penulis            : Syafrina Siregar
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Tebal Buku    : 208 halaman

Mia Ramsy adalah seorang perempuan lajang yang mengabdikan dirinya pada sebuah organisasi nirlaba bertajuk Indonesian Breastfeeding Mothers. Di sana, Mia bersama perempuan-perempuan lainnya memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif dari Ibunya. Karena bagi Mia, tak ada satu pun jenis susu yang dapat menggantikan peran ASI, pun sebuah susu formula dengan merk paling terkenal dan sejumlah embel-embel manfaatnya yang diiklankan.
Mia berjanji pada adiknya–Lia, saat adiknya itu melahirkan nanti, Mia akan mendampingi Ibu muda itu untuk melakukan IMD–Inisiasi Menyusui Dini. Tapi, karena keterlambatannya dan kebiasaan uniknya yang sering menabrak mobil di parkiran, Mia terlambat mendampingi adiknya. Ditambah lagi, bayi Lia yang terus-menerus menangis saat disusui membuat Lia semakin ketakutan akan produksi ASI-nya dan marah dengan Mia.
“Bayi menangis bukan patokan ASI lo kurang, Lia. Itu hanya salah satu kemungkinan.”

Sayangnya, usaha awal Mia yang hampir berhasil untuk kembali meyakinkan Lia memberikan ASI eksklusif terhalang oleh suami Lia yang menyuruh adiknya itu untuk memberikan susu formula juga agar Lia tak terlalu kelelahan menyusui.

“Tapi menurut gue ASI dan susu formula nggak jauh berbeda,”
“Jelas beda dong, Lia. ASI itu makanan yang bergizi dan berkalori tinggi, juga mudah dicerna. Kandungan yang terdapat di dalam ASI membantu penyerapan nutrisi, membantu perkembangan dan pertumbuhan, juga mengandung sel-sel darah putih, anti-bodi, anti-peradangan, dan zat-zat biologi aktif yang penting bagi tubuh bayi dan melindunginya dari berbagai penyakit. Semua itu nggak terdapat dalam susu formula.”

Selain harus menghadapi perbedaan pendapat dengan adiknya, Mia juga harus terlibat masalah dengan seorang pria bernama Ryan yang mobilnya Mia tabrak di parkiran beberapa waktu lalu. Namun, seiring berjalannya waktu, Mia dan Ryan malah semakin berteman akrab. Mulai dari Ryan yang sering mengajak Mia pergi bersama, sampai kedatangan pria itu yang semakin rutin ke apartemen Mia setiap jam makan malam. Sampai akhirnya, sebuah insiden ciuman itu terjadi. Hanya saja, walau setelah kejadian itu, mereka tetap menjadi Mia dan Ryan yang biasa, yang berteman baik.

That’s what friends are for.”
In case you forgot, Mia, friends don’t kiss.”

Hingga suatu hari, ketika hubungan Mia dan Ryan semakin dekat, Mia akhirnya mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan Ryan darinya, gadis itu akhirnya tahu siapa Ryan sebenarnya. Dan itu membuat Mia mau tak mau menjauhi Ryan meskipun ia tahu, kalau ia sudah jatuh cinta dengan pria tersebut.

It’s not gonna work, Ryan. Kita dua pihak yang berseberangan.”
How the hell I know, Mia? Aku mencintaimu. Aku yakin kamu pun mencintai aku. Apa lagi yang lebih penting?”

“Ryan sudah berusaha memperjuangkan lo, apa sekarang lo mau memperjuangkan dia juga? Karena dalam pernikahan nanti yang perlu berjuang itu bukan hanya Ryan, tapi kalian berdua.”

----------FRIENDS DON’T KISS BY SYAFRINA SIREGAR----------

First of all, untuk kesekian kalinya, saya mau mengucapkan selamat atas kelahiran novel terbaru Mbak Nana ini. Akhirnya bisa bertemu Mia dan Ryan dan juga kisah cinta menggemaskannya di sini! :3

Friends Don’t Kiss merupakan tulisan ketiga Mbak Nana yang saya baca–setelah DJ dan JD, yang ditulis bersama Primadonna Angela, dan juga cerpennya yang ditulis bersama 45 penulis GPU di kumpulan cerpen Cerita Cinta Indonesia. Dari sana, saya sedikit banyak sudah memahami gaya tulisan Mbak Nana yang sederhana, to the point, namun enak dibaca karena ringan dan diksinya yang tidak membuat kita terlalu banyak berpikir. Sedikit witty juga karena Mbak Nana suka sekali mendeskripsikan tokoh utama prianya dengan deskripsi menggoda :p

