Followers

Tampilkan postingan dengan label writing's daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing's daily. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Februari 2014

My Writing Playlist



Sebenarnya, saat menulis atau membaca, saya akan lebih suka dengan suasana hening. Seperti saat membaca, beberapa orang mungkin akan lebih senang memasang earphone dan mendengarkan musik di telinganya seraya membaca. Hal ini jarang saya terapkan, karena saat saya mulai memutar lagu, saya akan kembali mematikannya karena merasa konsentrasi saya terpecah antara lirik lagu dengan ribuan kata yang sedang saya baca. Satu-satunya buku yang pernah saya baca diiringi dengan lagu adalah Melbourne: Rewind karya Winna Efendi. Itu juga karena dalam novel itu terdiri dari beberapa playlist lagu yang dijadikan judul pada setiap bab-nya. Jadi, demi menyelami cerita, saya mendengarkan lagu-lagu itu seraya membaca.
Untuk menulis, saya juga tidak selalu sambil mendengarkan lagu. Adakalanya suasana hening lebih bisa membuat saya berkonsentrasi dengan jalan cerita. Tapi, saya tetap memiliki beberapa writing playlist. Saya sebut writing playlist bukan karena lagu-lagu itu selalu saya dengarkan saat menulis, sih. Terkadang memang iya. Tapi lebih ke—saya akan langsung merasa ingin menulis saat mendengarkan lagu itu.
Dari ratusan daftar playlist yang ada dalam music player saya, ada sekitar 19 lagu yang masuk ke dalam my writing playlist. Dan ini dia daftarnya (urutan acak):

