Followers

Tampilkan postingan dengan label hidya's world. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidya's world. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2015

[Book's Review] What If by Morra Quatro





Judul : What If
Penulis : Morra Quatro
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2015

“Apa yang berbeda itu memang tidak pantas bersama?”

Jupiter bertemu Kamila pertama kali di antara langit siang yang terik dan lapangan basket yang lapang. Si Anal. Senior satu tingkat. Asisten dosen kelas semester pendeknya yang selalu berkeras diri bahwa ia bisa membawa tumpukkan lembar kertas mahasiswa dengan tangan kecilnya.

Sejak pertemuan pertama mereka, perbedaan itu sudah jelas terlihat. Tapi, ada sesuatu tentang Jupiter yang membuat Kamila dengan begitu saja menyerahkan nomor teleponnya di antara sunyi-senyap perpustakaan yang menyesakkan. Sejak saat itu, mereka percaya, bahwa tak apa jika berbeda. Tidak apa-apa selama mereka bersama dan dapat mengatasinya.

Tapi, takdir tak berbicara begitu. Sebab ada beberapa hal yang memang tak bisa disatukan, meski sekuat apa pun dikonvergensikan. Perbedaan itu akan mencari jalan divergennya sendiri.

“This is not going to happen, Jupiter. We’re not going to make it.”

“In the end, only kindness matters.
only kindness matters.”

-----WHAT IF BY MORRA QUATRO-----

Saya punya banyak kata untuk buku ini—dan khususnya, untuk Kak Morra. Tapi, saya akan merangkumnya hingga semua kata-kata itu bisa tersampaikan hanya dengan satu wacana bertitel review ini.

What If adalah karya keempat Kak Morra yang saya baca. Bercerita tentang Kamila, Jupiter, dan perbedaa-perbedaan di sekeliling mereka. Untuk para pembaca setianya, saya yakin, segalanya begitu familier dan tidak asing. Bukan tentang ceritanya, atau alur dan endingnya yang (memang juga) familier. Tapi, tentang suasananya. Tentang bagaimana Kak Morra menulis segala detail dan deskripsi dari setiap diksi yang ia pilih. Saya merasakannya, penulisan Kak Morra yang selalu saya anggap mempunyai magis juga nyawa. Penulisan deskripsi yang membawa emosi dan … breath-taking? Heart-warming? Page-turning? Semuanya. Jika ditanya siapa penulis favorit yang pantas menyandang gelar best story-teller, saya tidak akan ragu untuk menyebut Kak Morra sebagai jawaban.

Seperti ketika Kak Morra menjajah emosi saya dengan Will, Langit, dan Nino, Kak Morra melakukannya lagi di sini melalui Jupiter. Jupiter punya sisi yang berbeda dari ketiga tokoh-tokoh pria Kak Morra sebelumnya. Jupiter lebih bad boy, bukan mahasiswa teladan, selengekan, tapi juga punya cinta yang besar. Saya suka ketika dia menatap Kamila dan segala detail yang ada pada dirinya. Tapi, saya juga suka ketika ia tersenyum jahil ketika nama Kamila dikaitkan dengan kata Si Anal. Memang bukan anal yang itu. Tapi, Jupiter selalu punya hal-hal humoris—yang tentu saja tidak menyinggung—ketika istilah itu disebut.

Ah, ya, cerita ini juga berhasil mengubah segala perspektif saya tentang “tidak mau membaca cerita yang mengandung unsur agamis selain Islam”. Jujur saja, saya orang yang sedikit kencang tentang hal itu. Dan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya sulit mendapat feel ketika membaca cerita yang tokohnya memiliki kepercayaan di luar kepercayaan saya—maaf. Tapi, entah kenapa What If berbeda. Jupiter berbeda. Saya berhasil jatuh cinta padanya, sealami saya jatuh cinta dengan tokoh-tokoh mengesankan yang lain. Jupiter melakukannya. Kak Morra melakukannya. Jadi, atas segala pelajaran dan perspektif baru yang saya dapat, sudah sepatutnya saya berterima kasih pada Sang Penulis; Terima kasih, Kak Morra.