Secara keseluruhan, saya mendapat banyak pengetahuan dari novel bertema breastfeeding ini. Informasi-informasi tentang ASI yang terkandung di dalamnya sukses menjadi daya tarik terbesar dari novel ini. Saya juga kagum dengan Mbak Nana, dari sekian banyak tema novel metropop yang diusung dengan tema ‘pasaran’, Mbak Nana berhasil menciptakan tema yang unik dan berbeda. Dalam sebuah artikel, saya menyebut Friends Don’t Kiss ini sebagai Novel Metropop BereduASI.

Hanya saja, dari tema menarik yang sudah saya sebutkan di atas, justru cerita romansa antara Mia dan Ryan yang Mbak Nana bangun di sini jadi seperti kehilangan nyawanya. Entah mengapa, saya kurang mendapat feel di setiap scene antara Mia dan Ryan. Saya bahkan lebih excited saat berada pada scene di mana deskripsi-deskripsi tentang ASI dijelaskan. Padahal, konflik yang dibangun antara Mia dan Ryan sudah sangat strike. Walau sederhana, tapi sukses dapat menjadi penghalang di antara kedua tokoh ini.

Selain itu, saya juga lumayan geregetan dengan sifat Mia yang plin-plan di sini. Terutama dengan adiknya, Lia. Mereka sering sekali bertengkar, kemudian kembali baikan, tetapi kemudian bertengkar lagi, dan begitu seterusnya. Selain itu, sifat Mia yang menggembor-gemborkan ASI eksklusif untuk bayi tersebut juga tanpa disertai alasan yang jelas. Biar bagaimanapun, Mia masih seorang lajang, mungkin seharusnya diberikan sebuah penjelasan yang menguatkan sikap Mia tersebut.

Kalau dari segi penulisan, sepertinya tidak banyak yang perlu saya komentari, selain typo-typo yang terlewat. Itu pun hanya sedikit sekali, karena secara keseluruhan, saya menikmati tulisan Mbak Nana. Ada satu yang sedikit mengganggu, yaitu ketidakkonsistenan panggilan antara Mia dan Gina. Di sebuah percakapan, mereka berinteraksi dengan menggunakan panggilan “lo-gue”, tetapi di percakapan lain, mereka menggunakan panggilan “aku-kamu”. Saya tidak tahu ini sengaja atau bagaimana, hanya saja, jika panggilannya dibuat secara konsisten akan lebih baik lagi.

Tapi, overall, saya sangat menikmati novel ini. Terutama informasi-informasi serta pengetahuan tentang ASI-nya yang sangat edukatif sekali. Saya acungi jempol untuk Mbak Nana yang sudah berani mengambil tema breastfeeding dalam cerita metropopnya. Saya seperti mendapat sebuah bacaan edukatif berbonus cerita romantis :)

Like I said before, novel ini pantas sekali dijuluki Metropop BereduASI.

3 of 5 stars, then.
hidyanuralfi





Kamis, 03 Juli 2014

[Book Review] The Chronicles of Audy: 4R

Judul: The Chronicles of Audy: 4R
Penulis: Orizuka
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 320 lembar
Tahun Terbit: 2013

5 of 5 stars

Sudah lama semenjak membaca novel-novel Kak Orizuka yang bergenre comedy-romance seperti ini. Terakhir kali aku membaca novel Kak Ori yaitu I For You-With You-The Truth About forever yang menurutku terkesan lebih serius, (btw, aku nggak mengikuti novel-novel Korea yang dibuat Kak Ori karena aku kurang prefer membaca novel Korea).

Membaca novel ini meningatkanku dengan cerita High School Pradise the series yang membuatku jatuh cinta pada Kak Orizuka. So, tanpa keraguan apa pun, aku berani menaruh ekspetasi setinggi mungkin untuk novel ini. And, see? Aku nggak kecewa sama sekali. Novel Kak Ori kali ini lagi-lagi berhasil memenuhi ekspetasi tinggiku.

Bercerita tentang Audy Nagisa. Mahasiswi tingkat akhir yang baru saja mendapat hasil IP too good to be true bagi dirinya. Dengan keherenan serta kebahagian yang bercampur menjadi satu karena akhirnya ia hanya tinggal membuat skripsi, Audy pun dengan bersemangat menjalani targetnya itu.

