Followers

Tampilkan postingan dengan label books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label books. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2015

[Book's Review] What If by Morra Quatro





Judul : What If
Penulis : Morra Quatro
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2015

“Apa yang berbeda itu memang tidak pantas bersama?”

Jupiter bertemu Kamila pertama kali di antara langit siang yang terik dan lapangan basket yang lapang. Si Anal. Senior satu tingkat. Asisten dosen kelas semester pendeknya yang selalu berkeras diri bahwa ia bisa membawa tumpukkan lembar kertas mahasiswa dengan tangan kecilnya.

Sejak pertemuan pertama mereka, perbedaan itu sudah jelas terlihat. Tapi, ada sesuatu tentang Jupiter yang membuat Kamila dengan begitu saja menyerahkan nomor teleponnya di antara sunyi-senyap perpustakaan yang menyesakkan. Sejak saat itu, mereka percaya, bahwa tak apa jika berbeda. Tidak apa-apa selama mereka bersama dan dapat mengatasinya.

Tapi, takdir tak berbicara begitu. Sebab ada beberapa hal yang memang tak bisa disatukan, meski sekuat apa pun dikonvergensikan. Perbedaan itu akan mencari jalan divergennya sendiri.

“This is not going to happen, Jupiter. We’re not going to make it.”

“In the end, only kindness matters.
only kindness matters.”

-----WHAT IF BY MORRA QUATRO-----

Saya punya banyak kata untuk buku ini—dan khususnya, untuk Kak Morra. Tapi, saya akan merangkumnya hingga semua kata-kata itu bisa tersampaikan hanya dengan satu wacana bertitel review ini.

What If adalah karya keempat Kak Morra yang saya baca. Bercerita tentang Kamila, Jupiter, dan perbedaa-perbedaan di sekeliling mereka. Untuk para pembaca setianya, saya yakin, segalanya begitu familier dan tidak asing. Bukan tentang ceritanya, atau alur dan endingnya yang (memang juga) familier. Tapi, tentang suasananya. Tentang bagaimana Kak Morra menulis segala detail dan deskripsi dari setiap diksi yang ia pilih. Saya merasakannya, penulisan Kak Morra yang selalu saya anggap mempunyai magis juga nyawa. Penulisan deskripsi yang membawa emosi dan … breath-taking? Heart-warming? Page-turning? Semuanya. Jika ditanya siapa penulis favorit yang pantas menyandang gelar best story-teller, saya tidak akan ragu untuk menyebut Kak Morra sebagai jawaban.

Seperti ketika Kak Morra menjajah emosi saya dengan Will, Langit, dan Nino, Kak Morra melakukannya lagi di sini melalui Jupiter. Jupiter punya sisi yang berbeda dari ketiga tokoh-tokoh pria Kak Morra sebelumnya. Jupiter lebih bad boy, bukan mahasiswa teladan, selengekan, tapi juga punya cinta yang besar. Saya suka ketika dia menatap Kamila dan segala detail yang ada pada dirinya. Tapi, saya juga suka ketika ia tersenyum jahil ketika nama Kamila dikaitkan dengan kata Si Anal. Memang bukan anal yang itu. Tapi, Jupiter selalu punya hal-hal humoris—yang tentu saja tidak menyinggung—ketika istilah itu disebut.

Ah, ya, cerita ini juga berhasil mengubah segala perspektif saya tentang “tidak mau membaca cerita yang mengandung unsur agamis selain Islam”. Jujur saja, saya orang yang sedikit kencang tentang hal itu. Dan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya sulit mendapat feel ketika membaca cerita yang tokohnya memiliki kepercayaan di luar kepercayaan saya—maaf. Tapi, entah kenapa What If berbeda. Jupiter berbeda. Saya berhasil jatuh cinta padanya, sealami saya jatuh cinta dengan tokoh-tokoh mengesankan yang lain. Jupiter melakukannya. Kak Morra melakukannya. Jadi, atas segala pelajaran dan perspektif baru yang saya dapat, sudah sepatutnya saya berterima kasih pada Sang Penulis; Terima kasih, Kak Morra.