Sebelum mengutip adegan yang paling saya suka, ada beberapa hal teknis seperti typo, kesalahan penulisan (krabby peaty : krabby patty), kekeliruan pemenggalan (mer-apat : me-rapat), dan kesalahan EYD (tercekat : tersekat). Mungkin, ada beberapa hal yang saya lewatkan, karena keterbatasan akan ketelitian atau terlalu malas untuk mengecek secara detail (karena saya terlampau menikmati ceritanya). Tapi, hanya itu yang saya temukan dan sempat saya catat ;p

So, my favorite part? Ada dua. Pertama, ketika dengan nekatnya Kamila memangkas rambut panjangnya di awal cerita! Demi apa pun, adegan ini langsung saja membuat saya jatuh cinta pada Kamila. Saya suka penggambaran tokoh perempuan yang seperti ini. Kedua, ketika Piter berkata, “Kamila, your hands are small—“ di antara langkah-langkah kakinya menuju loker dosen untuk menaruh berkas-berkas tugas yang seharusnya menjadi tugas Kamila. Saya selalu tersenyum mengingat adegan ini. Dan adegan-adegan permintaan Piter membantu Kamila membawa berkas-berkasnya yang lain. Mungkin, ini klise, tapi Kak Morra mengemasnya dengan berbeda dan … berkesan :)

Saya tidak akan mengomentari tentang ending. Sebab, bagian inilah yang selalu saya suka dari tulisan-tulisan Kak Morra. And, saya tidak akan pernah bosan untuk bilang: selalu ditunggu cerita-cerita cerdas yang lainnya, Kak!