Sampai akhirnya kedua orang tuanya melakukan hal bodoh--lagi. Mereka ditipu habis-habisan oleh sebuah perusahaan bodong yang membuat kedua orang tua Audy itu bangkrut dan kehilangan banyak uang.

Bukan itu saja, bencana sepertinya tengah senang dengan Audy karena setelahnya ada banyak bencana yang menimpanya berturut-turut; orang tuanya, tunggakan uang kost-nya, serta diusir dari kost.

Karena ia membutuhkan uang untuk biaya skripsi dan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi, ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Hingga ia menemukan sebuah pekerjaan yang menurutnya sangat cocok untuk dirinya sendiri (karena Audy tidak memiliki bakat apa pun), menjadi babysitter.

Di sinilah ia bertemu dengan 4R bersaudara: Regan (pria dewasa yang ganteng dan ramahnya minta banget dipacarin), Romeo (cowok pemalas, mesum dan playboy yang diam-diam dapat menghasilkan uang hanya dengan duduk di depan komputer), Rex (cowok remaja SMA 17 tahun yang dinginnya kelewatan namun memiliki tulang selangka yang seksi, ugh), dan Rafael (si balita sinis yang dewasa sebelum waktunya). Awalnya Audy merasa kesal karena ia seperti dijebak oleh penipuan berkedok babysitter alih-alih pembantu. Sampai lama-kelamaan, Audy merasa ingi mengenal mereka lebih jauh dan ingin menjadi bagian dari mereka.

Ceritanya begitu kompleks. Dengan tokoh yang banyak, namun aku tetap dapat menangkap cerita inti yang ditulis kak Ori ini. Lucu, romantis, senyum-senyum, sedih, sampai sangat sedih ada dicerita ini. Konfliknya memang tidak terlalu berat (dan juga belum keluar secara keseluruhan karena buku ini akan ada bagian keduanya), tetapi aku dapat merasakan kesederhanaan konflik itu menjadi sangat spesial. Tidak berlebihan, namun tetap membuat kita penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya.

Really, setelah beberapa bulan ini aku selalu menamatkan novel dengan ungakapan oh-jadi-begitu tetapi untuk novel ini aku malah tersedot dengan endingnya dan merasa ingin terus membaca lagi, lagi dan lagi. Kita dibuat adiksi dan tidak akan mau berhenti sebelum sampai pada halaman akhir. Dan setelah selesai, yang ada malah nagih lagi:(

Aku tidak perlu komen, lah, mengenai tulisan Kak Orizuka. Karena bagaimanapu, penulisannya selalu menjadi yang paling kusukai. Tidak berlebihan, namun di setiap diksi yang sederhana itu mengandung pesan tersirat yang begitu wow. Sukses menaik-turunkan emosiku; tertawa, senyum-senyum, menangis, tertawa lagi.

Ugh, really love this novel. Ternyata, aku rindu dengan cerita Kak Ori yang bergenre seperti ini:')

Overall, aku sangat menikmatinya. SANGAT SANGAT MENIKMATINYA. So, pesanku hanyalah, sekuelnya jangan lama-lama, ya. Can't wait for the next completely story!

Btw, rasanya aku kepingin banget memakaikan Regan dasi setiap hari juga mengelus-elus tulang selangkanya Rex yang seksi itu :| menjambat rambut Romeo dan juga mencubit pipi si sinis Rafa! Ah, 4R! Kalian membuatku gila dengan segala kesempurnaan sekaligus kekurangan kalian!!!!

Sign,
Hidya ;p

[Book Review] Rhapsody by Mahir Pradana

Judul Buku: Rhapsody
Penulis: Mahir Pradana
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 324 lembar
Tahun Terbit: 2013

4 of 5 stars

Well, aku memiliki ekspetasi yang begitu tinggi pada novel ini. Absolutely, karena novel Kak Mahir sebelumnya (Here, After) benar-benar keren dan unforgetten banget untukku.

Sebenarnya, it's not cup of my tea. Entah kenapa, mungkin karena aku terlalu sering membaca cerita-cerita full romance yang memang fokusnya pada cinta-cintaan saja. Jadi di awal cerita, aku masih meraba-raba mau dibawa kemana kah sebenarnya cerita ini.

