Followers

Tampilkan postingan dengan label writing competition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing competition. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Reload (Melbourne: Rewind Fanfiction)


Fanficion ini diambil dari novel Melbourne: Rewind karya Winna Efendi
.
.
Reload
.
.
Max

            Pernah, nggak, lo merasakan sebuah perasaan yang teramat canggung dan melegakan di saat bersamaan sekaligus?
            That my feeling right now.
            She’s here. Dengan terusan satin berwarna gading selutut, masih dengan rambut ikal panjangnya yang tergerai hingga ke punggung. Dan, oh, bintik-bintik cokelat muda di wajah ovalnya juga masih bisa gue lihat.
            “Max?”
            Suaranya juga nggak berubah. Satu-satunya yang terlihat berubah dari dia adalah I-pod putih yang menyembul pada tas selempang kecilnya. Dia sudah nggak menggunakan walkman bututnya lagi, eh?
            Gue tersenyum singkat. Mengangguk samar bermaksud untuk membalas sapaannya dan, mungkin, memberi kode supaya dia ikut duduk bergabung di sini bersama gue.
            May I…?” Tanyanya ragu dan gue cepat-cepat mengangguk singkat kemudian menggeser duduk gue, memberikan ruang pada sofa yang gue duduki supaya dia bisa menyamankan diri duduk di sana.
            Sudah enam bulan semenjak kami berbagi meja dan menyesap kafein bersama di Prudence. Ingat saat terakhir kali kami melakukan semua ini? Saat itu, saat di mana gue dan dia bertengkar hebat akibat kecerobohan gue yang kembali menyatakan perasaan gue. Cinta.
            How are you, Laura?”
            Setelah akhirnya Laura kembali ke Prudence saat itu—saat setelah ia berkeliling beberapa Negara sendirian, gue tahu dia telah memaafkan gue. Kami kembali bersikap biasa, seperti Max dan Laura sebelumnya. Seolah pernyataan cinta kembali yang gue lontarkan ke dia beberapa saat sebelumnya tak pernah terjadi.
            Tapi, gue nggak tahu kalau dia akan membawa berita itu.
            Really fine. And you?” ia tersenyum saat mengucapkannya, membuat gue mau nggak mau juga ikut tersenyum—sulit.
            “Seperti yang lo lihat.” gue menatapnya sekilas. “Gimana Hans?”
            Gue melihat tubuh Laura sedikit menegang. Kemudian, sekali lagi memaksakan sebuah senyum. Oh, gue benci senyum itu.
            “Dia baik-baik aja. Lagi semangat-semangatnya milih warna untuk wedding party kami nanti.”
            Enam bulan yang lalu, saat ia kembali ke Prudence dengan membawa semua harapan gue akan dirinya, Laura justru membawa berita yang mampu menyumbat semua aliran darah yang ada pada tubuh gue. She’s talk about Hans. Laki-laki yang juga bekerja di tempat yang sama dengan Laura. And she’s talk about their relationship.
            Gue nggak ingat mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman atau sahabat. Bahkan, Laura pernah menyinggung tentang Olivia—pacar Hans. Tapi, hari itu dia mengatakannya. Hans yang hadir di antara kesepiannya menjelajahi beberapa Negara yang, by the way, dulu adalah tujuan gue bersama Laura. Hans yang perhatian. Hans yang baik. Hans yang lucu. Serta analogi-analogi lain tentang laki-laki itu.
            She’s break my heart. Laura nggak tahu, betapa saat ia kembali ke hadapan gue, benih-benih harapan itu sudah terlanjur muncul kembali. Gue mencoba bersabar, membiarkan hubungan kami mengalir semaunya. Dengan naifnya merasakan bahwa saat itu gue telah merasa cukup.
            Tapi pembicaraan tentang Hans mengacaukannya. Ditambah, saat akhirnya Laura mengatakan dia dan Hans pacaran. Gue benar-benar nggak bisa lagi merasakan udara di sekeliling dengan sewajarnya.
            “Seminggu lagi, Max. Datang, ya.”
            Gue mendongak, tersadar dari segala kemelut pikiran gue tentang masa-masa itu. Laura mengulurkan sebuah kartu berwarna putih susu, dengan pita merah muda yang cantik tersemat di tengah-tengah permukaannya.
            Hans & Laura tertera di sana.
            Gue menerimanya.
            “Ajak Marly juga, sampaikan salam gue buat dia ya, Max.”
            Dan setelah itu, Laura berdiri. Tanpa sepatah kata, tanpa sedikit pun menoleh lagi, dia keluar meninggalkan Prudence.
            Dan gue.
            Si pathetic yang bahkan merasa terejek hanya karena sebuah kartu undangan pernikahan yang ada dalam genggaman gue saat ini.
Laura