4 of 5 stars for What If

love,
hidya

Selasa, 30 Juni 2015

[Day 30 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 30


Frühling;
.
.
Spring
.
.
 Chapter 30: New Spring
.
.
            Beberapa orang datang dan pergi dalam kehidupannya, membawa setumpuk memoar serta kenangan pahit manis dalam sudut ingatan terdalamnya. Mereka memberi senyum, haru, air mata, dan segala rasa taksa yang hanya akan Kanae genggam erat-erat. Tak ubahnya hari yang terus berganti, juga musim yang selalu bersubtitusi.
            Tapi, ada beberapa orang yang memutuskan tinggal. Memutuskan hanya memberi senyum tanpa air mata juga rasa sakit. Membawa kenangan manis tanpa ada rasa pahit. Juga, membawa segenggam cinta juga bermacam janji bahagia.
            Deisuke Akihiro salah satunya.
            Seribu kali Kanae mengingat-ingat, tak satu pun kenangan menyedihkan terbersit dari dalam diri pria itu. Ia membawa sejuta percaya diri, merekahkan senyuman, menepis kegalauan, serta rasa-rasa tak kasat mata yang terkadang seringkali Kanae ragukan. Keteguhannya, senyum sehangat mataharinya, luapan perasaannya, betapa seluruhnya terangkum sempurna.
            Dan ia hanyalah seorang gadis biasa. Yang merasa spesial sebab Akihiro memilihnya dibandingkan dengan ratusan ribu gadis-gadis lainnya di luar sana. Pria itu memutuskan untuk menambatkan hati padanya, mengucap kata sakral itu untuknya, membawa segala rentetan laku manis untuk dikecapnya.
            Yang membuat Akihiro berbeda bagi Kanae adalah, pria itu mampu bertahan dalam cintanya ketika kenyataan tak wajar tentang dirinya beberapa waktu lalu terungkap. Ketika Akihiro, menemukan ia dan Shiro terlibat dalam sebuah skandal yang seharusnya membuat ia mundur, tetapi yang pria itu lakukan justru bertahan. Dengan segala perasaan yang bahkan sama sekali tidak berkurang.
            “Kau tahu, aku pernah sangat membenci musim semi.”
            Kanae mengujar di sela keheningan mereka. Hamparan kendaraan kota Tokyo yang berkelap-kelip terlihat dari hamparan bukit yang tengah ia singgahi saat ini. Angin malam berembus, membawa serta rasa dingin yang menyengat dan aroma-aroma bunga sakura yang mulai menipis.
            “Aku tahu.” Akihiro menjawabnya pelan.
            Suara klakson bersahutan, menjadi latar belakang yang terdengar sesekali di antara gemersik dedaunan yang disapu angin. Bulan bersinar dengan terang, walau tak nampak satu pun bintang di atas sana.
            “Dan kau pasti juga tahu, aku mulai menyukainya.”
            Sekali lagi, sudut-sudut bibir terangkat. Semakin lama semakin lebar setiap detiknya, membuat tanggapan ujarannya tak lagi terdengar sepelan yang pertama. “Aku tahu,” katanya. “Aku tahu, Kanae.”
            “Apa yang tidak kau tahu tentangku?” Ucapan itu terumbar bersama dengan senyum tipis yang akhirnya menyambangi bibir gadis itu. Melihat pria di sebelahnya tersenyum-senyum seperti itu, membuatnya tak tahan terus-menerus menyembunyikan senyum dalam satu kuluman.