Sebelum mengutip adegan yang paling saya suka, ada beberapa hal teknis seperti typo, kesalahan penulisan (krabby peaty : krabby patty), kekeliruan pemenggalan (mer-apat : me-rapat), dan kesalahan EYD (tercekat : tersekat). Mungkin, ada beberapa hal yang saya lewatkan, karena keterbatasan akan ketelitian atau terlalu malas untuk mengecek secara detail (karena saya terlampau menikmati ceritanya). Tapi, hanya itu yang saya temukan dan sempat saya catat ;p

So, my favorite part? Ada dua. Pertama, ketika dengan nekatnya Kamila memangkas rambut panjangnya di awal cerita! Demi apa pun, adegan ini langsung saja membuat saya jatuh cinta pada Kamila. Saya suka penggambaran tokoh perempuan yang seperti ini. Kedua, ketika Piter berkata, “Kamila, your hands are small—“ di antara langkah-langkah kakinya menuju loker dosen untuk menaruh berkas-berkas tugas yang seharusnya menjadi tugas Kamila. Saya selalu tersenyum mengingat adegan ini. Dan adegan-adegan permintaan Piter membantu Kamila membawa berkas-berkasnya yang lain. Mungkin, ini klise, tapi Kak Morra mengemasnya dengan berbeda dan … berkesan :)

Saya tidak akan mengomentari tentang ending. Sebab, bagian inilah yang selalu saya suka dari tulisan-tulisan Kak Morra. And, saya tidak akan pernah bosan untuk bilang: selalu ditunggu cerita-cerita cerdas yang lainnya, Kak!

4 of 5 stars for What If

love,
hidya

Sabtu, 04 Juli 2015

Kado Untuk Blogger



HAPPY BIRTHDAY 12TH, GAGASMEDIA!



            Tahun ini, tepat tanggal 4 Juli, salah satu penerbit kesayangan saya merayakan hari jadinya yang ke-12. Yeah, it’s GagasMedia anniversary! Tidak terasa, dua belas tahun sudah Gagas menemani kita para pembaca dengan terbitan buku-bukunya yang semakin keren dari tahun ke tahun. Bagi saya pribadi, Gagas memiliki tempat tersendiri di hati karena novel-novel terbitannya yang khas dan sangat menyenangkan untuk dinikmati.
            Nah, seperti tahun kemarin, di ulang tahunnya kali ini GagasMedia juga memberikan hadiah untuk pembaca setianya dengan tajuk; Kado untuk Blogger. Tapi, kali ini, tugasnya adalah dengan menjawab 12 pertanyaan yang diberikan oleh GagasMedia. Nah, apa saja pertanyaannya dan jawaban versi saya? Ini dia:



1.      Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setah kamu membacanya!
1.      The Chronicles of Audy: 4R – Orizuka
2.      The Chronicles of Audy: 21 – Orizuka
3.      The Chronicles of Audy: 4/4 – Orizuka
4.      Forgiven – Morra Quatro
5.      Notasi – Morra Quatro
6.      Priceless Moment – Prisca Primasari
7.      Paris: Aline – Prisca Primasari
8.      Refrain – Winna Efendi
9.      Always, Laila – Andi Eriawan
10.  Monsoon (Apa Maksud Setuang Air Teh) – Syahmedi Dean
11.  Antologi Rasa – Ika Natassa
12.  L – Kristy Nelwan

2.      Buku apa yang pernah membuatmu menangis?
Ada beberapa buku yang memiliki kesan tersendiri untuk saya. Dan rata-rata buku tersebut adalah buku yang pernah membuat saya menangis. Di antaranya adalah:
1.      Forgiven karya Morra Quatro. Penulisan yang sederhana, jalan cerita yang istimewa, serta ending yang luar biasa adalah perpaduan novel Forgiven ini. Dengan tulisan khasnya, Kak Morra mampu membawa pembacanya ke dalam rasa sesak dan tembakan telak pada akhir ceritanya. What a special ending :’)


2.      Notasi karya Morra Quatro. Sama seperti Forgiven, novel ini juga membawa perpaduan menyesakkan dengan rangakaian kata yang ditulis Kak Morra. Jalan cerita yang manis ditutup dengan ending yang miris, cukup membuat saya membuang air mata :’)


3.      Always, Laila karya Andi Eriawan. Novel ini memberikan rasa yang berbeda bagi saya. Ditulis oleh seorang laki-laki, rasanya heran sendiri mengapa saya bisa mengakhiri novel ini dengan air mata. Tapi, itulah yang terjadi, penulis memberikan cerita cinta manis antara dua tokoh utamanya, untuk kemudian memberikan akhir yang jauh dari kata bahagia untuk keduanya. And, I cried.