            Berbicara soal pernikahan, akan selalu membuatku gugup. Apalagi saat-saat di mana dirimu menyebarluaskan seluruh undangan untuk para kerabat dekat maupun kenalan-kenalan yang nantinya diharapkan hadir pada pernikahan itu sendiri. Biasanya, saat aku menerima undangan pernikahan dari kenalanku, aku akan tersenyum dan perasaanku menghangat tanpa sadar karena melihat binaran mata si pemberi undangan yang notabene adalah calon pengantin. Mereka tak akan bisa berhenti tersenyum karena salah satu tujuan terbesar dalam hidup mereka itu akan terlaksana sebentar lagi.
            Tapi aku berbeda.
            Saat aku memberikan kartu bersemat pita cantik itu kepada Max tadi, aku tak merasakan kebahagian serta rasa hangat yang membuat matamu berbinar itu. Yang ada, hanya rasa gugup dan takut dalam waktu bersamaan. Entah mengapa, tapi kurasa ini bukanlah ide yang bagus.
            Sudah laam kami tidak bertemu. He’s change. Secara fisik. Ia lebih terlihat dewasa, tetapi sama cueknya. Bahkan aku tidak pernah menebak apa keinginannya selain meraih mimpi bersama cahaya-cahayanya itu. Max berpacaran dengan Marly, yang dulunya adalah teman Max. She’s witty. And caring. Especially about Max. Kupikir, jika ada satu wanita yang bisa mendampingi Max selama hidupnya, orang itu adalah Marly. Yang kudengar, mereka berdua memang belum terlalu lama menjalin hubungan. Tapi aku bersyukur, Marly yang akhirnya Max pilih.
            Setelah aku.
            I don’t know. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan Max terhadapku sekarang. Dulu, saat akhirnya aku memutuskan untuk memaafkannya, aku hanya ingin hubunganku dengannya kembali seperti biasa. As usual. As friend. Just friend.
            Yang ia tidak tahu, selama kami berpisah, Hans masuk lebih dalam ke dalam kehidupanku. Aku memang tak pernah menyangka akan ada perasaan lebih dari sekadar teman atau rekan kerja antara aku dan Hans. But, he’s not bad. Hans mirip Evan. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengatasi sedikit rasa patah hatiku yang tertinggal terhadap Evan. I know, Evan sudah hidup bahagia bersama Cee. Aku hanya ingin mencari sisa kebahagiaan itu. Untukku.
            Aku melangkah dengan cepat meninggalkan Prudence. Meninggalkan Max tanpa sepatah kata apapun lagi. Tiba-tiba saja aku merasa takut berada lebih lama bersama Max. Ada sesuatu yang membuatku meragu.
            Tatapannya.
            Tatapan yang masih sama seperti dulu. Seperti tatapan pertamanya di depan kelas saat aku meminta walkman-ku kembali, saat pertama kali kami mengobrol di Prudence, saat pertama kali ia menyatakan perasaannya padaku, dan saat pertama kali kami kembali bertemu di depan stasiun radio tempatku bekerja.
            Sekeras apapun aku mengabaikan Max, satu-satunya yang tak bisa kuabaikan adalah tatapan itu.
            Tatapan yang penuh cinta.
Max

            I’m the sucking stupid men in the world.
            Karena tiba-tiba saja gue ingin membatalkan pernikahan Laura.
            Am I asshole? Call me like that as much as you want. I don’t care.
            Gue nggak pernah begitu menginginkan sesuatu seperti gue menginginkan Laura. She’s everything. Dia itu seperti sesuatu yang melengkapi semua cahaya-cahaya yang selama ini gue kagumi. Laura adalah pelengkapnya.
            Dan kini dia akan menikah.
            Yang Laura nggak tahu, selama tiga bulan gue berpacaran dengan Marly, gue selalu mencari-cari diri Laura di sana. Yang nggak pernah gue bilang pada Marly, bahwa sesungguhnya gue nggak pernah sekalipun merasakan perasaan yang lebih dari seorang sahabat terhadap dia.
            Karena yang gue tahu, cuma Laura yang sampai saat ini memiliki hati gue.
            “Wow, kalau gue jadi Laura, gue bakal merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia, Max.”
            Marly menatap undangan pernikahan Laura dengan mata berbinar. Dulu, gue selalu menyukai segala sikap Marly yang cuek and really cool. Tapi, entah mengapa, kini gue muak.
            Karena nggak mendapat jawaban, Marly memalingkan pandangannya untuk menatap gue. Dia terkekeh pelan.
            “Tapi, gue juga beruntung punya lo.”
            Setelah itu dia kembali memandangi kartu undangan itu dengan antusias. Gue nggak tahu, apa itu adalah sebuah kode buat gue supaya gue juga cepat-cepat menikahi dia atau bagaimana. Tapi, oh, c’mon! She’s don’t know yang gue rasakan sekarang malah ingin cepat-cepat membatalkan pernikahan orang.
            Gue memang jahat. Nggak seharusnya gue memerlakukan Marly seperti ini. Tapi, gue nggak tahu harus berbuat apalagi.
            Besok adalah hari di mana Laura melangsungkan pernikahannya. Bersama Hans.
            Hans. Bukan Max.
            Dan masih belum ada yang bisa merubah pikiran gue. Betapa inginnya gue menggagalkan pernikahan itu.
            Gue butuh kafein. Dengan cepat gue bangkit dari sofa besar di apartemen Marly dan melangkah menuju pintu. Marly memanggil gue.
            “Mau ke mana, Max?”
            “Prudence.”
            “Ah, ikut—“
            “—not now.” Gue memotong ucapan Marly. Dia mengangkat alisnya dan menatap gue heran. “Please. I need more time to myself.”
            Marly terdiam. Dan gue meneruskan langkah.
Laura