But...tanpa aku sadari, di tengah-tengah perabaanku pada cerita ini, justru aku nggak mau berhenti. Beberapa kali aku sempat terkaget-kaget karena tiba-tiba sudah berada di halaman kesekian, padahal sangat ingat bahwa aku membacanya belum lama. Dan lama kelamaan, akhirnya aku menyadari bahwa aku sudah terlanjur jatuh cinta pada novel ini.

Secara garis besar novel ini menceritakan tentang mimpi dan cinta. Tentang Abdul Latif, atau yang biasa dipanggil Al. Bagaimana bittersweet Al membangun hostel sederhananya yang nantinya akan menjadi salah satu hostel paling berpengaruh di Makassar, pertemuannya dengan Miguel--seseorang yang 'ajaib', serta kisah cintanya mengejar seorang gadis yang menganggap bahwa dirinya adalah distraction. Love is distraction, begitu katanya. Dan, di novel ini, Kak Mahir juga menuliskan segala keindahan tentang kota Makasar. Yang membuatku yakin, setelah membaca novel ini para pembacanya pasti akan lebih mencintai Indonesia lagi.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari Rhapsody. I get some important things about a dream. Bahwa jika kita percaya dengan keajaiban dan juga pada kekuatan mimpi, pasti mimpi kita akan benar-benar terwujud.

Ada beberapa typo, namun tidak terlalu mengganggu menurutku. Hanya ada satu yang agak mengganggu yaitu sebuah nama 'Jo' yang tertulis pada sebuah halaman. Padahal di sana tidak ada karakter yang bernama Jo. Menurut perkiraanku, Jo itu adalah nama dari tokoh Simon sebelumnya. Just IMO.

Oh ya, di sini juga ada scene yang menurutku 'membohongi pembaca' ;p dan Kak Mahir berhasil akan hal itu. Saat aku sudah ikut merasakan kesedihan itu, namun tiba-tiba ... voila! Just let's grab fast this novel ;p

Overall, I really like it. Dan novel ini juga memberikanku sebuah value implied saat selesai membacanya. Not just empty and so-yeah-it's-finish story.

Oh, I love this magnificent ending! Ada rasa 'penuh' yang aku rasakan saat mengakhirnya, seraya menghela napas: finally...

Pokoknya, suka.

Sign,
Hidya

[Book Review] Pesan dari Bintang by Sitta Karina

Judul: Pesan dari Bintang
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Terrant Books
Tahun Terbit: 2006

5 of 5 stars

[This review maybe contain subjective perspective]

...
'La amistad es la raiz del amor puro, el amor puro es la fuente de la felicidad.' (Persahabatan adalah akar dari cinta murni, dan cinta murni adalah sumber kebahagiaan)
...

Inez Calassandra Hanafiah dan Nikratama Putra Zakrie telah menjalin hubungan persahabatan selama 5 tahun. Pertemuan Niki--cowok yang sederhana but charming, dan Inez--si cantik eksotis berambut ikal, di NYC saat sama-sama menjalani High School telah membawa mereka pada sebuah ikatan tak terbaca yang terus-menerus mengikat mereka.

Which is called 'friendship'.

...
"Kalo di sebelah gue, elo bebas mau ngapain aja, Nez. Mau nangis lepas, silakan. Abis itu lupain. Playgirl don't cry over one man, right?"
...

Inez adalah seorang gadis dari keluarga Hanafiah yang terhormat. Cantik, fashionable, playgirl, and almost perfect. Sedangkan Niki hanyalah seorang laki-laki sederhana yang kebetulan bertemu dengan Inez 5 tahun yang lalu. Sederhana, berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tampan (tapi ia sendiri tidak merasa tampan)

Niki sebenarnya merasa ia tidak pantas bersanding dengan Inez, pun hanya sebagai sahabat. Ia begitu minder. Sedangkan Inez, ia menyukai Niki yang telah begitu tulus. Niki adalah satu-satunya orang yang melihatnya tidak sebagai seorang Hanafiah. Dan itu membuat Inez nyaman berada di samping Niki secara terus-menerus.

Tapi, mungkin, seperti pepatah mainstream yang bilang kalau seorang pria dan wanita tidak akan pernah benar-benar bisa hanya bersahabat saja, ternyata berlaku pada hubungan Inez dan Niki. Entah rasa itu yang tiba-tiba datang menyergap, atau memang mereka telat menyadarinya. Yang jelas, there is a love behind a good friendship, always.

...
"...Tapi, dari dulu semua pacar saya berambut lurus."