  1. 1     When You Love Someone – Endah n Resa
    Ini juga masuk ke dalam lagu favorit saya. Mellow dan sangat enak didengarkan saat kita tetap menginginkan suasana yang hening. Kalau biasanya saya mudah bosan terhadap sebuah lagu yang sudah terlalu sering saya dengar, tetapi tidak untuk lagu yang satu ini.
    2.       You and Me – Lifehouse
    Kenal lagu ini dari novel Melbourne: Rewind. Suka dengan lirik dan nadanya. Alhasil, setiap dengar ini, kepala saya sudah berkeliaran mencari ide xP
    3.       You Belong with Me – Taylor Swift
    Geeky banget, ya, masih suka denger lagu ini >.< tapi, makna lirik lagunya itu benar-benar membuat saya mencari ide. Yah, sedikit banyak, saya banget juga lah.
    4.       You’re Not Sorry – Taylor Swift
    Meskipun saya juga bingung kenapa lagu ini masuk ke dalam writing playlist, tapi rasanya ada yang kurang kalau saya melewatkan lagu ini. Suka dengan melodinya.
    5.       Sure Feels Like Love – Tiffany Thornton
    Suka lirik dan nadanya, sih. Apalagi bagian awalnya. Beberapa lirik membuat otak di kepala saya segera berkeliaran mencari ide hehehe.
    6.       The Only Exception – Paramore
    Nadanya membuat saya ingin cepat-cepat duduk di depan laptop dan meneruskan draft saya. Entah kenapa, tapi lagu ini memang melakukan itu. Dan saya sempat membuat sebuah bab dalam project NaNoWriMo dengan judul Exception. Cocok dibaca sambil mendengarkan lagu ini ;p
    7.       Breakeven – The Script
    Tidak ada alasan khusus, seperti You’re Not Sorry tadi, lagu ini juga terasa sayang jika saya lewatkan.
    8.       Six Degrees of Separation – The Script
    Untuk lagu ini, sebenarnya saya suka dengan judul dan liriknya. Sempat terpikirkan untuk membuat sebuah cerita dengan tema yang sama, tapi belum tercapai sampai sekarang :p
    9.       When I Was Your Man – Bruno Mars
    Siapa, sih, yang nggak suka lagu ini? Tidak ada hal yang lebih indah dibanding menulis dengan ditemani suara si manis satu ini xP
    10.   21 Guns – Green Day
    Nadanyaaaaaaaa! Membangkitkan semangat menulis sekali. Meskipun liriknya sama sekali tidak berhubungan dengan segala ide yang saya punya, tapi saya sangat menyukai nadanya.
    11.   A Thousand Years – Christina Perri
    Lagu ini juga merupakan salah satu lagu yang membuat saya ingin cepat-cepat duduk di depan laptop dan menulis hanya dengan mendengarkan detik-detik intro awalnya.
    12.   Fix You – Coldplay
    Mungkin Coldplay dan Fix You adalah lagu sejuta umat. Lagu ini juga dicover oleh Secondhand Serenade (penyanyi favorit saya, btw). Tapi saya tetap lebih suka mendengarkan versi Coldplay. Mendayu-dayu dan membuat saya terbawa perasaan. Dan akhirnya … kepingin nulis ;p
    13.   Cinta Datang Terlambat – Maudy Ayunda
    Denger lagu ini langsung teringat Refrain! So, what? Saya jadi ingin cepat-cepat menulis supaya novel saya nanti sekeren Refrain—atau kalau perlu, diangkat jadi film juga :’)
    14.   Michi (To You All) – Aluto
    Ini satu-satunya lagu berbahasa Jepang yang ada di music player saya >.< salah satu soundtrack anime Naruto. Memang banyak soundtrack anime itu yang saya suka. Salah satunya adalah lagu ini. Coba, deh, sekali-sekali dengerin. Melodinya bagus. Ada selingan biolanya juga. Dan membuat pikiran saya tenang sesaat saat mencari ide.
    15.   One and Only – Teitur
    Tahu lagu ini juga dari Melbourne: Rewind :’) lagi-lagi lagunya bikin saya kepingin nulis.
    16.   Parachute – Kiss Me Slowly
    And this one too. Dari Melbourne: Rewind lagi hehehe. Ternyata lagu di sana memang enak-enak. Dan untuk lagu ini, liriknya menggambarkan sebuah scene yang ingin saya buat. Belum kesampaian, sih (lagi). Tapi saya udah kepikiran >.< liriknya seksi aja, gitu. Dan ini juga bikin keinginan menulis saya bangkit :D
    17.   Only Hope – Mandy More
    Salah satu soundtrack A Walk To Remember. Saya suka mendengarkan lagu dari sebuah soundtrack adaptasi film yang berhasil membuat saya menangis. Apalagi saat saya membaca novel Nic ini. So … lagu ini salah satu pemancing saya untuk membuat sebuah scene mengharukan.
    18.   Learning to Breath – Switchfoot
    Kalau lagu ini, salah satu pemancing saya untuk membuat sebuah scene di mana sang tokoh utama menyatakan perasaan cintanya pada tokoh lawannya xP
    19.   The Scientist – Coldplay
    Ah :’’) ini lagu yang sedang memiliki peran banyak untuk meningkatkan mood menulis saya saat ini. Salah satu alasannya karena lagu ini mellow sangat—which is, salah satu tipe yang paling saya sukai haha (kalau ditilik dari 18 lagu di atas juga sebagian besar mellow). Dan alasan lainnya adalah, karena lagu ini saya jadikan back song di dalam project novel baru saya. Intinya, untuk saat ini, selalu lagu ini yang saya putar setiap membuka draft atau pun saat ingin mendengarkan lagu. Liriknya pas dengan salah satu scene yang akan saya buat dalam project novel saya itu. Lagu ini juga nantinya akan memiliki peran besar dan akan saya masukkan ke dalam tulisan saya itu. Pokoknya … ini yang paling spesial untuk saat ini.

    Untuk 19 lagu itu, mungkin saja akan terus bertambah atau berkurang nantinya. Tapi untuk sekarang, 19 lagu itulah yang bertengger dalam writing playlist saya dan berpengaruh besar pada mood menulis saya.

    So, what’s your writing playlist? Wanna share?

