Followers

Tampilkan postingan dengan label monolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monolog. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

Monolog Rasa

Matahari yang bersinar bukan jawaban. Ke mana harusnya rasa kuutarakan?

Aku tak pernah berpikir saat cinta berubah nama. Yang kudapatkan hanyalah sebuah langit gelap tanpa panorama.

Bisakah, bisakah kita mengumbar saling? Sebagaimana harusnya cinta itu berpaling.

Lalu, ke mana harusnya aku berfrasa? Meluruh segala rasa yang penuh dengan asa.

Ke mana kuharus singgah? Jika rumah yang kupunya hanyalah sebongkah benda tanpa nyawa dan arah.

Diam tak berarti paham. Maka, aku akan terus bermonolog sampai tenggelam.

[Hdy/10/11/13]

Jumat, 25 Oktober 2013

Earth—between Mars and Venus

Aku tak sempat mengatakan apapun lagi. Saat langit mulai kelabu, senja tak lagi tampak, dan butir liquid pertama jatuh mengenai keningku—disusul oleh rintik-rintik selanjutnya yang kian merebak. Mulai menguarkan aroma petrichor pada lingkup hawa di sekitarku.

Ada yang bilang, saat rintik hujan pertama datang dan dengan kemudian kau menyebutkan permintaan, maka permintaan itu akan terkabul.

Tetapi aku tak meminta apapun. Tak ada lagi yang mampu kupinta, kalau ternyata seluruh keinginanku telah dibawamu. Dibawa olehmu. Kau yang tak lagi menyusuri hidup dalam lingkaranku. Tak akan pernah lagi.

Mungkin, kau memang harus kembali ke Mars. Dan aku seharusnya berada di Venus. Agar tak ada lagi harap yang sekedar. Agar tak lagi mampu harap yang kuujar. Dan, tak ada lagi bayangan semu di masa lalu.

Mungkin, John Gray, Ph.D. benar, bahwa—laki-laki berasal dari Mars, dan perempuan berasal dari Venus. Karena, bumi pun selalu menjadi di antara. Tak akan pernah dapat menyatukan. Dan akan selalu menjadi jarak keduanya. Seperti kau dan aku, yang tak akan bisa bersatu di bumi ini.

Mungkin, kita akan bertemu di langit, suatu hari nanti.
[hdy]

...

"Men are from Mars, women are from Venus." —that's quote I take from a novel tittle by John Gray, Ph. D.

Kamis, 24 Oktober 2013

Dalam semu

Sepotong rasa menghanyut malamku kini. Sebuah rasa yang entah itu apa, mengalir pesat pada setiap aliran hawa di sekitarku. Aku sering merasakannya, dalam durasi waktu yang tak pasti, juga tak sekalipun terasa sistematis. Ini datang begitu saja. Menjerat jiwa yang seolah tergalau semu.

Salah, kalau kau bilang rindu. Ini tak hanya sekedar ingin bertemu. Bukan tentang rasa yang melumat dalam keseluruhan hati hingga berujung ragu. Aku tak mengerti, begitu.

Tidak benar, kalau kau bilang cinta. Aku tak sedang berbunga-bunga. Atau merona merah pada pipi di antaranya. Tak sekalipun kurasa terlamapau bahagia. Bukan, ini bukan cinta.

Absurd. Guratan abstrak melekat dalam seluruh otak. Berpendar terus ke rongga dada, hingga mencapai hati dan perasaan. Aku tak tahu. Dan tak pernah tahu.

Ini, begitu semu.

Atau memang semu?

Selasa, 22 Oktober 2013

Untuk Segala Mimpi yang Hampir Tercapai

gadis itu terdiam

sesaat

ada frase yang hampir terbentuk

ada analogi yang hampir terwujud

dia dan aku sama saja

menampung mimpi lewat kata-kata

lewat goresan petang juga kesepuluh jari tangan

dengan pandangan mata yang tak seolah tak pernah lelah

gadis itu merenung sesaat

menatap senja yang katanya sempurna

memoles pikir bak mesin setiap harinya

adalah hal yang menyenangkan

begitu

karena, untuk segala mimpi yang hampir tercapai

aku tak akan berhenti di sini

aku akan sampai nanti

sesegera mungkin

-Hdy

Selasa, 24 September 2013

Surat untuk Hujan

image: bestquotesfb.blogspot.com
Kepada, Hujan.

Mari kita bicara tentang hadirmu. Tentang hawa sejuk yang terulas, serta genangan air di antaranya.

Ada nyaman yang kau tawarkan. Sebanyak guyuran likuid yang terus membasahi alam, sebesar kilat yang bergempar sesaat. Suaramu, terdengar membelah hari. Memberi melodi tersendiri pada setiap indera yang mendengar. Seperti pecahan kaca di ruang kosong; menggema dan membekas.

Hujan, akan kuceritakan sebuah hal menyenangkan saat kau datang—dan untuk kemudian pergi. Ada banyak hal indah setelahmu. Apakah kau tahu itu? Kau tak perlu menjawab, karena aku akan tetap melanjutkan.

Setelahmu, ada pelangi yang menggantung indah sewarna cinta di langit. Ada petrichor, aroma sehabismu yang membius semua penciuman, aku yakin tak ada yang tak menyukai aroma sehabis hujan. Ada becek, yang membuat para anak kecil tertawa riang dengan wajah jenaka. Juga ada embun, yang membuat helaian daun terlihat lebih indah ditatap.

Lalu, ada rasa. Yang terbentuk absurd dalam analogi tak terwujud.

Aku menantikanmu, karena aku ingin melihat setelahmu. Aku menunggumu, karena aku ingin melihat saat kau berhenti.

Hujan, apa kau ingin membalas suratku? Kalau ya, turunlah mengguyur bumi lagi. Dengan begitu, kau telah menjawab seluruhnya.

Tertanda, Aku;

yang selalu menunggu hujan—hanya untuk melihatnya berhenti.