Followers

Tampilkan postingan dengan label dream. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dream. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

Gagas Reader Interview (Repost)

Hello hello, sudah lama nggak muncul pake basa-basi gini, ya, keasyikan nulis fiksi di blog sih hahaha xD tapi kali ini, aku mau membagi sedikit pengalamanku. Seperti judulnya, "Gagas Reader Interview" ini adalah interview yang dilakukan oleh admin twitter GagasAddictInd kepada para pembaca setia novel-novel GagasMedia. Nah, beberapa waktu lalu, ternyata aku mendapat dm (direct message) di twitter dari admin GagasAddictInd ini. Kirain ada apa, ternyata si adminnya bilang mau meng-interviewku. Wow, excited dong aku haha xD langsung, deh, beberapa hari kemudian aku terlibat interview seru dengan admin GagasAddictInd lewat e-mail :)

Dan, karena interview-nya itu hanya dipasang di blog GagasAddictInd, akhirnya aku minta izin sama adminnya untuk menyalin bincang interview kami itu di blogku ini :) nah, gimana, sih, serunya? Let's check it out! xP






Interview Gagas Reader : Hidya Nuralfi




Hai, namaku Hidya Nuralfi Mentari, biasa dipanggil Hidya aja. Umurku 18 tahun, masih mengenyam pendidikam sebagai mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Oh, ya, hobiku menulis dan membaca. Terutama membaca novel-novel GagasMedia :)


Kamu awal tau gagasmedia darimana, sih? Terus kenapa sekarang bisa suka banget sama novel" gagas?

Pertama kali kenal GagasMedia itu waktu aku SMP. Lagi pergi ke toko buku bareng teman-teman, terus melihat-lihat ke rak novel-novel baru. Aku ingat, novel GagasMedia pertama yang menarik perhatianku itu Refrain karya Kak
Winna Efendi dan Let Go karya Kak Windhy Puspitadewi. Memang awalnya karena cover Gagas yang keren itu, sih, jadi tertarik hehe. Akhirnya aku memutuskan membeli Let Go dan temanku membeli Refrain. Jadilah Let Go menjadi novel Gagas pertamaku xD
Setelah baca Let Go, aku merasa penulisannya Kak Windhy itu asik banget. Lalu aku membaca Refrain, dan lagi-lagi suka. Karena itulah akhirnya aku membeli novel-novel Gagas yang lainnya, yang ternyata tidak mengecewakan dan malah membuatku teradiksi sama tata cara penulisan para penulisnya itu. Dan covernya! :)


Wah kapan itu tepatnya kamu pertama kali beli novel gagas?

Aku lupa tanggalnya xD tapi di halaman pertama novel Let Go tertulis identitasku dan bulan belinya 'Okt 2010' :D


Sudah 3 tahun yang lalu yah :) Berarti sekarang novel gagas yang kamu punya berapa banyak tuh? :3

Haha iya xD ada sekitar 30 novel Gagas, semoga saja masih bisa bertambah ;3


Wah banyak ya.. Nah diantara 30 itu, mana 5 terbaik buat kamu? Dan kenapa? :)

Hmm pertanyaan sulit, nih, Min ;p hampir semua novel Gagas aku suka. Tapi kalo 5 yang terpaling itu:



1. Forgiven by Morra Quatro.


Novel ini unforgotten banget. Keren, tentang William Hakim dan fisikanya :') habis baca ini aku galau berhari-hari karena endingnya haha

2. Melbourne by Winna Efendi.


Suka banget dengan ceritanya yang simple tapi diksinya mengalir dengan keren xD plus beberapa playlist lagu di dalamnya bikin aku suka maksimal sama novel STPC ini.

3. Notasi by Morra Quatro.


Novel ini juga berhasil bikin aku galau karena endingnya. Temanya keren, tentang reformasi tahun '98 dan kisah cinta di dalamnya. Mengaduk emosi banget :')

4. Refrain by Winna Efendi.


Suka banget sama kisah Nata Niki di sini xD sederhana tapi manis. Plus suka banget covernya!

5. Let Go by Windhy Puspitadewi.


Jelas aja, karena ini novel Gagas pertamaku. Jadi, novel ini berperan besar, lah hehe. Karena novel ini aku jadi kenal Gagas dan akhirnya mengoleksi novel-novel GagasMedia :)


Dua novel kak winna, dan dua lagi kak morra, ya.. Apa mereka penulis gagas favorit kamu? Kalau iya, kenapa? :)

Haha iya xD
Kalau Kak Winna, aku suka dengan gaya penulisannya yang mengalir dan soft gimana gitu :3 kalau lagi baca tulisannya pasti rasanya tenang dan hening. Karena terbawa sama tulisannya itu. Hihi rasanya kepingin bisa nulis kayak gitu xP dan, orangnya juga ramah banget :)
Kalau Kak Morra, awalnya memang karena aku suka dengan novel-novelnya, jadi aku ngefans sama orangnya juga, deh, hehe. Kak Morra selalu bisa memainkan emosi pembaca lewat tulisannya. Dari dua novel Kak Morra ya kubaca, dua-duanya itu dapet banget feel-nya. Tema yang diangkat dalam tulisannya juga unik dan agak jarang dengan novel romance lainnya. Jadi menimbulkan sensasi merinding kalau baca novelnya haha. Suka pokoknya :D