"Oh ya? Kok, bisa begitu? Any special qualification?"

"I save the curly one for my wife."
...

Mungkin Niki menyadari tidak secepat Inez menyadarinya. Karena sesungguhnya, ada begitu banyak hal berkecamuk di dalam hatinya mengenai hubungannya dengan Inez dan kehidupan kelam di masa lalunya.

...
If I ain't got you, Nik? Bolehkah aku pelihara perasaan ini, walaupun kalau kamu tahu pastinya akan menganggap aku cewek kebanyakan--suka ama sahabatnya sendiri?


"Gue suka banget ama persahabatan kita ini, Nez. Bagi gue ini amat berharga, so I just wanna make sure nothing's changed between us."

Mungkin yang nyata hanyalah dinginnya deru angin sore, menjadi saksi keheningan mereka yang rikuh. Adakah kecanggungan terjadi apabila 2 orang sudah dengan yakin mengikrarkan diri mereka hanya sebagai sahabat?
...

Suatu hari, saat pada akhirnya perasaan mereka saling terungkap, seharusnya hanya kebahagiaan yang menyambangi. Seperti mimpi cinta milik Inez--happily ever after. Namun, prinsip itu hanya milik diri Inez sendiri. Tidak untuk Niki.

Kompleks. Perasaan cinta yang seharusnya sudah tinggal mencapai ending pun seperti tercegat di tengah jalan. Karena pada kenyataannya, mencapai hidup happily ever after tidaklah semudah yang Inez bayangkan.

...
Niki terus berjalan, tidak ingin menengok ke belakang, walaupun ia merasakan dingin di punggungnya. Dingin karena tatapan seseorang yang begitu intens. Ia tidak berpikir lebih jauh lagi, karena ia tidak pernah mengerti: seberapa tipiskah garis batas antara sahabat dan kekasih?
...

Ada sesuatu yang Niki tutupi. Di balik rasa mindernya terhadap Inez yang merupakan seorang Hanafiah. Ada masa lalu yang belum terungkap. Dan ada keraguan yang pada akhirnya muncul pada diri masing-masing.

Dan lagi-lagi, Inez yang lebih dulu meruntuhkan keraguan itu. Terutama saat percakapannya dengan Nara Hanafiah--sepupu laki-lakinya yang begitu populer.

...
"Kenapa ya aku nggak bisa jatuh cinta ama kamu? Apakah karena kita sepupuan?"

"Karena gue bukan Nikratama."
...

Ucapan Nara bagaikan sebuah hantaman telak untuk Inez. That's it. Karena cinta Inez Hanafiah, hanya untuk seorang Nikratama Zakrie--sahabatnya, yang justru sekarang, hubungan persahabatan mereka telah hancur berantakan karena perasaan yang pernah terucap itu.

Lalu, saat akhirnya 'rahasia' sekaligus alasan Niki menghindari Inez terbongkar, mampukah Inez memandang Niki dengan pandangan tetap seperti dulu?

Lantas, apa artinya hubungan cinta 5 hari yang mereka mulai saat Niki menyusul Inez yang saat itu kabur--menghindarinya ke Hvar?

...
"Tidak ada yang memaksamu untuk menjadi bagian dari Hanafiah, Niki. Tidak Inez, tidak ibumu, maupun Ety. Cinta yang tumbuh antara kau dan Inez lahir karena kebiasaan, di mana kalian--tanpa sadar--telah meresapi makna 'terbiasa' ini sehingga merasa ada yang hilang apabila salah satu absen."

"Inez adalah bintang saya. Dan saya ingin selalu menjadi malamnya. Kami ini sudah seperti cahaya dan bayangan. Saya lengah menyadari itu."

...

Yeah. Finally. Setelah bertahun-tahun mencari buku ini dan nggak dapet-dapet, lalu akhirnya dapet dengan harga yang cukup 'wow', I should say about finally, finally!

Aku sudah pernah bilang, bahwa genre favoritku itu sahabat jadi cinta. Which is so mainstream, but, that's it.