            Satu tarikan pelan, tubuh Kanae sudah merapat pada sisinya. Kepalanya disandarkan pada bahu pria itu. Lagi-lagi rasa hangat familier menyambanginya. Citrus mendominasi, menepis pelan-pelan aroma musim semi dan bunga sakura yang beberapa saat tadi hadir di sela-sela hening. “Aku belum tahu perasaanmu padaku, kalau kau mau tahu.” Bisiknya.
            Kanae merasa sesuatu dalam dadanya meledak-ledak. Ia memejamkan mata, kedua belah pipinya ikut menghangat, menepis angin dingin dan tetek bengek udara malam yang menggigit-gigit. Ia terus ingin seperti ini. Selamanya. Bersama entitas yang sama, suasana yang sama, dan aroma yang sama; kenyamanan yang sama.
            Maka, apa pria itu benar-benar masih meragukan perasaannya?
            Dasar Akihiro-baka.
            “Akihiro,”
            “Hm?”
            “Kau bodoh.”
            “Hei—!”
            Kikikan pelan terdengar dari gadis di pelukannya. Akihiro mengerutkan wajah sebelum akhirnya si gadis kembali berbicara.
            “Tapi, kau si bodoh yang aku cintai.”
            “…”
            “Aku juga mencintaimu.”
            “…”
            Bersama malam yang semakin melarut, musim semi berada di penghujung harinya. Kanae mendapat gagasan baru dalam musim seminya kali ini, tak ada lagi rasa benci yang berlarut-larut, hanya ada rasa cinta yang sama sekali tak menuntut. Segalanya berjalan seolah urut dan sudah saling terpaut.
            Seperti bibirnya yang tiba-tiba saja sudah berada dalam tautan bibir Akihiro.
.
.
Watashi wa haru ga nan anata ni yatte mitaidesu sakura no ki.
(I want to do to you what spring does with the cherry blossom trees.)
—Pablo Neruda
.
.
End.

Dari sebuah keraguan, akhirnya saya sampai di sini :D really, menyenangkan sekali mengeksplor tulisan setiap hari seperti ini. Walau saya jadi merasa seperti dikejar deadline setiap hari, tapi saya jadi selalu punya alasan untuk memikirkan gagasan apa yang harus saya tulis setiap harinya. Ini bagus sekali untuk merangsang refleks pengimajinasian dan ide-ide yang biasanya terbungkam. Karena seolah berada di bawah tekanan, akhirnya mereka pun mau tak mau terpaksa datang! Hahaha. Btw, terima kasih untuk NulisBuku Community yang sudah mengadakan event ini. Benar-benar bermanfaat untuk penulis amatir yang sok-sokan terkena writer's block atau apalah itu. Karena pada dasarnya, writer's block hanya akan datang ketika kalian tidak menetapkan deadline. Kalau sudah ada deadline, pasti mau tak mau kita keluar dari zona tersebut. Mengerjakannya untuk kemudian menyelesaikannya.
Doakan saya, semoga dengan berakhirnya NulisRandom ini, tidak sekaligus mengakhiri kebiasaan nulis setiap hari yang saya lakoni 30 hari ini, ya :'D
Dan terakhir, terima kasih sebesar-besarnya untuk kalian yang masih mau mengikuti, membaca, atau sekadar mampir untuk mengintip Fruhling ini. Especially yang meninggalkan jejak :* Cerita ini benar-benar cerita spontan yang setiap alurnya hanya terpikir ketika saya sedang menulis saja. Benar-benar tidak saya rencanakan. Dan itu sangat menyenangkan :'D sekali lagi, terima kasih banyak /:D/