3.      Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?
This one: “Akhirnya, ada beberapa hal yang aku nggak ahli ‘kan, K. I can’t tell you how I love you. That’s just–way beyond my vocabulary.” (Forgiven by Morra Quatro page 251)
4.      Siapakah tokoh dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok jadi pasangannya?
I think it’s the hardest part to choose one of them (hahaha). Well, tokoh dalam buku yang akhir-akhir ini membayangi saya dan membuat saya susah move on adalah Regan Rashad dari The Chronicles of Audy series karya Orizuka. Saya suka cowok tipe Regan; hangat, dewasa, lembut, pengertian, walau sedikit pelit, tapi, he’s so lovable. Bahkan saya cemburu sama tokoh yang Regan nikahin di novel tersebut ;p

5.      Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!
Honestly, saya sangat suka sad ending yang mencakar-cakar hati pembaca di akhir cerita. Sebab, saya merasa sebuah cerita happy ending akan lebih mudah saya lupakan sedang sad ending lebih sulit dilupakan. Dan sampai saat ini, novel-novel yang menjadi favorit saya rata-rata memiliki sad ending :)

6.      Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa memilih buku itu?
Buku pertama GagasMedia yang saya beli adalah Let Go karya Windhy Puspitadewi. Mungkin sekitar enam tahun yang lalu. Yang membuat saya tertarik adalah cover-nya. Sebab, dari dulu, keunggulan GagasMedia dalam menarik pembaca selalu terletak pada cover-nya.

7.      Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?


Monsoon (Apa Maksud Setuang Air Teh) karya Syahmedi Dean. Saya suka dengan judul yang ‘tidak biasa’ dan membuat yang membaca bertanya-tanya akan judul itu. Saya rasa, judul novel terakhir dalam tetralogi fashion itu sudah mewakili semuanya.

8.      Sekarang, lihat rak bukumu.. cover buku apa yang kamu suka, kenapa?


Refrain karya Winna Efendi. Di masa-masa awal terbitnya, saya yakin, cover Refrain yang simpel dan sepucuk surat biru yang manis ini mampu menarik banyak pembaca. Dan sampai sekarang, saya masih merasa cover Refrain adalah cover yang paling saya sukai.

9.      Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?
Untuk yang sudah mengenal saya, pasti mereka akan tahu apa jawaban yang akan saya berikan untuk pertanyaan ini. Ya, FRIENDZONE! xD mainstream? Pasaran? Klise? Yeah, but, hingga sekarang, tema ini masih menjadi tema yang saya gilai. Mungkin, karena saya senang membaca cerita tentang bagaimana sebuah cinta dapat muncul dalam sebuah proses bernama persahabatan. Maka dari itu, saya sangat menyukai tema ini.

10.  Siapa penulis yang ingin kamu temui, kalau sudah bertemu, kamu mau apa?
Sebenarnya Alhamdulillah, beberapa penulis yang masuk daftar favorit saya sudah pernah saya temui. Tapi, ada satu lagi yang sampai sekarang belum pernah saya temui: Morra Quatro :’3 mungkin, saya akan bertanya banyak tentang bagaimana cara Kak Morra merangkai kata-kata yang ia tulis di dalam novelnya. Karena saya selalu percaya, tulisan Kak Morra memiliki semacam magis yang membuat perasaan pembacanya menghangat ketika membaca itu. Semoga, someday, kita bisa ketemu, ya, Kak :D

11.  Lebih suka baca e-book (buku digital) atau buku cetak (kertas), kenapa?
No doubt, saya lebih suka buku cetak. Karena membaca e-book sendiri kurang nyaman untuk saya. Dan hingga sekarang, saya belum pernah dengan sengaja membeli novel incaran yang berformat e-book.