            I need more time to myself.
            Ada yang bilang, kalau seorang perempuan akan menikah, maka ia harus dikurung di rumah selama beberapa hari. Semacam, diasingkan dari dunia luar. Istilah daerahnya; dipingit.
            But, apa yang sedang kulakukan sekarang? Berjalan menyusuri pusat kota Melbourne dengan modal sweater tipis di udara malam musim gugur. Ternyata yang kubutuhkan bukanlah mengasingkan diri dari dunia luar, tetapi mengasingkan diri dari keluargaku.
            Prepare for … tomorrow.
            Melbourne di malam hari serasa tidak seindah dulu. Atau hanya perasaanku saja? Entahlah, aku seperti melihat sebuah lukisan kosong tak bernyawa. Hanya cahaya-cahaya lampu yang menerangi kegelapan itu. Seolah hanya cahaya itu yang hidup. Tak ada lagi yang lain.
            Jika aku mengatakannya pada Max, ia pasti setuju. Ia mungkin akan terus mengoceh lebih jauh tentang cahaya dan keindahannya. Tentang lampu-lampu kota Melbourne yang terlihat hidup, atau beberapa lampu baru yang dipasang di atap kamarnya.
            I miss that time. Dan tanpa sadar, langkah kaki membawaku ke Prudence.
            Aku menyusuri coffee shop sederhana itu seorang diri, malam hampir larut dan sudah tidak banyak pengunjung yang datang. Aku menuju kursi yang biasa kutempati bersama Max. Memesan minuman, kemudian merenung di sana.
            Apakah Hans adalah pilihan yang benar?
            Pikiranku mengatakan iya, tetapi hatiku seolah menyangkal. Kalau benar mengapa aku seragu ini untuk menghadapi hari esok? Kalau salah, apa yang membuatku ragu?
            “Laura?”
            Sebuah suara berat yang tak asing membuatku mendongak.
            Max berdiri di sana.
            “Hei, what are you doing here?” ia bertanya pelan seraya melangkah dan duduk pada kursi di hadapanku.
            Aku menatapnya. “Uhm … insom?”
            Max tidak tertawa. Tidak juga merengut. Ekspresinya tak terbaca. “Huh?”
            Aku meringis pelan. “I don’t know, Max.”
            Minuman pesanan Max datang, dan kami kembali terdiam. Kini, tidak ada proyek yang tengah kami kerjakan seperti saat kami berdua ke Prudence sewaktu itu. Tidak ada lagi Max dan Laura yang tengah sibuk pada kegiatannya sendiri.
            Tapi aku merasa de javu.
            “Ra, why you never talk to me about Hans? Tentang hubungan kalian setelah lo pergi dulu…”
            Aku mendengar suara Max merendah, dan lebih serius. Tetapi cukup untuk membuat perasaanku kalang kabut. Why? Kenapa?
            I don’t know.” Jawabku akhirnya. Aku memang tidak tahu, kan?
            Stop act like you never know something, Laura. Berhenti bertingkah semuanya fine-fine aja.” Ucapnya lagi. Matanya menatapku tajam.
            No, Max. Tapi memang nggak ada apa-apa.”
            Max menghela napas gusar, dan aku melihat sebelah tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
            “Boleh aku ngomong sesuatu, Ra? I promise this is the last I’m talking about us. Aku janji ini terakhir kali aku mengungkit kita.”
            Ada sensasi hangat yang kurasakan saat mendengar Max memanggilku dengan sebutan aku-kamu. It’s likewe’re back to our past. Yang mana, saat itu semua masih terasa mudah. Aku dan Max. Kami masih saling bebas melakukan apapun tanpa harus takut menyakiti satu sama lain.
            Aku mengangguk, dan Max melanjutkan.
            Do you still love me, Ra?” Ia bertanya dengan pelan. “Aku tahu besok kamu menikah, tapi aku bisa mati karena ini. I’ve died, Ra. Apapun jawaban kamu bakal aku terima.” ia menatapku teduh.
            Do you still love him? Apa aku masih mencintai Max?
            Because I love you. I always love you, kalau kamu mau tahu.” Max kembali melanjutkan. Pikiranku masih saja melayang-layang. Apakah aku masih mencintai Max?
            Shit.
            “Tapi besok aku menikah, Max.” ujarku akhirnya. Menjawab dengan pilihan jawaban yang lain.
            Sinar dalam kedua bola mata Max seolah meredup.  It mean … no?” Tanyanya berbisik.
            I don’t know, Max. Memangnya kalau aku jawab masih, kita bisa apa? Kamu nggak akan membatalkan pernikahan aku, kan?” balasku dengan suara kacau.
            Memangnya apa yang akan berubah kalau aku menjawab ‘iya’? Max tidak akan mungkin berpikir untuk membatalkan pernikahanku. That’s impossible.
            Tapi, ucapan Max selanjutnya membuat kedua netraku melebar.
            I’ll do that if you say yes.”
            Dan, aku seperti menemukan jawaban semua keraguanku.
            I’ll do that, Laura. Everything. Kalau pada akhirnya kita bisa … kembali.” Max kini meraih kedua tanganku. Hangat. Seperti dulu.
            Dan segalanya terasa jelas.
            Aku sadar, bahwa selama ini aku selalu mencari kenyamanan pada setiap tempat yang kukunjungi. Aku selalu mencari sebuah tempat di mana nantinya dapat kusebut rumah. Bukan sekadar tempat untuk pulang, tapi di mana kau akan tinggal.
            Dan ternyata, bagiku Max adalah jawabannya.
            “Acara akan dimulai jam delapan pagi besok. Dan, kamu harus datang sebelum jam delapan.” ucapku akhirnya. Max tersenyum.
            Thenwe’ll go.”
.
.
Finish