Jumat, 15 November 2013

Catch You with Alphabets: Chapter 5: E untuk Exception


Chapter 5: E untuk ‘Exception
["Love always become exception.” -Unknown]
.
.
            Aku pernah berada dalam sebuah masa-masa sulitku. Seperti, ketika aku memutuskan untuk meninggalkan orang tuaku di Yogyakarta untuk menetap di Jakarta, atau saat di mana naskah novel yang kukerjakan larut malam hingga bergadang ternyata tak cukup pantas untuk diterbitkan oleh publisher-ku—hingga akhirnya membuatku harus merombaknya ulang kembali bersamaan dengan kesulitan yang berulang di sini, atau di mana aku tengah bertengkar dengan kedua orang tuaku dengan sebuah masalah yang itu-itu saja.
            Yang terakhir adalah kesulitan terbesarku.
            Mam dan Pap selalu memertanyakan atas segala kemajaun pekerjaanku sebagai penulis paruh waktu. Aku mengerti, itu adalah salah satu cara mereka untuk kembali mengusikku secara tidak langsung mengarahkanku untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan—karena mereka tahu, saat ditanya tentang kemajuan pekerjaanku saat ini, aku tidak akan mampu menjawabnya.
            Like I said before, aku selalu ingin bekerja mengenai hal-hal yang kusukai. Kedua orang tuaku selalu menginginkan aku menjadi seorang pendidik—gelarku yang sebenarnya memang S.pd, karena saat itu aku lulus sebagai mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namun, aku merasa passion-ku lebih ke sastra, bukan pendidikannya. Maka dari itu, saat aku memutuskan pindah ke Jakarta—bukannya menetap di Yogyakarta dan mengikuti tes CPNS, sedikit banyak Mam dan Pap kurang menyetujui.
            Dan saat ini hal itu terulang kembali. Sebuah masa-masa sulit di mana aku bertengkar dengan orang tuaku hanya karena profesiku saat ini.
            “Mau di kemanakan masa depanmu, Flo? Jika dengan profesimu saja masih belum jelas hingga saat ini.”
            Begitu yang Mam katakan padaku di ujung telepon. Aku memijit pangkal hidungku pelan, berusaha menghilangkan pening yang tiba-tiba saja menyambangi. Kupikir Mam berinisiatif menelepon karena hanya ingin melepas rasa rindu seperti sebelum-sebelumnya, namun, saat beberapa basa-basi ia mulai menanyakan tentang pekerjaan novelku, aku mulai curiga.
            “Kita sudah pernah membicarakan ini, Mam. Please, give me a chance just for this profession.
            Terdengar suara helaan napas panjang di sana. Itu adalah salah satu cara Mam untuk menahan emosi. Dan kalau sudah sampai menahan emosi, itu pertanda bahwa Mam ingin menangis.
            Dan aku tak ingin mendengar wanita yang paling kusayangi itu menangis.
            “Kami sudah memberimu kesempatan yang panjang,honey. Suaranya sudah terdengar lebih kecil dan parau. “Semua orang tua hanya ingin melihat anaknya berhasil, Flo!”
Aku tak sanggup lagi menahan segala rasa sesak pada rongga dadaku saat akhirnya mendengar suara isakkan dari ujung telepon. Maka dari itu, tanpa maksud apapun selain tak lagi sanggup menahan sesak akibat melihat Mam menangis, aku memutuskan sambungan telepon.
            “I’m really sorry, Mam.”
            Dan aku menangis sejadi-jadinya saat itu. Tak ada lagi hal yang dapat dan kupikir sanggup aku lakukan selain menangis di apartemen. Aku mematikan handphone, menolak tamu yang datang, bahkan mengabaikan e-mail dari editorku yang terus-menerus memeringati tentang waktu deadline yang sudah hampir habis.
            Karena masa-masa tersebut adalah situasi tersulit yang pernah kualami. Karena, akan ada banyak hal yang terpengaruhi oleh situasi itu.
            Tak ada hal yang lebih menyakitkan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa Ibumu menangis karena dirimu sendiri.
            BIP. BIP.
            “Saat ini Flaciona sedang tidak bisa menjawab telepon Anda. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi…”
            BIP.
            “Flo, ponselmu mati? Hari ini aku mengadakan regular party bersama teman-teman Ron di apartemenku. Bisa datang? Ajak Vergi juga, ya. Kutunggu kabarmu.”