Secara obyektif, aku masih menemukan banyak kekurangan dalam buku tebal nan besar ini (really, bukunya gede kayak buku pelajaran, dan tebalnya itu hampir 500 halaman). Seperti typo, pemborosan kalimat, eyd yang tidak sesuai kaidah, awalan di- dan ke- yang masih salah, serta pemenggalan-pemenggalan kata yang tidak tepat. Tapi, like I said before, ini mengandung subjective review xP jadi, karena aku sudah terlampau senang mendapat novel ini dan memang ini tema favoritku, aku bisa memaklumi itu semua *smirk*. Lagipula, buku ini terbitan lama--sekitar tahun 2004. Mungkin pada tahun itu masih banyak kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang belum terlalu terekspos kayak sekarang. Dan kayaknya zaman dulu itu typo dan sebagainya belum begitu berpengaruh, ya? ;p

Tapi novel ini page-turning banget, kok. Ya, untuk ukuran novel setebal ini, nyatanya I've never get bored with Inez and Niki. Lagi-lagi mungkin karena memang aku suka temanya kali, ya?

Konfliknya kompleks. Jadi walaupun temanya mainstream, di sini kita akan banyak menemukan sub-konflik baru yang akhirnya menjadi pembeda novel ini dengan novel-novel lain yang bertema sama. Dan untuk pendeskripsian tempat, seseorang, dan lain-lain yang sangat menarik, Kak Arie jagonya, deh!

Pokoknya, overall cool. Walau memang aku merasa kurang dapet feel (tapi kurangnya sedikiiiiiiiiiiiit banget) dan aku nggak rela buku ini masuk dalam deretan 4 bintang, akhirnya aku memberi 4,5 bintang!

Dengan 5 bintang versi goodreas ;p

Karena, bener, deh. Aku nggak bisa nggak subyektif dalam novel yang satu ini. Ada banyak hal yang membuatku merasa novel ini memang harus menjadi salah satu novel berlabel favorit untukku--di samping pencariannya yang sangat sangat susah.

Dan btw, aku suka banget sama nama panjang Niki--Nikratama Putra Zakrie. Nikratama, how cool that name!

Dan aku cukup curious dengan Nara Hanafiah.

Karena serial Hanafiah yang kubaca baru novel ini dan Lukisan Hujan. So, mungkin nanti aku akan mencoba membaca yang lainnya lagi. Kalau sudah cetak ulang.

4,5 stars

Xoxo,
Hidya.

[Book Review] Melbourne: Rewind by Winna Efendi



Judul              : Melbourne: Rewind
Penulis            : Winna Efendi
Penerbit          : GagasMedia
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku    : 328 halaman
Rating             : 5 of 5 stars



Max dan Laura, kembali bertemu setelah beberapa tahun lamanya berpisah dengan menyandang gelar mantan kekasih. Mereka pernah saling jatuh cinta. Lelaki pengagum cahaya serta gadis pecinta musik aneh.
Suara Laura yang Max dengar melalui siaran radio tengah malam itulah, yang akhirnya kembali memertemukan mereka berdua. Seolah meng-klik tombol Rewind kasat mata yang kembali mengulang kebersamaan mereka. Namun untuk kali ini, tanpa embel-embel cinta.
“Dia berdiri di hadapanku, masih dengan lekuk senyum yang sama, tatapan mata berbinar yang sama, cara berdiri yang sama—kedua tangan dalam saku, dengan bahu sedikit membungkuk.” (Laura)
“Sekarang, dia ada di sini, di hadapan gue, tersenyum dan berbicara mengenai apa saja, seperti malam-malam kami di Prudence, enam tahun yang lalu.” (Max)
Keduanya secara alami terus kembali berhubungan setelah malam itu. Menyamankan diri sebagai sepasang sahabat—tak lebih. Saling berbagi seperti Max dan Laura enam tahun silam.
Seluruhnya hampir terus berjalan dengan baik sampai akhirnya Max menyadari bahwa perasaan yang ia miliki pada Laura saat itu ternyata masih sama seperti beberapa tahun silam. Ia tetap mencintai Laura. Namun, Max terus bertahan dengan kedekatan mereka tanpa ia harus mengatakan perasaan tersebut pada Laura.
Lalu, Evan hadir. Lelaki ramah yang merupakan kekasih dari Cee—sahabat Laura. Max menyadari sebuah ketertarikan tak terlihat di mata Laura pada lelaki itu, walau Laura berusaha menyembunyikannya dan terus menyimpannya rapat-rapat. Perasaan Max pun tak dapat dibendung lagi, saat akhirnya ia mengutarakan tentang perasaannya yang masih ‘bertahan’ pada Laura.
I love you, Laura. Damn it, I love you even now. But you’re making things difficult for me to love you properly.” (Max)
“Hubungan kami berbeda, ekspetasi kami berbeda, hidup kami berbeda. Gue nggak ngerti apa yang dia harapkan dari gue, Cee. And it’s hard to say friends that way.” (Laura)
Dan di sinilah akhirnya mereka, terjebak pada sebuah perasaan absurd tak berujung. Saat mereka tak dapat kembali ke masa lalu, hanya untuk merubah sebuah analogi yang tak diinginkan.