Jumat, 15 November 2013

Catch You with Alphabets: Chapter 5: E untuk Exception


Chapter 5: E untuk ‘Exception
["Love always become exception.” -Unknown]
.
.
            Aku pernah berada dalam sebuah masa-masa sulitku. Seperti, ketika aku memutuskan untuk meninggalkan orang tuaku di Yogyakarta untuk menetap di Jakarta, atau saat di mana naskah novel yang kukerjakan larut malam hingga bergadang ternyata tak cukup pantas untuk diterbitkan oleh publisher-ku—hingga akhirnya membuatku harus merombaknya ulang kembali bersamaan dengan kesulitan yang berulang di sini, atau di mana aku tengah bertengkar dengan kedua orang tuaku dengan sebuah masalah yang itu-itu saja.
            Yang terakhir adalah kesulitan terbesarku.
            Mam dan Pap selalu memertanyakan atas segala kemajaun pekerjaanku sebagai penulis paruh waktu. Aku mengerti, itu adalah salah satu cara mereka untuk kembali mengusikku secara tidak langsung mengarahkanku untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan—karena mereka tahu, saat ditanya tentang kemajuan pekerjaanku saat ini, aku tidak akan mampu menjawabnya.
            Like I said before, aku selalu ingin bekerja mengenai hal-hal yang kusukai. Kedua orang tuaku selalu menginginkan aku menjadi seorang pendidik—gelarku yang sebenarnya memang S.pd, karena saat itu aku lulus sebagai mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namun, aku merasa passion-ku lebih ke sastra, bukan pendidikannya. Maka dari itu, saat aku memutuskan pindah ke Jakarta—bukannya menetap di Yogyakarta dan mengikuti tes CPNS, sedikit banyak Mam dan Pap kurang menyetujui.
            Dan saat ini hal itu terulang kembali. Sebuah masa-masa sulit di mana aku bertengkar dengan orang tuaku hanya karena profesiku saat ini.
            “Mau di kemanakan masa depanmu, Flo? Jika dengan profesimu saja masih belum jelas hingga saat ini.”
            Begitu yang Mam katakan padaku di ujung telepon. Aku memijit pangkal hidungku pelan, berusaha menghilangkan pening yang tiba-tiba saja menyambangi. Kupikir Mam berinisiatif menelepon karena hanya ingin melepas rasa rindu seperti sebelum-sebelumnya, namun, saat beberapa basa-basi ia mulai menanyakan tentang pekerjaan novelku, aku mulai curiga.
            “Kita sudah pernah membicarakan ini, Mam. Please, give me a chance just for this profession.
            Terdengar suara helaan napas panjang di sana. Itu adalah salah satu cara Mam untuk menahan emosi. Dan kalau sudah sampai menahan emosi, itu pertanda bahwa Mam ingin menangis.
            Dan aku tak ingin mendengar wanita yang paling kusayangi itu menangis.
            “Kami sudah memberimu kesempatan yang panjang,honey. Suaranya sudah terdengar lebih kecil dan parau. “Semua orang tua hanya ingin melihat anaknya berhasil, Flo!”
Aku tak sanggup lagi menahan segala rasa sesak pada rongga dadaku saat akhirnya mendengar suara isakkan dari ujung telepon. Maka dari itu, tanpa maksud apapun selain tak lagi sanggup menahan sesak akibat melihat Mam menangis, aku memutuskan sambungan telepon.
            “I’m really sorry, Mam.”
            Dan aku menangis sejadi-jadinya saat itu. Tak ada lagi hal yang dapat dan kupikir sanggup aku lakukan selain menangis di apartemen. Aku mematikan handphone, menolak tamu yang datang, bahkan mengabaikan e-mail dari editorku yang terus-menerus memeringati tentang waktu deadline yang sudah hampir habis.
            Karena masa-masa tersebut adalah situasi tersulit yang pernah kualami. Karena, akan ada banyak hal yang terpengaruhi oleh situasi itu.
            Tak ada hal yang lebih menyakitkan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa Ibumu menangis karena dirimu sendiri.
            BIP. BIP.
            “Saat ini Flaciona sedang tidak bisa menjawab telepon Anda. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi…”
            BIP.
            “Flo, ponselmu mati? Hari ini aku mengadakan regular party bersama teman-teman Ron di apartemenku. Bisa datang? Ajak Vergi juga, ya. Kutunggu kabarmu.”