Senin, 29 Juni 2015

[Day 29 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 29


Frühling;
.
.
Spring
.
.
  Chapter 29: Love
.
.
            “Keberatan jika aku menculikmu sore ini?”
            Kalimat itu diucapkan oleh pria di hadapannya dengan konotasi yang terlampau santai. Tanpa tatapan mata yang lebih lama, atau bahkan emotif tinggi dalam nadanya. Hanya ujaran sambil lalu. Hanya saja, terkesan tak main-main.
            “Terakhir kali kuingat, kau tidak meminta izin dulu di penculikan-penculikanmu sebelumnya.”
            Maka, gadis itu—Kanae, membalasnya seperti itu.
            Suara tawa terdengar mendominasi kemudian, di antara helaan napas dan bunyi alat makan yang mereka gunakan. Hari masih siang, namun udara tetap sejuk. Akihiro mengajaknya makan siang di sebuah tempat makan dekat kantor yang menyediakan tempat makan yang terkesan seperti outdoor. Mereka dikelilingi pohon sakura yang mekar, membuat Kanae tersadar musim semi telah mencapai puncaknya.
            “Biasanya, kan, kencan. Kali ini, aku ingin menculikmu.” Kata Akihiro lagi di sela suapannya. Pria itu tersenyum lembut, membuat Kanae dapat melihat sinar berkilau yang menyenangkan dari mata sewarna madunya.
            Perut Kanae tiba-tiba saja berdesir aneh. Geli yang menyenangkan. Segala nafsu makannya hilang begitu saja. Ia hanya ingin tersenyum, tersenyum, dan tersenyum.
            Tak perlu dipertanyakan lagi, bagaimana efek Akihiro bagi kehidupannya akhir-akhir ini. Jika ditanya tentang perasaannya, Kanae tidak akan berkelit lagi. Akihiro telah menjadi entitas berharga yang penting untuknya. Akihiro menjadi seseorang yang ia harapkan akan selalu dapat berbagi bersama. Akihiro menepis perasaannya pada Shiro terdahulu, membawa perasaan baru yang nyatanya lebih dirasa menyenangkan untuk gadis itu.
            Singkatnya, Akihiro membuatnya…
            Astaga. Kanae menghentikan monolognya sendiri. Ini sudah terlalu jauh. Maka ia hanya tersenyum, menyimpan lagi rapat-rapat istilah terakhir yang sempat ia pikirkan barusan.
            Benarkah? Benarkah istilah itu sesuai untuk gambaran perasaannya pada Akihiro?
            “Kanae,” tukas Akihiro pelan namun mampu membuat Kanae sedikit tersentak. Wajahnya memandang lurus, kali ini, terlihat begitu serius. Tatapannya menyiratkan bahwa ia ingin berbicara sesuatu yang penting. “Setelah kupikir-pikir, aku belum pernah mengatakan ini, ya?”
            Kanae mengerutkan alis, sedikit bingung dengan pertanyaan tersebut. Mengatakan apa?
            Sekali lagi, Akihiro tersenyum, mengulurkan tangan untuk meraih tangan Kanae dan menggenggamnya erat-erat sebelum kembali berbicara.
            “Aku mencintaimu.”

To Be Continued.

Yaampun, udah hari ke-29 :') terharuuuu. Btw, satu chapter lagi. Semoga menjadi akhir yang memuaskan :) story only 319 words for this chapter.