            BIP. BIP.
            “Astaga, Flo! Apa yang kau lakukan dengan ponselmu? Deadline-mu besok siang, Astaga! Jangan membuatku gila, Flo! Hubungi aku secepatnya jika kau masih memikirkan nasib naskahmu!”
            BIP. BIP.
            “Halo, uhm, maaf, benar ini dengan Saudari Flaciona? Kami dari kantor pemasaran Pen Publishing. Kami tertarik dengan naskah Anda yang berjudul Senja. Bisa segera hubungi Kami secepatnya setelah ponsel Anda aktif? Terima kasih.”
            BIP. BIP.
“Flo, ada apa dengan ponselmu? Ini Glenn. Aku ingin bertemu denganmu. Bisa?”
BIP. BIP.
            “Aghhhhh! Shit!!!”
            Hampir lima menit sudah mesin penjawab telepon sialan itu berteriak. Hell, aku tak ingin mendengar apapun. Aku tak peduli dengan Sena, Ger—editorku, penerbit baru, atau Glenn sekalipun.
            Aku tidak tahu apa yang mampu membuat perasaanku kembali tertata rapi setelah tercabik-cabik mendengar suara tangisan Mam. Jika seperti ini, aku bahkan yakin tidak akan sanggup meneruskan pekerjaanku lagi.
            BIP. BIP.
            “Flo?”
            Mataku melebar. Mendengar nada suara tak asing yang seharian ini hampir kulupakan.
            “Hei, ada apa denganmu? Ponsel mati? Mengabaikan seluruh pekerjaan? Tak menghubungiku?”
            Suara yang akhirnya membuatku menemukan alasan untuk kembali menata rapi hatiku yang terlampau sesak ini.
            “Ada yang ingin kau ceritakan?”
            Isakkanku kembali terdengar, tapi entah mengapa kali ini aku merasakan sebuah perasaan lega yang teramat sangat hingga tangisku ini bercampur dengan rasa haru.
            “Ceritalah…”
            Suara itu terhenti sejenak. Menyisakan suara helaan napas berat dari ujung mesin penjawab telepon, serta kesunyian kamarku yang di dominasi oleh suara isakkanku.
            “Kutunggu kau menghubungiku kembali. Aku … menunggu di depan apartemenmu.”
            BIP.
Saat itu juga, seluruh syarafku seperti refleks menerima perintah organ tubuhku yang kini siap bangkit dan begerak cepat untuk berlari ke luar kamar. Perasaanku tak menentu, jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat—seolah aku adalah pecandu narkotik sakau yang akhirnya menemukan obatku lagi.
            Dan saat akhirnya aku membuka pintu apartemen, menemukan Vergian tengah bersandar pada sisi tembok sebelah kiri, perasaanku akhirnya meledak.
            “Flo—“
            “—I hate myself, Vergi! I hate…”
            “Sssst.”
            Vergian memelukku dengan erat, kemudian menuntunku kembali masuk ke dalam apartemen. Sebelah tangannya sibuk mengusap sisi tubuhku, dan sebelahnya lagi berusaha menutup pintu apartemen.
            Setelah pintu tertutup, ia kembali mendekapku erat, membawaku ke dalam kamar dan duduk di sisi ranjangku. Tanpa banyak bicara, ia terus memelukku. Membelai lembut rambutku yang berantakkan, juga kedua bahuku yang bergetar.
            Vergian selalu melakukan hal ini saat aku menangis.
            Ia hanya akan terdiam, tanpa mengatakan apapun. Terus memelukku hingga aku merasakan bahwa ialah obat untuk seluruh kesulitanku.
            “Vergi, aku membuat Mam menangis.”
            Karena Vergian adalah sebuah pengecualian.
            Saat kurasakan aku tengah tak peduli dengan seluruh orang, tetapi ia adalah pengecualian.
            Vergian akan selalu menjadi seseorang yang dapat menenangkanku, obat mujarabku. Vergian tak akan pernah menjadi seseorang yang lain untukku. Vergian tak akan pernah bisa menjadi orang yang kuhindari saat aku tengah berada dalam situasi sulitku ini.
            Because he’s my exception.
      Dan, memang, cinta selalu menjadi sebuah pengecualian.
A/n: this is my part of my NaNoWriMo project. Chapter 5, E untuk Exception. Uhm, hanya segelintir kisah Flo dan Vergi serta pahit manis hubungan mereka berdua. Dan … Novelku masih jauh dari target:’( baru 8rban kata dari 50rb kata:’) 15 hari lagi tersisa untuk melengkapi kekurangan itu. Ugh, can I?;p