            BIP. BIP.
            “Astaga, Flo! Apa yang kau lakukan dengan ponselmu? Deadline-mu besok siang, Astaga! Jangan membuatku gila, Flo! Hubungi aku secepatnya jika kau masih memikirkan nasib naskahmu!”
            BIP. BIP.
            “Halo, uhm, maaf, benar ini dengan Saudari Flaciona? Kami dari kantor pemasaran Pen Publishing. Kami tertarik dengan naskah Anda yang berjudul Senja. Bisa segera hubungi Kami secepatnya setelah ponsel Anda aktif? Terima kasih.”
            BIP. BIP.
“Flo, ada apa dengan ponselmu? Ini Glenn. Aku ingin bertemu denganmu. Bisa?”
BIP. BIP.
            “Aghhhhh! Shit!!!”
            Hampir lima menit sudah mesin penjawab telepon sialan itu berteriak. Hell, aku tak ingin mendengar apapun. Aku tak peduli dengan Sena, Ger—editorku, penerbit baru, atau Glenn sekalipun.
            Aku tidak tahu apa yang mampu membuat perasaanku kembali tertata rapi setelah tercabik-cabik mendengar suara tangisan Mam. Jika seperti ini, aku bahkan yakin tidak akan sanggup meneruskan pekerjaanku lagi.
            BIP. BIP.
            “Flo?”
            Mataku melebar. Mendengar nada suara tak asing yang seharian ini hampir kulupakan.
            “Hei, ada apa denganmu? Ponsel mati? Mengabaikan seluruh pekerjaan? Tak menghubungiku?”
            Suara yang akhirnya membuatku menemukan alasan untuk kembali menata rapi hatiku yang terlampau sesak ini.
            “Ada yang ingin kau ceritakan?”
            Isakkanku kembali terdengar, tapi entah mengapa kali ini aku merasakan sebuah perasaan lega yang teramat sangat hingga tangisku ini bercampur dengan rasa haru.
            “Ceritalah…”
            Suara itu terhenti sejenak. Menyisakan suara helaan napas berat dari ujung mesin penjawab telepon, serta kesunyian kamarku yang di dominasi oleh suara isakkanku.
            “Kutunggu kau menghubungiku kembali. Aku … menunggu di depan apartemenmu.”
            BIP.
Saat itu juga, seluruh syarafku seperti refleks menerima perintah organ tubuhku yang kini siap bangkit dan begerak cepat untuk berlari ke luar kamar. Perasaanku tak menentu, jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat—seolah aku adalah pecandu narkotik sakau yang akhirnya menemukan obatku lagi.
            Dan saat akhirnya aku membuka pintu apartemen, menemukan Vergian tengah bersandar pada sisi tembok sebelah kiri, perasaanku akhirnya meledak.
            “Flo—“
            “—I hate myself, Vergi! I hate…”
            “Sssst.”
            Vergian memelukku dengan erat, kemudian menuntunku kembali masuk ke dalam apartemen. Sebelah tangannya sibuk mengusap sisi tubuhku, dan sebelahnya lagi berusaha menutup pintu apartemen.
            Setelah pintu tertutup, ia kembali mendekapku erat, membawaku ke dalam kamar dan duduk di sisi ranjangku. Tanpa banyak bicara, ia terus memelukku. Membelai lembut rambutku yang berantakkan, juga kedua bahuku yang bergetar.
            Vergian selalu melakukan hal ini saat aku menangis.
            Ia hanya akan terdiam, tanpa mengatakan apapun. Terus memelukku hingga aku merasakan bahwa ialah obat untuk seluruh kesulitanku.
            “Vergi, aku membuat Mam menangis.”
            Karena Vergian adalah sebuah pengecualian.
            Saat kurasakan aku tengah tak peduli dengan seluruh orang, tetapi ia adalah pengecualian.
            Vergian akan selalu menjadi seseorang yang dapat menenangkanku, obat mujarabku. Vergian tak akan pernah menjadi seseorang yang lain untukku. Vergian tak akan pernah bisa menjadi orang yang kuhindari saat aku tengah berada dalam situasi sulitku ini.
            Because he’s my exception.
      Dan, memang, cinta selalu menjadi sebuah pengecualian.
A/n: this is my part of my NaNoWriMo project. Chapter 5, E untuk Exception. Uhm, hanya segelintir kisah Flo dan Vergi serta pahit manis hubungan mereka berdua. Dan … Novelku masih jauh dari target:’( baru 8rban kata dari 50rb kata:’) 15 hari lagi tersisa untuk melengkapi kekurangan itu. Ugh, can I?;p