It’s a coolest novel I’ve ever read.
Novel ini merupakan seri proyek STPC yang dibuat oleh GagasMedia. Dan, kali ini, Melbourne sebagai latar tempatnya.
Aku selalu suka dengan cara Kak Winna menuliskan cerita-ceritanya. Bagaimana diksi sederhana dapat menjadi satuan kalimat yang indah dan membekas. Bagaimana sebuah cerita sederhana, dapat menjadi sebuah cerita yang kuanggap excited.
Seperti kata Laura dalam ceritanya; “Kami bertemu, kami saling jatuh cinta, kami berpacaran, kami putus, kami move on. Sesederhana itu.”
Dan cerita ini memang as simple as that.
Namun, Kak Winna mampu membawa para pembacanya merasakan segala kesederhanaan itu menjadi sebuah cerita yang indah untuk dibaca. Aku bahkan tidak segan-segan memberikan Melbourne bintang lima. It’s so cool. Aku suka Max dan Laura. Suka segala obsesi Max pada cahaya, juga obsesi Laura pada lagu-lagu anehnya.
Setiap bab di novel ini menyerupai judul lagu. Kak Winna juga menyertakan daftar playlist keenambelas lagu-lagu itu (yang akhirnya ku download dan sekarang menjadi playlist favoritku). So, kita dapat membaca setiap bab dalam novel ini diiringi lagu-lagu tersebut.
Pokoknya, ini novel sederhana yang keren. So damn cool! Dan, aku tidak akan protes soal ending-nya ;p
I’ll always waiting for Kak Winna’s next project!
Sign,
Hidya Nuralfi Mentari (@hidyanuralfi)

Jumat, 27 Juni 2014

[Book Review] By Your Side by Bulan Nosarios



Judul: By Your Side
Pengarang: Bulan Nosarios
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal Buku: 296 halaman
Harga: Rp. 60.000

|"Tak perlu meluruskan, orang-orang dengan sendirinya akan tahu mereka hanya teman. Dua orang sahabat yang terlalu susah dipisahkan."|


Kania dan Erga adalah sepasang sahabat yang menjalani segala hal dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki pandangan yang sama tentang satu sama lain. Kania adalah tipe pribadi pemikir, tak banyak bicara, selalu berpikiran logis, dan merencanakan segala tetek bengek kehidupannya. Sedangkan Erga adalah seorang pria yang memercayai bahwa hidup itu mengalir. Sebab hidup tak selalu harus direncanakan.

Erga mencintai Kania, tetapi ia tidak yakin apakah Kania juga mencintainya. Kania tahu Erga mencintainya, tetapi ia bahkan tidak tahu apakah hatinya siap menerima semua itu.


|"Tidak ada dalam rencananya untuk jatuh cinta saat cita-citanya masih jauh. Kania tidak berani menebak-nebak akan ke mana ujungnya hubungan ini."|


Bagi Kania, jatuh cinta bukanlah prioritas utama. Karena ada cita-cita yang selalu menjadi pemenang peran dalam kehidupannya. Ada banyak rencana-rencana masa depan yang harus Kania raih. Dan jatuh cinta pada Erga tidak ada dalam rencana hidupnya itu.


|"Kadang kala, perasaan tidaklah penting..."
"Lalu apa yang penting buatmu?"
"Masa depanku yang tidak diisi hal-hal absurd?"
"Bagaimana kalau memasukkan sedikit hal absurd ke dalam rencana hidupmu? Biar lebih berwarna..."|

|"Kita terbiasa merencanakan banyak hal yang mudah kita jalani, Kan. Tapi Tuhan membuat rencana supaya kita menjadi kuat. Sedikit hal yang tidak pasti, sedikit kepedihan, sedikit kebimbangan, begitulah hidup."|


Namun Erga tak bisa terus-menerus menunggu. Dan Kania tak bisa selamanya membohongi diri sendiri. Ada perasaan yang perlahan menyusup ke dalam kebersaman mereka. Yang kini menuntut lebih dari sekadar sepasang sahabat.