Sabtu, 12 Oktober 2013

Bunga untuk Ken (Peri Bunga)


https://kamarpodjok.wordpress.com/2013/10/08/tantangandongengperi/



















            Flowy adalah seorang peri cantik yang tinggal di antara hamparan langit colombus dan selalu terbang bersama angin yang mendesau ke permukaan bumi. Ia memiliki tugas menghias bumi lewat langit, menjadikan bumi sebagai tempat ternyaman untuk ditinggali para manusianya. Ayahnya adalah seorang peri penyihir yang mampu menyihir tentang hal apapun pada dunia peri, dan ibunya adalah peri air.yang terus menerus berada di sepanjang arus air, agar keadaan air bisa tetap menyejukkan orang banyak.
            Saat senja tiba, Flowy mewarnai hamparan langit dengan semburat warna jingga yang indah. Terkadang, ia akan ikut menatap warna-warna itu di balik bola matahari raksasa yang mulai tenggelam bersama para manusia di bumi. Namun, saat waktu senja hampir habis, ia pun harus kembali menghapus warna itu, membuat langit kembali gelap dan polos. Hitam dan kelam.
            Ia juga melukis pelangi saat hujan turun, namun terkadang, lukisan warna-warninya itu tak dapat dilihat oleh seluruh manusia di bumi karena warna pelangi begitu terbatas. Ia harus bergantian melukisnya ke bagian-bagian langit lainnya saat pelangi sebelumnya sudah menghilang.
            Lalu, ia juga bertugas menguarkan harum petrichor sehabis hujan turun. Bau sehabis hujan dan tanah basah yang membuat semua orang menjadi nyaman. Juga membuat syaraf sensorik yang ada pada manusia kembali mengenang hal-hal di dalam otaknya.
            Di langit, Flowy menjadi peri paling cantik. Tubuhnya mungil, dengan mata sewarna senja dan rambut cokelat lebatnya yang indah dan sangat panjang. Tak sedikit para dewa yang tertarik padanya dan meminta izin pada Ayahnya untuk melamar Sang Peri. Bahkan Eros (Cupid) yang merupakan Dewa Cinta memanah dirinya sendiri untuk kemudian jatuh cinta pada Flowy. Eros pernah datang padanya untuk diam-diam memanah jantungnya agar Flowy jatuh cinta pada Eros. Namun, panah itu melesat jauh dan mengenai sebuah pohon cemara, membuat Sang Pohon akhirnya jatuh cinta pada Eros. Dan Eros pun sibuk berlari menghindari pohon cemara sampai akhirnya ia melupakan perasaan cintanya pada Flowy.
            Peri itu tak pernah sekalipun merasakan jatuh cinta.
            Sampai akhirnya, saat suatu hari ia tengah turun ke bumi sehabis mewarnai langit senja, ia melihat seorang manusia di tengah-tengah taman yang penuh bunga. Dari atas pohon, ia terus memerhatikan seorang pemuda yang terlihat begitu antusias merawat berbagai bunga warna-warni yang terhampar di lahan tanah sebuah taman itu. Pemuda itu terlihat begitu bersinar, bahkan lebih terang dari warna senja yang ia lukis. Wajahnya begitu tampan dan menghangatkan hatinya saat Flowy dengan seringnya mencuri pandang ke arah pemuda itu.
            Sampai ia tersadar ia telah jatuh cinta pada seorang manusia.
            Ia tahu, sang pemuda tak akan pernah menyadari keberadaannya. Maka, semenjak hari itu ia selalu turun ke bumi setiap fajar terbit dan senja terbenam demi melihat sang pemuda manusia yang telah berhasil membuat perasaannya berbunga-bunga itu.