Sabtu, 12 Oktober 2013

Bunga untuk Ken (Peri Bunga)


https://kamarpodjok.wordpress.com/2013/10/08/tantangandongengperi/



















            Flowy adalah seorang peri cantik yang tinggal di antara hamparan langit colombus dan selalu terbang bersama angin yang mendesau ke permukaan bumi. Ia memiliki tugas menghias bumi lewat langit, menjadikan bumi sebagai tempat ternyaman untuk ditinggali para manusianya. Ayahnya adalah seorang peri penyihir yang mampu menyihir tentang hal apapun pada dunia peri, dan ibunya adalah peri air.yang terus menerus berada di sepanjang arus air, agar keadaan air bisa tetap menyejukkan orang banyak.
            Saat senja tiba, Flowy mewarnai hamparan langit dengan semburat warna jingga yang indah. Terkadang, ia akan ikut menatap warna-warna itu di balik bola matahari raksasa yang mulai tenggelam bersama para manusia di bumi. Namun, saat waktu senja hampir habis, ia pun harus kembali menghapus warna itu, membuat langit kembali gelap dan polos. Hitam dan kelam.
            Ia juga melukis pelangi saat hujan turun, namun terkadang, lukisan warna-warninya itu tak dapat dilihat oleh seluruh manusia di bumi karena warna pelangi begitu terbatas. Ia harus bergantian melukisnya ke bagian-bagian langit lainnya saat pelangi sebelumnya sudah menghilang.
            Lalu, ia juga bertugas menguarkan harum petrichor sehabis hujan turun. Bau sehabis hujan dan tanah basah yang membuat semua orang menjadi nyaman. Juga membuat syaraf sensorik yang ada pada manusia kembali mengenang hal-hal di dalam otaknya.
            Di langit, Flowy menjadi peri paling cantik. Tubuhnya mungil, dengan mata sewarna senja dan rambut cokelat lebatnya yang indah dan sangat panjang. Tak sedikit para dewa yang tertarik padanya dan meminta izin pada Ayahnya untuk melamar Sang Peri. Bahkan Eros (Cupid) yang merupakan Dewa Cinta memanah dirinya sendiri untuk kemudian jatuh cinta pada Flowy. Eros pernah datang padanya untuk diam-diam memanah jantungnya agar Flowy jatuh cinta pada Eros. Namun, panah itu melesat jauh dan mengenai sebuah pohon cemara, membuat Sang Pohon akhirnya jatuh cinta pada Eros. Dan Eros pun sibuk berlari menghindari pohon cemara sampai akhirnya ia melupakan perasaan cintanya pada Flowy.
            Peri itu tak pernah sekalipun merasakan jatuh cinta.
            Sampai akhirnya, saat suatu hari ia tengah turun ke bumi sehabis mewarnai langit senja, ia melihat seorang manusia di tengah-tengah taman yang penuh bunga. Dari atas pohon, ia terus memerhatikan seorang pemuda yang terlihat begitu antusias merawat berbagai bunga warna-warni yang terhampar di lahan tanah sebuah taman itu. Pemuda itu terlihat begitu bersinar, bahkan lebih terang dari warna senja yang ia lukis. Wajahnya begitu tampan dan menghangatkan hatinya saat Flowy dengan seringnya mencuri pandang ke arah pemuda itu.
            Sampai ia tersadar ia telah jatuh cinta pada seorang manusia.
            Ia tahu, sang pemuda tak akan pernah menyadari keberadaannya. Maka, semenjak hari itu ia selalu turun ke bumi setiap fajar terbit dan senja terbenam demi melihat sang pemuda manusia yang telah berhasil membuat perasaannya berbunga-bunga itu.
            Si pemuda terlihat begitu mencintai bunga yang dipeliharanya. Setiap hari, akan terus ada jenis bunga baru yang ia bawa untuk kemudian di tanam bersama ratusan bunga-bunganya yang lain. Pemuda itu terlihat seperti pangeran bunga dari atas tempat Flowy melihatnya. Wajahnya merona sendiri. Rasa penasarannya begitu menambah seiring bergantinya hari. Ia terus menelusuri siapa nama pemuda manusia itu. Terkadang, ia menyusup dari atap rumah si pemuda atau melalui celah-celah jendelanya. Dari situ ia juga dapat melihat berbagai tanaman bunga di dalamnya. Flowy berdecak kagum, betapa cintanya pemuda itu pada bunga.
            Suatu hari, Flowy berhasil mengetahui nama pemuda itu. Ken.
            Ken adalah pekebun bunga yang ternyata hanya tinggal sebatang kara. Hidupnya seolah terasingi dengan orang lain karena setiap hari yang ia lakukan hanyalah mengurus bunga-bunganya.
            Betapa Flowy merasa iri dengan bunga-bunga itu.
            Karena rasa irinya itu, Flowy datang kepada Ayahnya dan memintanya menyihir seluruh bunga-bunga milik Ken menjadi layu. Ayahnya pun menyanggupi. Dan betapa senangnya Flowy saat bunga-bunga indah itu kini tampak layu dan sama sekali tidak menarik. Ia berpikir, pasti Ken tidak akan lagi mencintai bunga-bunganya.
            Namun, yang dilihat Flowy begitu membuatnya menyesal. Ken begitu sedih karena seluruh bunga yang ia jaga telah layu. Pemuda itu bahkan seperti tidak lagi memiliki semangat untuk hidup dan berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Hal itu membuat hati sang peri teriris-iris. Ia tak ingin melihat pemuda yang dicintainya begitu menderita seperti itu. Ia pun mencari cara untuk membuat Ken kembali tersenyum.
            Maka, Flowy pun kembali menemui Ayahnya. Ia meminta Ayahnya untuk menyihir rambut cokelat tebalnya yang indah dan sangat panjang itu menjadi sebuah hamparan bunga. Mulanya Ayahnya tidak setuju karena mengetahui betapa Flowy sangat mencintai rambutnya, namun mendengar alasan Flowy yang mengatakan ini demi pemuda yang dicintainya, peri penyihir itu pun akhirnya menuruti permintaan anaknya.
            Jadilah rambut Flowy yang lebat menjadi penuh dengan bunga. Dan sejak saat itu, Flowy selalu menggeraikan rambut penuh bunganya hingga ke lahan milik Ken. Ken yang melihat lahannya kembali penuh oleh bunga, seketika kembali bersemangat menjalani hidup. Setiap hari ia rawat bunga-bunga yang tumbuh lebat di sana, ia rawat begitu baik melebihi bunga-bunganya yang terdahulu. Ken pun semakin jatuh cinta dengan bunga-bunganya itu. Tanpa sekalipun menyadari bahwa itu adalah hamparan rambut Flowy yang penuh bunga.
            Flowy pun merasakan perasaan yang begitu bahagia saat merasakan Ken menyentuh dan merawat rambutnya dengan penuh cinta. Meskipun Ken melakukannya tanpa sadar, tetapi itu membuat Flowy begitu bahagia.
            Karena dengan hamparan bunga di rambutnya itu, ia dapat merasakan seolah mereka saling mencintai satu sama lain.
.
.
Finish—(HNM)