12.  Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!
If reading is hot and writing is cool, so, GagasMedia is extraordinary!

            That’s all. Sebuah rangkuman 12 jawaban dari pertanyaan yang diberikan GagasMedia. Yeay! Nah, sekali lagi, Happy 12th birthday, GagasMedia! Semoga ke depannya selalu menjadi publisher kece dan keren! Salam #TerusBergegas (^^)9

Hidya

Jumat, 16 Januari 2015

[Book Review] Friends Don't Kiss by Syafrina Siregar


Judul              : Friend Don’t Kiss
Penulis            : Syafrina Siregar
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Tebal Buku    : 208 halaman

Mia Ramsy adalah seorang perempuan lajang yang mengabdikan dirinya pada sebuah organisasi nirlaba bertajuk Indonesian Breastfeeding Mothers. Di sana, Mia bersama perempuan-perempuan lainnya memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif dari Ibunya. Karena bagi Mia, tak ada satu pun jenis susu yang dapat menggantikan peran ASI, pun sebuah susu formula dengan merk paling terkenal dan sejumlah embel-embel manfaatnya yang diiklankan.
Mia berjanji pada adiknya–Lia, saat adiknya itu melahirkan nanti, Mia akan mendampingi Ibu muda itu untuk melakukan IMD–Inisiasi Menyusui Dini. Tapi, karena keterlambatannya dan kebiasaan uniknya yang sering menabrak mobil di parkiran, Mia terlambat mendampingi adiknya. Ditambah lagi, bayi Lia yang terus-menerus menangis saat disusui membuat Lia semakin ketakutan akan produksi ASI-nya dan marah dengan Mia.
“Bayi menangis bukan patokan ASI lo kurang, Lia. Itu hanya salah satu kemungkinan.”

Sayangnya, usaha awal Mia yang hampir berhasil untuk kembali meyakinkan Lia memberikan ASI eksklusif terhalang oleh suami Lia yang menyuruh adiknya itu untuk memberikan susu formula juga agar Lia tak terlalu kelelahan menyusui.

“Tapi menurut gue ASI dan susu formula nggak jauh berbeda,”
“Jelas beda dong, Lia. ASI itu makanan yang bergizi dan berkalori tinggi, juga mudah dicerna. Kandungan yang terdapat di dalam ASI membantu penyerapan nutrisi, membantu perkembangan dan pertumbuhan, juga mengandung sel-sel darah putih, anti-bodi, anti-peradangan, dan zat-zat biologi aktif yang penting bagi tubuh bayi dan melindunginya dari berbagai penyakit. Semua itu nggak terdapat dalam susu formula.”

Selain harus menghadapi perbedaan pendapat dengan adiknya, Mia juga harus terlibat masalah dengan seorang pria bernama Ryan yang mobilnya Mia tabrak di parkiran beberapa waktu lalu. Namun, seiring berjalannya waktu, Mia dan Ryan malah semakin berteman akrab. Mulai dari Ryan yang sering mengajak Mia pergi bersama, sampai kedatangan pria itu yang semakin rutin ke apartemen Mia setiap jam makan malam. Sampai akhirnya, sebuah insiden ciuman itu terjadi. Hanya saja, walau setelah kejadian itu, mereka tetap menjadi Mia dan Ryan yang biasa, yang berteman baik.

That’s what friends are for.”
In case you forgot, Mia, friends don’t kiss.”

Hingga suatu hari, ketika hubungan Mia dan Ryan semakin dekat, Mia akhirnya mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan Ryan darinya, gadis itu akhirnya tahu siapa Ryan sebenarnya. Dan itu membuat Mia mau tak mau menjauhi Ryan meskipun ia tahu, kalau ia sudah jatuh cinta dengan pria tersebut.

It’s not gonna work, Ryan. Kita dua pihak yang berseberangan.”
How the hell I know, Mia? Aku mencintaimu. Aku yakin kamu pun mencintai aku. Apa lagi yang lebih penting?”