            Si pemuda terlihat begitu mencintai bunga yang dipeliharanya. Setiap hari, akan terus ada jenis bunga baru yang ia bawa untuk kemudian di tanam bersama ratusan bunga-bunganya yang lain. Pemuda itu terlihat seperti pangeran bunga dari atas tempat Flowy melihatnya. Wajahnya merona sendiri. Rasa penasarannya begitu menambah seiring bergantinya hari. Ia terus menelusuri siapa nama pemuda manusia itu. Terkadang, ia menyusup dari atap rumah si pemuda atau melalui celah-celah jendelanya. Dari situ ia juga dapat melihat berbagai tanaman bunga di dalamnya. Flowy berdecak kagum, betapa cintanya pemuda itu pada bunga.
            Suatu hari, Flowy berhasil mengetahui nama pemuda itu. Ken.
            Ken adalah pekebun bunga yang ternyata hanya tinggal sebatang kara. Hidupnya seolah terasingi dengan orang lain karena setiap hari yang ia lakukan hanyalah mengurus bunga-bunganya.
            Betapa Flowy merasa iri dengan bunga-bunga itu.
            Karena rasa irinya itu, Flowy datang kepada Ayahnya dan memintanya menyihir seluruh bunga-bunga milik Ken menjadi layu. Ayahnya pun menyanggupi. Dan betapa senangnya Flowy saat bunga-bunga indah itu kini tampak layu dan sama sekali tidak menarik. Ia berpikir, pasti Ken tidak akan lagi mencintai bunga-bunganya.
            Namun, yang dilihat Flowy begitu membuatnya menyesal. Ken begitu sedih karena seluruh bunga yang ia jaga telah layu. Pemuda itu bahkan seperti tidak lagi memiliki semangat untuk hidup dan berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Hal itu membuat hati sang peri teriris-iris. Ia tak ingin melihat pemuda yang dicintainya begitu menderita seperti itu. Ia pun mencari cara untuk membuat Ken kembali tersenyum.
            Maka, Flowy pun kembali menemui Ayahnya. Ia meminta Ayahnya untuk menyihir rambut cokelat tebalnya yang indah dan sangat panjang itu menjadi sebuah hamparan bunga. Mulanya Ayahnya tidak setuju karena mengetahui betapa Flowy sangat mencintai rambutnya, namun mendengar alasan Flowy yang mengatakan ini demi pemuda yang dicintainya, peri penyihir itu pun akhirnya menuruti permintaan anaknya.
            Jadilah rambut Flowy yang lebat menjadi penuh dengan bunga. Dan sejak saat itu, Flowy selalu menggeraikan rambut penuh bunganya hingga ke lahan milik Ken. Ken yang melihat lahannya kembali penuh oleh bunga, seketika kembali bersemangat menjalani hidup. Setiap hari ia rawat bunga-bunga yang tumbuh lebat di sana, ia rawat begitu baik melebihi bunga-bunganya yang terdahulu. Ken pun semakin jatuh cinta dengan bunga-bunganya itu. Tanpa sekalipun menyadari bahwa itu adalah hamparan rambut Flowy yang penuh bunga.
            Flowy pun merasakan perasaan yang begitu bahagia saat merasakan Ken menyentuh dan merawat rambutnya dengan penuh cinta. Meskipun Ken melakukannya tanpa sadar, tetapi itu membuat Flowy begitu bahagia.
            Karena dengan hamparan bunga di rambutnya itu, ia dapat merasakan seolah mereka saling mencintai satu sama lain.
.
.
Finish—(HNM)

Selasa, 24 September 2013

Warna

image: jordana-elise.blogspot.com
Hari ini sama dengan hari-hari itu;
—langit masih berwarna biru, embun tetap sewarna bening, senja masih berwarna oranye, dan gelap tetap hitam.

Pernah, satu kali terlintas dalam benakku, bagaimana jika frase itu berubah? Bagaimana jika hari selanjutnya hal-hal yang kusebut barusan tak berjalan statis seperti yang kemarin?

Bagaimana jika—langit adalah hitam, embun adalah merah, senja adalah putih, dan malam adalah bening?

Terkadang, ada hal-hal yang berjalan statis dan juga berubah.

Namun, satu yang kuyakini pasti—

—kemarin, hari ini, dan hari-hari selanjutnya;

...aku tetap abu-abu.