Minggu, 16 Juni 2013

(UN)FINISHED (FF "The Truth About Forever") by Hidya Nuralfi Mentari


            Karena cinta mereka belum usai…
            Kana melangkahkan kakinya dengan statis. Suara tapaknya terdengar jelas diantara lantai-lantai bobrok ruangan kost itu. Senyum tak pernah lepas dari bibir mungilnya,  kedua tangannya memeluk sebuah buku kecil yang terlihat eksentrik.
            Gadis itu menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar bernomer sebelas. Masih dengan seulas senyum dibibirnya, ia mengangkat sebelah tangannya untuk mengetuk pelan pintu dihadapannya itu.
            Tiga ketukan, pintu itu terbuka.
            “Yogas!”
            “Sepertinya kamu salah kamar.” Tukas pria angkuh yang baru saja membuka pintu itu malas, matanya melirik singkat kearah pintu kamar bernomer sepuluh yang berada persis disamping kamarnya. “Kamarmu yang itu.”
            Kana memajukan bibirnya kesal. Pria ini… masih saja.
            “Kamu jahat seperti biasa. Padahal aku bawa ini untuk kamu.” Balasnya seraya menimbang-nimbang buku ditangannya.
            Sedangkan pria dihadapannya masih menatap datar. Seolah tak tertarik sama sekali dengan buku eksentrik bersampul jingga itu.
            “Hm?”
            Cukup sudah. Kana menyerah. Pria didepannya ini benar-benar seperti manusia tanpa jiwa. Dengan sekali hentakkan, gadis itu berbalik dan melangkah cepat kearah kamarnya.
            Namun, belum sempat ia melangkah lebih jauh, sebuah lengan kekar lebih dulu menariknya kembali. Gadis itu dapat merasakan keningnya membentur dada bidang sang penarik, sebelum akhirnya kehangatan membungkus tubuhnya.
            “Memangnya buku apa yang kamu bawa, hm?” ujar pria yang dipanggil Yogas itu akhirnya. Kana tersenyum dalam dekapan pria itu.
            “Novel baru. Yang akan jadi naskah film kamu selanjutnya.”
            Yogas balas tersenyum tipis. Lengannya terulur untuk membelai helaian rambut gadis dalam dekapannya itu. “Whatever you want.”
            Senyum Kana semakin mengembang, ia mengeratkan pelukannya pada pria tercintanya itu. Ia tahu, meskipun Yogas tak banyak berkata-kata, tapi sikap yang ditunjukkan padanya sudah sangat cukup untuk membuktikan bahwa pria itu juga mencintainya.
            Seperti sekarang ini, memeluk erat dan membelai helaian rambutnya.
            There’s nothing happier than this.
***
            Kana menatap kursi makan yang terlampaui sederhana itu dengan dahi berkerut. Pasalnya, saat jam sudah menunjukkan waktu makan malam seperti ini, biasanya para penghuni kost yang lainnya sudah siap dibangkunya masing-masing. Tapi, malam ini yang ia temukan dimeja makan hanyalah Bulik seorang diri. Saat makan malam, memang penghuni kost biasanya makan bersama-sama dirumah Bulik bersama keluarga kecil Bulik.
            “Kemana yang lain, Bulik?” serunya pelan seraya membantu Bulik menyiapkan beberapa piring yang kali ini tak terlalu banyak.
            “Belum pulang, Kan. Ada urusan masing-masing kayaknya.” Balasnya singkat. Kana hanya mengangguk ringan sebelum akhirnya menyadari sesuatu.
            “Yogas belum dateng, Bulik?”
            Dengan cepat Bulik menoleh kearah Kana. Dengan ragu, wanita paruh baya itu tersenyum kecil. “Sepertinya belum.”
            Kana menghela napas pelan. Lalu dengan perlahan ia mengambil dua buah piring dan menyendokkan nasi beserta lauknya kedalam piring tersebut.
            “Bulik, Kana makan diatas, ya. Bareng Yogas sekalian.”
            Dengan cepat gadis itu membawa kedua piring ditangannya dan melangkah keluar dari rumah itu. Sedangkan Bulik yang melihat hanya dapat menghela napas pasrah.
            Kana memandang pintu yang tertutup dihadapannya tanpa ide. Kedua tangannya kini penuh dengan piring untuk makan malam Yogas dan dirinya sendiri. Dengan setengah hati, akhirnya ia mengangkat sebelah kakinya untuk menendang pelan pintu tersebut.
            Pintu terbuka dan ia melihat Yogas tengah berkutik dengan laptop dimeja belajarnya. Gadis itu menghela napas singkat sebelum akhirnya memutuskan masuk kedalam kamar Yogas.
            “Makan dulu, yuk.” Kana berseru ringan seraya meletakkan salah satu piring yang ia bawa pada meja belajar Yogas. Pria itu menoleh kemudian tersenyum singkat.
            “Sebentar. Sedikit lagi.”
            Kana menyipitkan matanya, dengan sengaja menghela napas keras-keras agar pria itu mendengarnya. “Yogas…”
            “Iya Kana? Aku akan menyelesaikannya seben––“
            Belum sempat Yogas menyelesaikannya, pria itu sudah lebih dulu mendengus pelan saat melihat kedua mata Kana yang menyipit tak suka.
            “Iya, iya. Aku makan.”
            Mendengar itu, Kana hanya dapat tersenyum puas kemudian mengambil tempat duduk disamping Yogas untuk menghabiskan makan malam miliknya.
            Dalam hati Kana tertawa geli, Yogas tak akan pernah menang darinya.
***
            Tik. Tik. Tik.
            Suara jarum jam memenuhi ruangan sunyi tersebut. Setiap detik yang terlewat selalu menghasilkan suara detakkan aneh yang seakan tak akan pernah berhenti. Terus mengejarmu.
            Yogas memandang gadis dalam dekapannya dengan penuh damba. Sudut-sudut bibirnya tertarik, menyimpulkan seulas senyum tipis yang sangat jarang dilakukannya. Tubuhnya ia sandarkan pada kepala tempat tidur dikamar kecilnya. Dan tubuhnya yang sudah lama mendingin terasa menghangat kembali saat mendekap gadis itu.
            “Kana…”
            Kana mengangkat kepalanya dari dada bidang Yogas dan mendongak kerarah pria itu. “Hm?”
            “Kamu yakin nggak akan ninggalin aku?” jawab pria itu pelan.
            Kana tersenyum lebar. “Nggak pernah seyakin ini.”
            “Masa?”
            Gadis itu mendesah. “You know me so well, right?”
            Yogas terkekeh pelan. Pria itu mulai membelai helaian rambut gadis itu.
            “Kalau aku yang ninggalin kamu?” lanjutnya.
            Kana menoleh cepat. Memandang Yogas dengan tatapan galaknya, kemudian membalas yakin. “I know you never do that.”
            “Kalau aku mati?”
            Kali ini Kana sedikit terkejut dengan ucapan pria itu. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum lembut.
            “Aku akan ikut mati bareng kamu.”
            Aku akan ikut mati bersamamu…
***
            Cinta mati itu––bukan cinta yang akan ikut mati saat cinta itu mati.
            Tetapi, cinta mati itu––cinta yang akan tetap hidup walaupun cinta itu telah mati.