Minggu, 28 Juni 2015

[Day 28 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 28


Frühling;
.
.
Spring
.
.
 Chapter 28: Heart
.
.
            Betapa sebuah kalimat mampu menguarkan berbagai arti. Mengimplisit tak kasat mata, namun sudah dapat dipastikan mengandung makna denotasi yang jelas. Seolah tanpa tersurat, segalanya dengan mudah diterjemahkan dan dirasakan lamat-lamat.
            Dia bilang terima kasih.
            Katanya, Kanae lebih banyak tersenyum dan dia berterima kasih padanya. Bagi seorang Akihiro, itu sebuah pencapaian tak terprediksi. Ketika Shiro mengatakannya, jelas ia merujuk senyum Kanae yang bertambah kuantitasnya itu bersebab pada dirinya. Dan ketika ia mengucap kata mujarab itu, hal tersebut mengindikasikan bahwa ada sebuah ‘restu tersembunyi’ yang diam-diam Shiro sampaikan.
            Apa memang benar kerikil terjal dalam perjalanannya menggapai Kanae hampir hilang? Apa memang, ujung jalan yang menjadi destini dalam menaut hati seorang Kanae sudah hampir terlihat? Dan apa memang, segala usaha kerasa yang ia jalani itu menerbitkan sebuah senyum yang lebih banyak untuk Kanae?
            Ia tak ingin mengharap lebih, tapi ia yakin sudah berusaha dengan lebih.
            Ketika pada akhirnya ujung jalan sudah mulai mengintip, ia hanya perlu mengatur beberapa manuver lagi.
            Sebab ini belum benar-benar berakhir.
            Ia mungkin sudah mampu menggenggam hati Kanae erat-erat, tapi jelas Kanae belum mengizinkan ia mengambilnya.
            Dan kini, terima kasih dari Shiro membuatnya semakin yakin;
            sudah waktunya ia meminta izin pada Kanae untuk mengambil hati gadis itu.
            Untuk ia simpan rapat-rapat.

To Be Continued.

semakin dekat ke hari 30 :3 :3 enjoy 202 words!

Sabtu, 27 Juni 2015

[Day 27 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 27


Frühling;
.
.
Spring
.
.
    Chapter 27: Project?
.
.
            Suara langkah terdengar statis ketika Akihiro memasuki ruang kerjanya. Di sana, Sei sudah datang lebih dulu. Teman satu kubikelnya itu tiba-tiba saja menghampirinya dengan dahi yang berkerut-kerut samar.
            “Ada yang mencarimu.”
            “Siapa?”
            “Shizuna-san.”
            Kedua hazel Akihiro melebar dengan refleks. Entah mengapa, segala gagasan aneh sudah lebih dulu terbentuk di dalam pikiran-pikirannya tersebut.
            Why you so … surprised? Bukankah kalian memang sedang mengerjakan proyek bersama?”
            Ucapan Sei seperti genangan air yang mengalirinya di antara el nino yang menyesakkan. Ah, benar, pasti Shiro memanggilnya karena urusan pekerjaan, kan? Memangnya apa lagi?
            “Ah, ya. Aku akan ke sana.”
            Ketika Akihiro kembali melangkahkan kaki keluar ruangan, suara Sei terdengar berteriak di belakangnya. Mengujar tanpa mengenal tempat dan menilai kapasitas volume lengkingannya sama sekali.
            “Hoi, ingat, kaubelum menceritakan tentang hubunganmu dengan adik perempuan Shizuna-san, Akihiro!”
            Akihiro hanya menggeleng pelan. Mulut besar sekali, si Sei itu. Untung kantor masih sepi, jika sudah ramai dan teman-teman satu divisinya mendengar itu, apa yang harus ia katakan kalau-kalau mereka meminta penjelasan.
            Pria itu memasuki lift dan menekan tombol di mana ruangan Shiro berada. Meski ia sudah meyakinkan diri bahwa Shiro memanggilnya untuk urusan pekerjaan, diam-diam ia memikirkan hal lain, bagaimana jika atasannya itu memanggilnya karena Kanae? Bagaimana kalau … astaga! Akihiro mengumpat dalam hati. Jangan-jangan Shiro tahu kemarin Kanae baru saja mencium pipinya.
            Namun, segera saja Akihiro menepis pemikiran itu. Konyol sekali, sih, dirinya.
            Ketika Akihiro sampai di ruangan Shiro, de javu  menyergap dirinya. Dulu, ketika ia membuka pintu ini, ia dikejutkan oleh pemandangan yang membuat hatinya carut-marut. Tapi, tak ingin lebih lama berpikir gamang, ia segera mengetuk pintu sebelum akhirnya memutar kenopnya.
            Syukurlah, hanya ada Shiro di sana.
            “Selamat pagi, Shizuna-san.”
            Tatapan mata Shiro memandangnya sekilas, kemudian mempersilakannya untuk duduk di kursi di hadapan pria itu.
            “Aku sudah melihat data yang kau kirimkan beberapa waktu lalu…”
            Dan pembicaraan mereka pun akhirnya berpusat antara proyek yang tengah mereka jalani. Akihiro diam-diam menghela napas, heran sendiri ia masih bisa bersikap profesional setelah semua yang telah terjadi di antara mereka.
            “Baiklah, kutunggu hasilnya lusa. Kuharap kau melakukannya dengan baik.” Pungkas Shiro pada ujaran terakhirnya.
            Akihiro mengangguk pelan, bersiap untuk melangkah pergi setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dan salam hormat pada Shiro.
            Namun, ketika ia baru saja menyentuh kenop pintu, Shiro kembali memanggilnya.
            Akihiro berbalik, kembali menatap pria yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.
            Lalu pria itu menandas.
            “Akhir-akhir ini Kanae lebih banyak tersenyum.”
            Shiro sedikit mengangkat sudut bibirnya sebelum kembali meneruskan.
            “…terima kasih.”