“Ryan sudah berusaha memperjuangkan lo, apa sekarang lo mau memperjuangkan dia juga? Karena dalam pernikahan nanti yang perlu berjuang itu bukan hanya Ryan, tapi kalian berdua.”

----------FRIENDS DON’T KISS BY SYAFRINA SIREGAR----------

First of all, untuk kesekian kalinya, saya mau mengucapkan selamat atas kelahiran novel terbaru Mbak Nana ini. Akhirnya bisa bertemu Mia dan Ryan dan juga kisah cinta menggemaskannya di sini! :3

Friends Don’t Kiss merupakan tulisan ketiga Mbak Nana yang saya baca–setelah DJ dan JD, yang ditulis bersama Primadonna Angela, dan juga cerpennya yang ditulis bersama 45 penulis GPU di kumpulan cerpen Cerita Cinta Indonesia. Dari sana, saya sedikit banyak sudah memahami gaya tulisan Mbak Nana yang sederhana, to the point, namun enak dibaca karena ringan dan diksinya yang tidak membuat kita terlalu banyak berpikir. Sedikit witty juga karena Mbak Nana suka sekali mendeskripsikan tokoh utama prianya dengan deskripsi menggoda :p

Secara keseluruhan, saya mendapat banyak pengetahuan dari novel bertema breastfeeding ini. Informasi-informasi tentang ASI yang terkandung di dalamnya sukses menjadi daya tarik terbesar dari novel ini. Saya juga kagum dengan Mbak Nana, dari sekian banyak tema novel metropop yang diusung dengan tema ‘pasaran’, Mbak Nana berhasil menciptakan tema yang unik dan berbeda. Dalam sebuah artikel, saya menyebut Friends Don’t Kiss ini sebagai Novel Metropop BereduASI.

Hanya saja, dari tema menarik yang sudah saya sebutkan di atas, justru cerita romansa antara Mia dan Ryan yang Mbak Nana bangun di sini jadi seperti kehilangan nyawanya. Entah mengapa, saya kurang mendapat feel di setiap scene antara Mia dan Ryan. Saya bahkan lebih excited saat berada pada scene di mana deskripsi-deskripsi tentang ASI dijelaskan. Padahal, konflik yang dibangun antara Mia dan Ryan sudah sangat strike. Walau sederhana, tapi sukses dapat menjadi penghalang di antara kedua tokoh ini.

Selain itu, saya juga lumayan geregetan dengan sifat Mia yang plin-plan di sini. Terutama dengan adiknya, Lia. Mereka sering sekali bertengkar, kemudian kembali baikan, tetapi kemudian bertengkar lagi, dan begitu seterusnya. Selain itu, sifat Mia yang menggembor-gemborkan ASI eksklusif untuk bayi tersebut juga tanpa disertai alasan yang jelas. Biar bagaimanapun, Mia masih seorang lajang, mungkin seharusnya diberikan sebuah penjelasan yang menguatkan sikap Mia tersebut.

Kalau dari segi penulisan, sepertinya tidak banyak yang perlu saya komentari, selain typo-typo yang terlewat. Itu pun hanya sedikit sekali, karena secara keseluruhan, saya menikmati tulisan Mbak Nana. Ada satu yang sedikit mengganggu, yaitu ketidakkonsistenan panggilan antara Mia dan Gina. Di sebuah percakapan, mereka berinteraksi dengan menggunakan panggilan “lo-gue”, tetapi di percakapan lain, mereka menggunakan panggilan “aku-kamu”. Saya tidak tahu ini sengaja atau bagaimana, hanya saja, jika panggilannya dibuat secara konsisten akan lebih baik lagi.

Tapi, overall, saya sangat menikmati novel ini. Terutama informasi-informasi serta pengetahuan tentang ASI-nya yang sangat edukatif sekali. Saya acungi jempol untuk Mbak Nana yang sudah berani mengambil tema breastfeeding dalam cerita metropopnya. Saya seperti mendapat sebuah bacaan edukatif berbonus cerita romantis :)

Like I said before, novel ini pantas sekali dijuluki Metropop BereduASI.