            Kana menapaki kakinya perlahan pada satu persatu tangga yang ia lewati. Malam ini begitu berisik dibawah sampai-sampai ia penasaran apa yang sedang teman-temannya lakukan dilantai dasar kost kecil ini.
            Begitu kakinya mencapai tangga terakhir, ia berhenti disana. Kedua binernya menatap berbinar kedua teman penghuni kost-nya beserta Bulik yang terlihat tengah mengecat dinding-dinding sekeliling ruangan dengan cat berwarna kuning. Kana terkekeh pelan, membayangkan bagaimana jadinya jika warna kuning mendominasi dinding-dinding ruangan sempit ini.
            Masih asyik memandangi kerusuhan-kerusuhan yang dibuat keluarga kecilnya itu, Kana tak sadar jika sedari tadi Ono tengah memerhatikannya dengan dahi mengerut.
            “Kana, ngapain disitu?” ujarnya menyadarkan Kana.
            Yang di tegur hanya menggeleng cepat seraya kemudian melangkahkan kakinya menuju kerumunan kecil yang berisik itu.
            “Kenapa nggak ada yang bilang kalau malam ini kalian mau ngecat lantai bawah?” tanya Kana akhirnya, gadis itu juga sedikit melirik kearah Bulik yang kini hanya tersenyum meminta maaf.
            “Kamu, kan, cewek.” Kini Agus membalas jujur.
            Kana menyipitkan kedua matanya. “Terus kenapa kalau aku cewek? Bulik juga cewek disini, kan?”
            “Aduh, Bulik kan yang bertanggungjawab disini. Mereka nggak tega sama kamu, tho.” Balas Bulik ikut menenangkan Kana. Gadis aktif itu pasti akan sangat keberatan jika mengetahui alasan yang sebenarnya. Mereka memang sengaja tak memberi tahu Kana sebelumnya, selain ia perempuan, kondisi gadis itu juga kurang memungkinkan untuk mengerjakan pekerjaan berat seperti ini.
            “Ih, alasan basi.” Kana mengambil sebuah amplas kecil yang tergeletak di sudut lantai. Kemudian dengan perlahan ia gosokkan pada bagian dinding yang terlihat berdempul. “Lagian kenapa Yogas juga nggak diajak? Kalau dia jelas bukan perempuan, kan?”
            Seketika semua orang disana langsung mengambil alat-alat mereka dan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Bahkan Bulik meminta izin untuk membuatkan teh hangat ke dapur.
            “Kayaknya kalian semakin sensi deh sama aku dan Yogas.”
            Ono akhirnya menoleh dan menghela napas. “Itu karena kondisinya dia nggak memungkinkan, Kana.”
            “Kenapa? Karena dia sakit?” balas Kana tak mau kalah. Ia sangat tak suka jika ada seseorang yang meremehkan Yogas hanya karena penyakit HIV/AIDS yang diidapnya.
            Ono menatap Kana dengan pandangan lelah, setelah akhirnya untuk mengangkat bahu tak menghiraukan.
            “Sudah, sudah. Kamu juga nggak perlu bantuin kita.” Agus berkata pelan masih sambil mengecat dinding. “Kamu susul Bulik saja, buatin kami teh hangat yang enak.”
            Dengan sangat berat hati dan enggan, akhirnya gadis itu berhenti dari pekerjaannya dan menaruh amplas yang baru saja ia pakai pada tutup ember cat. Ia melangkah pelan menuju dapur dan menemukan Bulik yang tengah mengaduk beberapa gelas teh dengan pandangan menerawang.
            “Bulik, kok ngelamun?” tegur Kana pelan. Gadis itu mengambil alih sendok kecil yang berada dalam genggaman Bulik kemudian meneruskan pekerjaan Bulik-nya itu.
            “Nggak melamun, kok.” Tandas Bulik mengelak. Ia memerhatikan Kana yang tengah menambahkan beberapa sendok teh gula kedalam gelas-gelas itu. “Gulanya jangan banyak-banyak, tho.”
            Kana mengangguk singkat. Bulik masih memerhatikan Kana yang telah selesai menyusun gelas-gelas itu dinampan saat tiba-tiba gerakannya terhenti.
            “Kenapa, nduk?” tanyanya heran.
            “Ah, aku hampir lupa.” Gumam gadis itu pelan kemudian engambil satu lagi gelas bersih di rak piring. Dengan cepat ia membuat satu gelas lagi teh hangat dan kemudian kembali menyusunnya dinampan bersama gelas-gelas lainnya.
            “Buat siapa, tho?” tanya Bulik pelan seraya mengikuti Kana kembali keruang depan.
            “Buat Yogas, Bulik. Kasihan diatas sendirian. Aku ajak kesini aja ya, Bulik.” Balas Kana bersemangat seraya meletakkan nampan berisi gelas-gelas teh hangat itu dimeja kecil yang berada diruangan itu.
            Bulik menatap Kana dengan tatapan lemahnya. Wanita paruh baya itu kembali mengikutinya yang kini telah melangkah cepat ke lantai dua menuju kamar Yogas.
            Lagi-lagi Bulik hanya menghela napas pasrah seraya menggumam pelan dibelakangnya. “Kana…”
            Tanpa repot-repot mengetuk atau meminta izin, Kana sudah mendorong kamar itu dan masuk kedalamnya. Dari luar, Bulik mendengar gadis itu berbicara.
            “Yogas, mau ikut ngecat bareng-bareng dibawah nggak? Yuk, aku udah bikinin teh hangat juga buat kamu.”
            Bulik masih tak mendengar jawaban dari Yogas. Namun kemudian suara tawa renyah Kana dan ucapannya kembali terdengar sayup-sayup.
            “Kalau kamu nggak mau ikut ngecat nggak apa-apa. Kita bantu nonton mereka aja. Lagipula kamu harus lihat warna apa yang dipilih anak-anak kali ini!”
            Selanjutnya, Bulik mendengar langkah-langkah pelan keluar dari dalam kamar itu. ia melihat Kana keluar dengan senyuman lebar sembari kembali menutup pintu kamar Yogas.
            “Tuh, kan, Bulik. Kalau diajak, Yogas pasti mau ikut ngumpul kebawah. Iya, kan, Gas?” ujar Kana pelan seraya menoleh kesamping dan tersenyum lebar.
            Bulik hanya balas tertawa singkat. Ia melihat Kana mengulurkan tangannya dan dengan semangat berjalan cepat menuruni tangga dengan gerakan seolah-olah tengah menarik seseorang.
            Kali ini, Bulik tersenyum miris.
            Wanita itu melangkah pelan mendekati pintu kamar Yogas dan kembali membuka pintunya. Ia menatap kamar itu dengan miris. Kamar kosong. Kamar yang telah ditinggalkan pemiliknya hampir satu tahun yang lalu.
            Ditinggalkan untuk selama-lamanya.
            “Kasihan sekali Kana. Dia terus terperangkap pada delusinya. Tidak mau menerima kalau Yogas sudah tenang disurga sana.” Gumamnya pelan. Ia menghapus genangan air yang hampir jatuh dari sudut matanya.
            Sekali lagi, ia melirik ke dalam kamar itu. sebelum akhirnya kembali menutupnya, seraya berbisik pelan.
            “Semoga tidak ada lagi yang membukanya.”
***
            Aku mencintainya, sangat mencintainya.
            Perasaan ini mungkin baru akan hilang setelah kematianku nanti.
            Tetapi tidak dengan kematiannya…
***