Dan, cinta yang Erga miliki untuknya pun rasanya masih belum cukup untuk Kania. Di samping cita-citanya yang sudah ia rencanakan rapi-rapi, belum ada hal yang mampu meyakinkan akan seperti apa nantinya cinta itu di masa depan.


|"Aku selalu menunggumu, Kan. Meski tidak pernah diberitahu sampai kapan aku harus menunggu."|

|"Kania percaya pada Erga, tapi ia tidak percaya pada waktu."|


Maka, sebuah keputusan pun dibuat Erga. Ia ingin pergi menjauh. Keluar dari zona nyamannya bersama Kania dan menjauhi kebersamaan mereka yang tenang. Dengan begitu, ia akan tahu, apakah ada kemungkinan-kemungkinan lain yang akan ia dapatkan di luar sana.

Apakah ada kehidupan yang ia cari--selain kehidupannya yang selama ini statis berjalan hanya di sekitar Kania.


|"Ada yang berdendang lebih harmonis di antara mereka. Sebut saja itu cinta."|


-----By Your Side-Bulan Nosarios-----


Ah, jatuh cinta dengan setiap kalimat yang tertulis. Plus kalimat penutup yang sangat manis.

Jujur saja, novel ini bukanlah sebuah novel dengan tema atau alur cerita yang luar biasa. Daripada dikatakan luar biasa, aku lebih senang menyebutnya sederhana. Karena tema, alur, bahkan konflik dalam novel ini begitu sederhana.

Tapi kesederhanaan itu membuatku jatuh cinta.

Dari awal, aku sudah tahu akan dibawa ke mana cerita ini sebenarnya--which is, so boring, karena ceritanya sudah 'tertebak'. Tapi aku tidak bisa merasa bosan. Karena setiap kata yang ditulis Kak Bulan di sini begitu memesona. Rasanya mencandu. Di samping itu, aku juga salah seorang pembaca yang sangat menyukai tema sahabat jadi cinta, jadilah buku ini menjadi sebuah kesatuan yang sempurna dalam pandangan subyektifku.

Aku suka semua isinya. Tema, tokoh, latar tempat, latar belakang profesi tokoh, dan segala gambaran scene-nya. Dan yang paling kusuka adalah bagaimana Kak Bulan membangun karakter para tokohnya dengan begitu kuat. Begitu pun dengan hubungan antartokoh yang begitu hangatnya. Tidak ada tokoh yang kubenci di sini. Sekalipun si tokoh yang ditempatkan untuk menjadi orang ketiga.

Potongan-potongan flashback di awal-awal cerita juga sama sekali tidak mengganggu. Meski terkadang ditaruh tanpa peringatan, tapi toh tidak membingungkan sedikitpun.

Dan dunia kedokteran memang selalu menarik untuk dibahas :) meskipun tidak terlalu banyak, tapi profesi dokter yang dimiliki Kania sedikit banyak mampu membuat cerita ini menjadi lebih menarik.

Kekurangannya hanya beberapa typo dan masih terdapatnya kalimat majemuk yang kutemukan beberapa. Tapi sama sekali tidak mengganggu cerita, sih, menurutku :D oh ya, juga di akhir-akhir cerita, antiklimaksnya kurang nendang xP karena jarak antiklimaks dan ending (menurutku) sangat cepat. Jadi terkesan terburu-buru.

Tapi kekurangan-kekurangan itu rasanya tidak terlalu berarti dibandingkan dengan keberhasilan Kak Bulan membawaku menikmati keseluruhan cerita. I want more! Encore! xD

Yang paling kukagumi, sih, pemakaian diksi Kak Bulan :'3 sumpah, adem banget. Rasanya tenang, mengalir, sampai-sampai hatiku ikut 'cekit-cekit' nyesek di sini :')

Dan itu yang membedakan novel ini dengan novel-novel bertema sama lainnya. Biasanya novel-novel lain itu akan bercerita tentang hubungan antarsahabat yang meledak-ledak. Light and sweet. Tapi di sini, kita akan menemukan cerita yang calm but sweet and heartwarming♥

Pokoknya terima kasih untuk Bang Ijul dan Kak Bulan yang sudah memberiku kesempatan menjadi salah satu teman #BacaBarengMinjul #ByYourSide with @fiksimetropop dan Kak Cinthya seminggu ini :)

Can't wait for your next sweet story, Kak Bulan xD