3 of 5 stars, then.
hidyanuralfi





Jumat, 04 Juli 2014

Rekomendasi 11 Buku Gagas Media

Happy Birthday, Gagas Media! 11 tahun bukanlah waktu yang singkat, peralihan masa menuju remaja jika difilosofikan seperti manusia. Maka, 11 tahun yang telah dijalani Gagas Media haruslah menjadi tahun yang perlu disyukuri, kini Gagas tengah menuju masa-masa remajanya J. Sebagai seorang pembaca, ada banyak buku hilir mudik dalam setiap hariku, dan di antaranya, ada beberapa buku yang memiliki ruang tersendiri di dalam hati. Kita menyebutnya ‘special books’, buku-buku spesial yang terus membekas meski buku itu sudah selesai kita baca. Anggap saja buku sepanjang masa versi diri kita J
Maka dari itu, meskipun baru sekitar empat tahun mengenal Gagas Media, aku memiliki beberapa buku rekomendasi yang menjadi buku sepanjang masa versiku. Meskipun banyak, tapi di sini aku memilih 11 buku terbaik Gagas Media rekomendasiku. Sesuai umur Gagas tahun ini :3
So, check this out! Aku mulai dari posisi 11, ya…

11. Let Go by Windhy Puspitadewi

Novel ini merupakan novel Gagas Media pertama yang kupunya, sekaligus novel yang memperkenalkanku pada Gagas. Bercerita tentang Caraka, Nathan, Nadya, dan Sarah—empat orang dengan kepribadian yang berbeda namun pada akhirnya menjadi sahabat satu sama lain karena perbedaan tersebut. Ceritanya memang sederhana, namun novel ini berhasil membuatku jatuh cinta pada Gagas, dan akhirnya menuntunku untuk kembali membeli novel-novel Gagas Media lainnya :’)

10. Refrain by Winna Efendi


Salah satu novel Gagas Media favoritku sepanjang masa :’D bercerita tentang Nata dan Niki, sepasang sahabat yang kemudian saling jatuh cinta. Karena novel ini, pada akhirnya aku menemukan satu penulis yang menjadi favoritku, Kak Winna Efendi J

9. Montase by Windry Ramadhina


Novel dengan cover cantik ini bercerita tentang Rayyi dan Haru dan dunia fotografinya. Ada perasaan tenang, meledak-ledak, serta haru saat aku membaca ini. Sebuah cerita yang mengajarkan bahwa cinta datang tak pernah diduga, dan juga siap pergi tiba-tiba. Penulisan Kak Windry yang menjadikan Rayyi sebagai point of view membuatku menemukan versi baru dari novel-novel yang kubaca. Karena novel ini diceritakan dari sudut pandang seorang laki-laki oleh penulis perempuanJ

8. Remember When by Winna Efendi


Novel pertama yang kuhabiskan saat tengah berada di sebuah toko buku! How can I? :’D namun itulah, aku menamatkan novel ini di Gramedia. Dan yang menakjubkan, aku ikut menangis saat membacanya. Masih ingat bagaimana rasanya aku membaca sambil berdiri, namun tak pelak, aku benar-benar tetap sangat sangat menikmati ceritanya. Beberapa waktu setelah itu, barulah akhirnya aku memiliki novel ini dan dibawa pulang ke rumah :’D

7. I For You by Orizuka

Salah satu novel yang ditulis oleh salah satu penulis favoritku juga, Kak Orizuka :D novel ini menjadi salah satu novel yang kurekomendasikan karena Kak Ori sukses menyatukan segala tetek bengek emosi seperti ceria, kehangatan, dingin, kaku, haru, dan kesedihan dalam satu kesatuan. Plus dengan jalan cerita yang benar-benar membuat semua emosi itu meledak-ledak :’)

6. Paris: Aline by Prisca Primasari

Serial Setiap Tempat Cerita pertama yang diterbitkan Gagas Media. Paris memberikan kejutan emi kejutan di setiap halamannya. Dan lagi, aku belum pernah menemukan novel dengan jalan cerita dan para tokoh yang unik seperti di dalam novel ini. Aeolus Sena, the most weirdo guy I’ve ever known. But, still cool! Karena keunikan itulah novel ini menjadi salah satu novel rekomendasi yang wajib dibaca versiku.