To Be Continued.

huhu ngerasa aneh sama chapter ini :'> but, enjoy 406 words :)

Jumat, 26 Juni 2015

[Day 26 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 26


Frühling;
.
.
Spring
.
.
  Chapter 26: Sweet
.
.
            Kata orang, ada beberapa hal manis di dunia ini yang dapat kita temukan. Seperti, melihat sepasang pengantin di atas altar, melihat seorang bayi mungil yang tertidur pulas, melihat sepasang sahabat yang saling membantu, pun melihat kedua orangtua kita saling melempar senyum penuh kasih sayang.
            Namun, bagi Kanae, hal-hal manis tersebut dirasanya dalam bentuk yang lebih sederhana. Yang tak ia prediksikan akan ia dapatkan. Dan tak ia kira akan membawa perasaannya ke dalam kehangatan dan kenyamanan yang sangat menyenangkan ini.
            Wajah merona Akihiro ketika ia mengecupnya;
            itulah kata kuncinya.

To Be Continued.

88 words story only :3

Kamis, 25 Juni 2015

[Day 25 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 25


Frühling;
.
.
Spring
.
.
  Chapter 25: Osculation
.
.
            “Ini apartemenku.”
            “Apa boleh?”
            Akihiro terkekeh kecil, tangannya dengan refleks terulur untuk mengacak lembut helaian rambut hitam Kanae dengan gemas. “Tentu saja, Kanae-sama. Memang siapa yang mau melarang?”
            Sekilas rona merah muncul di kedua belah pipi Kanae, lagi-lagi membuat Akihiro tersenyum lembut. Gadis itu manis sekali, dan tak pernah sadar telah sukses membuat hati Akihiro berjungkat-jungkit menyenangkan. Apa dirinya juga begitu? Apa ia membuat hati Kanae berdebar-debar juga?
            Akihiro membuka pintu apartemennya. Ini pertama kalinya ia membawa seorang gadis ke sini. Entah kenapa, ia hanya ingin Kanae mengenalnya lebih jauh, lebih intim. Ketika ia sudah yakin dengan perasaannya sendiri, maka tugasnya kali ini adalah meyakinkan perasaan Kanae. Dan ia akan melakukannya dengan totalitas penuh agar membuat gadis itu benar-benar membalas perasaannya.
            “Mau minum apa?”
            Kanae mendengar Akihiro mengujar, tapi ia tak segera menjawab. Netra oniksnya tengah terpaku pada ruang apartemen Akihiro yang minimalis dan rapi. Warna hitam dan putih mendominasi, menguarkan aura maskulinitas tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya. Belum lagi aroma citrus yang menyambangi indera penciuman gadis itu. Harum Akihiro. Ah, betapa nyamannya jika ia bisa terus-menerus berada di sini dengan aroma Akihiro menemaninya sepanjang waktu.
            “Hei, Kanae?” sebuah lambaian telapak tangan yang besar mengagetkan Kanae dari segala kemelut pikirannya. Gadis itu mengalami disorientasi pikiran sejenak, sebelum akhirnya menyadari seringaian Akihiro di depannya. “Kau mau minum apa?”
            “A-apa saja,” jawabnya cepat.
            Pria di depannya itu lagi-lagi tersenyum, menggeleng pelan sebelum kembali melangkah memasuki bagian dalam apartemennya. “Tunggu di sini, ya. Aku buatkan minum dulu.”
            Kanae mengangguk dan melangkah mendekati sofa beludru hitam yang berada tak jauh darinya. Ia duduk di sana, mengempaskan diri pada bangku empuk nan nyaman tersebut. Matanya kembali menginvasi sekelilingnya, saat tiba-tiba ia menemukan kumpulan bingkai-bingkai foto yang tersusun rapi di meja kecil di samping sofa yang ia duduki.
            Gadis itu beringsut mendekat ke arah meja, meneliti satu-persatu foto-foto yang menarik perhatiannya. Kanae tersenyum melihat berbagai ekspresi Akihiro di sana. Ada salah satu foto yang membuatnya terkikik, yaitu foto berobjekan Akihiro dalam seragam elementary school sedang menangis dengan gigi ompong.
            “Senang dengan apa yang kaulihat?”
            Suara itu lagi-lagi menyita kegiatannya. Ia menoleh dan mendapati Akihiro tengah berdiri di sampingnya dengan secangkir teh hangat. Harumnya manis sekali.
            “Kau lucu sekali dulu.” Kekeh sang gadis pelan.
            “Memangnya sekarang sudah tidak?”
            Tanya itu membuat Kanae gemas dan serta-merta meninju pelan bahu Akihiro. Namun, sepertinya Akihiro menikmati sentuhan itu, karena ketika Kanae berniat kembali menarik tangannya, pria itu tetap menahannya di sana. Mengelusnya pelan dengan sebuah senyum lembut yang membekukan Kanae.
            Waktu seketika berhenti, harum citrus dan teh yang menyatu membuat pikiran Kanae semakin melebur entah ke mana. Pun sentuhan Akihiro di tangannya yang menghangat. Segalanya terasa nyaman. Begitu nyaman sampai-sampai Kanae merasa ingin merasakan sesuatu yang kiranya lebih dari ini.
            Tak mampu menahan segala rontaan dalam rongga dadanya, Kanae mencondongkan tubuh, mendekat pada Akihiro hingga ia bisa merasakan hangat napas pria itu di pipinya. Tanpa aba-aba, kedua kakinya berjinjit pelan, bibirnya mencari-cari sampai ia menemukan pipi Akihiro dalam kecupannya.
            Kanae mengecup Akihiro.
            Mengirim sejuta sengatan kupu-kupu ke dalam perut pria yang kini tengah melebarkan mata karena terkejut itu.

To Be Continued.

508 words untuk aspartam-aspartam :3

Rabu, 24 Juni 2015

[Day 24 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 24


Frühling;
.
.
Spring
.
.
  Chapter 24: Night
.
.
            Malam itu tak seperti malam-malam yang lalu,
            karena subjek bersubtitusi menjadi kamu
            Yang membuatnya tersenyum penuh,
            dan menghapus segala jenuh.
.
.
            Malam itu langit semendung abu,
            angin berembus menghantar syahdu
            Tapi, sudut hatinya menghangat selalu
            meski dingin menyentuh-nyentuh kalbu.
.
.
            Malam itu,
            hujan turun bersama sendu
            Membwa segenap pilu,
            yang meronta tak kenal ragu
            Tapi, dirinya tahu,
            Setelah ini, badai pasti berlalu.

Bold is Kanae’s
Italic is Akihiro’s
Underline is Shiro’s

To Be Continued.

Ieuuuuuu gombal session. Anggap saja isi hatinya mereka, ya. Silakan menebak-nebak sendiri. /kabur/