Nah gagas kan buat banyak project novel sepert stpc dll. Yg plg kamu suka yg mna?:)

Maksudnya projectnya atau novelnya, Min? Hehe. Kalau projectnya aku lebih suka STPC. Tapi Glam Girls dan Gagas Duet nggak kalah seru kok xD sekarang lagi penasaran sama S.C.H.O.O.L nih :)


Admin juga penasaran.. Hahaha.. Harapannya, kamu pengen ada project novel apa? :)

Kepinginnya ada program STPC versi Indonesia, tapi kalau nggak salah udah mau diadain Gagas ya, dengan tema Indonesiana? Jadi ... aku kepingin program novel dengan tokoh utama yang antagonis xP misalnya penjahat, pencuri, dan profesi-profesi yang dianggap masyarakat buruk. Kali aja jadi tema baru dengan tokoh utama yang nggak selalu protagonis. Karena biasanya pembaca susah suka dengan tokoh utama yang tidak sempurna. XD


Semoga ada, ya :)  Apa harapan kamu buat gagasmedia kedepannya?


Harapanku untuk Gagas, semoga bisa lebih baik dan lebih sukses untuk ke depannya. Juga semoga semakin banyak novel-novel berkualitas dan unforgotten yang diterbitkan GagasMedia. Dan ... semoga suatu saat aku bisa menjadi salah satu penulis GagasMedia juga haha (harapan terselubung xP). Pokoknya, semakin baik, deh, untuk GagasMedia! Tetep kece! Because reading is hot, writing is cool! \m/

Jumat, 18 Oktober 2013

Why should I?

Gue nggak pernah berpikir bagaimana bisa gue terjebak sampai di sini. Di cita-cita gue. Di mimpi-mimpi gue.

Gue nggak pernah berpikir sebelumnya, kenapa harus menulis? Kenapa harus membaca? Kenapa harus buku-buku? Kenapa harus sastra? Dan, kenapa harus guru?

Gue nggak sempat berpikir bahwa gue akan menjadi seseorang yang sibuk mengolah kata di microsoft word. Mempunyai folder khusus berisi ratusan dokumen-dokumen yang sebagian besar adalah dokumen microsoft word. Berisi berbagai kalimat 'random' yang akhirnya menjadi judul dari dokumen itu sendiri. Berisi berbagai projek penulisan yang semakin hari akan semakin menumpuk. Yang saat sesekali gue buka, akan menimbulkan kerutan di dahi atau senyuman tipis di bibir karena ternyata semua itu adalah hasil dari gue sendiri.

Gue nggak pernah berpikir sebelumnya, mengapa gue selalu tersenyum sendiri saat ada seorang reader yang me-review tulisan gue dengan segala tetek bengek pujian dan support-nya, juga saat gue merasa down dan kembali berpikir keras saat ada yang sebuah kritik yang menyelinap di antara review-review itu.

Gue nggak pernah berpikir, saat di mana gue benar-benar merasa 'sakau' akan harum buku baru, dan saat itu pula lah gue akan pergi ke toko buku untuk mencari sebuah buku demi memuaskan hasrat adiksi gue. Hingga tanpa sadar, lemari gue sudah penuh dengan buku-buku novel yang gue baca.

Gue nggak pernah menyangka, bahwa sastra akan menjadi bagian dari hidup gue. Bahwa proses cita-cita gue saat ini adalah memelajari berbagai hal mengenai sastra dan bahasanya. Dan, sebagian besar jadwal yang gue miliki adalah mendalami pelajaran itu.

Lalu, kenapa harus guru? Ada yang bilang, cita-cita kita di masa kecil pastilah akan berbeda dengan cita-cita kita di masa depan yang sesungguhnya. But, for sure, dari kecil cita-cita gue adalah menjadi seorang guru. Dan sampai sekarang, cita-cita gue itu nggak berubah. Yang akhirnya membawa gue masuk ke dalam sebuah universitas negeri di Jakarta, sebagai langkah awal juga proses untuk mencapai cita-cita gue tersebut.

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. So, cita-cita gue adalah menjadi seorang guru Bahasa Indonesia.

Gue nggak pernah berpikir sebelumnya, apa yang sebenarnya membawa gue pada semua hal itu. Pada cita-cita gue, pada mimpi-mimpi gue.

And I found that no reason for all destiny and dream.

Gue nggak punya alasan atau jawaban apapun atas semua itu. Yeah, maybe just: that's because I like. Itu karena gue suka. Tapi, not as simple that.

I just feel that ... that things comfort me. Semua hal itu membuat gue nyaman.

Seperti kata Flanney O' Connor, "I am a writer because writing is the thing I do best."

Gue menulis, karena gue merasa itu adalah hal terbaik yang bisa gue lakukan. Gue membaca karena itu hal terbaik yang bisa menghibur gue. Dan gue ingin menjadi guru karena itulah cita-cita terbaik yang gue miliki.

Semua itu memang nggak butuh alasan. Hanya butuh sebuah kenyamanan.

So, why should I?
Because there's no reason and this way just make me comfotrable.

As simple as that.