5. Bangkok: The Journal by Moemoe Rizal

Belum pernah aku membaca novel dengan tema keluarga seenjoy saat aku membaca Bangkok karya Kak Moemoe Rizal ini. Juga beberapa isu seperti transgender yang biasanya membuatku mengernyit, namun aku menemukan diriku tenggelam dalam cerita itu di sini. Dengan bahasa yang ceplas-ceplos khas laki-laki, Bangkok menjadi salah satu novel ‘berat’ yang terasa ‘ringan’ saat membacanya J very recommended.

4. Melbourne: Rewind by Winna Efendi

Lagi-lagi seri STPC. Dari semua seri STPC yang kubaca, mungkin novel ini memang yang paling plain. Namun, segala diksi serta kata-kata yang Kak Winna tulis di sini menjadi yang paling kukagumi. Kak Winna mampu membuat tema biasa menjadi sebuah cerita yang enak dibaca. Tidak membosankan. Mencandu. Ditambah beberapa playlist yang tertulis di buku ini, seluruhnya menjadi sebuah kesatuan yang sangat spesial J cocok dibaca untuk semua pembaca yang sangat menggandrungi novel romance.
3. Notasi by Morra Quatro

Sejak kapan aku menyukai novel yang berhubungan dengan sejarah? Jawabannya adalah sejak aku membaca Notasi J hal-hal berbau sejarah Indonesia di sini justru menguatkan konflik cerita. Juga penulisan Kak Morra yang kusebut ‘penuh misteri’ ini membuatku terus mengira-ngira ada apa sebenarnya di setiap kata yang ditulis Kak Morra. Aku sangat-sangat menikmati novel ini. Dan menurutku, ini adalah novel cerdas yang sangat direkomendasikan untuk para pembaca semua kalangan J

2. Always, Laila by Andi Eriawan

Satu-satunya novel Andi yang kubaca dan kupunya. Satu-satunya novel ‘jadul’ yang membuatku jatuh cinta. Dan satu-satunya novel yang membuatku merasa hangat sepanjang awal hingga setengah buku, namun merasa sesak sepanjang setengah hingga akhir halaman buku. Dengan tokoh-tokoh yang sangat hidup, Pram dan Laila membuat kita melihat bagaimana realitas cinta yang sebenarnya. Yang tidak berlebihan namun tetap manis dirasa. Sekaligus pahit di akhir.

1.     Forgiven by Morra Quatro
Why Forgiven?
Why?
Karena novel ini sama sekali tidak bisa hilang dalam pikiranku bahkan saat aku membaca novel-novel lain. Terkadang, aku terus-menerus mencari apakah masih ada lagi novel bertema sama yang bisa kutemukan. Dan satu-satunya yang mampu menandingi novel ini hanyalah Notasi—masih ditulis dengan penulis yang sama.
Seperti yang kukatakan, Kak Morra memiliki semacam ‘misteri di balik setiap kata yang ia tulis’. Jadi, saat aku membaca tulisannya, selalu ada terkaan yang merasuki pikiranku. Dan cerita William Hakim ini benar-benar menjadi paduan sempurna dari sebuah novel yang kuidam-idamkan. Ceritanya kompleks. Kalian akan diperkenalkan dengan si genius Will dan Karla—sahabatnya. Bagaiamana misteri-misteri mulai muncul dalam kehidupan mereka yang biasa-biasa saja, juga bagaimana akhirnya mereka menjalani hidup dengan cara yang berbeda, namun masih terkait satu sama lain.
Agak berat, tetapi aku sangat enjoy membacanya.
Seperti Notasi, Forgiven juga merupakan novel cerdas. Kalian akan tahu sebagus apa novel ini saat kalian membacanya J very very recommended!

Itulah 11 novel Gagas Media versi rekomendasiku. Mungkin beberapa pendapat bersifat subyektif, namun, tidak ada salahnya mencoba membaca, bukan?
Sekali lagi, Happy 11th Birthday, Gagas Media! Reading is hot, Writing is cool! <3 p="">