Followers

Tampilkan postingan dengan label writing challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing challenge. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Reload (Melbourne: Rewind Fanfiction)


Fanficion ini diambil dari novel Melbourne: Rewind karya Winna Efendi
.
.
Reload
.
.
Max

            Pernah, nggak, lo merasakan sebuah perasaan yang teramat canggung dan melegakan di saat bersamaan sekaligus?
            That my feeling right now.
            She’s here. Dengan terusan satin berwarna gading selutut, masih dengan rambut ikal panjangnya yang tergerai hingga ke punggung. Dan, oh, bintik-bintik cokelat muda di wajah ovalnya juga masih bisa gue lihat.
            “Max?”
            Suaranya juga nggak berubah. Satu-satunya yang terlihat berubah dari dia adalah I-pod putih yang menyembul pada tas selempang kecilnya. Dia sudah nggak menggunakan walkman bututnya lagi, eh?
            Gue tersenyum singkat. Mengangguk samar bermaksud untuk membalas sapaannya dan, mungkin, memberi kode supaya dia ikut duduk bergabung di sini bersama gue.
            May I…?” Tanyanya ragu dan gue cepat-cepat mengangguk singkat kemudian menggeser duduk gue, memberikan ruang pada sofa yang gue duduki supaya dia bisa menyamankan diri duduk di sana.
            Sudah enam bulan semenjak kami berbagi meja dan menyesap kafein bersama di Prudence. Ingat saat terakhir kali kami melakukan semua ini? Saat itu, saat di mana gue dan dia bertengkar hebat akibat kecerobohan gue yang kembali menyatakan perasaan gue. Cinta.
            How are you, Laura?”
            Setelah akhirnya Laura kembali ke Prudence saat itu—saat setelah ia berkeliling beberapa Negara sendirian, gue tahu dia telah memaafkan gue. Kami kembali bersikap biasa, seperti Max dan Laura sebelumnya. Seolah pernyataan cinta kembali yang gue lontarkan ke dia beberapa saat sebelumnya tak pernah terjadi.
            Tapi, gue nggak tahu kalau dia akan membawa berita itu.
            Really fine. And you?” ia tersenyum saat mengucapkannya, membuat gue mau nggak mau juga ikut tersenyum—sulit.
            “Seperti yang lo lihat.” gue menatapnya sekilas. “Gimana Hans?”
            Gue melihat tubuh Laura sedikit menegang. Kemudian, sekali lagi memaksakan sebuah senyum. Oh, gue benci senyum itu.
            “Dia baik-baik aja. Lagi semangat-semangatnya milih warna untuk wedding party kami nanti.”
            Enam bulan yang lalu, saat ia kembali ke Prudence dengan membawa semua harapan gue akan dirinya, Laura justru membawa berita yang mampu menyumbat semua aliran darah yang ada pada tubuh gue. She’s talk about Hans. Laki-laki yang juga bekerja di tempat yang sama dengan Laura. And she’s talk about their relationship.
            Gue nggak ingat mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman atau sahabat. Bahkan, Laura pernah menyinggung tentang Olivia—pacar Hans. Tapi, hari itu dia mengatakannya. Hans yang hadir di antara kesepiannya menjelajahi beberapa Negara yang, by the way, dulu adalah tujuan gue bersama Laura. Hans yang perhatian. Hans yang baik. Hans yang lucu. Serta analogi-analogi lain tentang laki-laki itu.
            She’s break my heart. Laura nggak tahu, betapa saat ia kembali ke hadapan gue, benih-benih harapan itu sudah terlanjur muncul kembali. Gue mencoba bersabar, membiarkan hubungan kami mengalir semaunya. Dengan naifnya merasakan bahwa saat itu gue telah merasa cukup.
            Tapi pembicaraan tentang Hans mengacaukannya. Ditambah, saat akhirnya Laura mengatakan dia dan Hans pacaran. Gue benar-benar nggak bisa lagi merasakan udara di sekeliling dengan sewajarnya.
            “Seminggu lagi, Max. Datang, ya.”
            Gue mendongak, tersadar dari segala kemelut pikiran gue tentang masa-masa itu. Laura mengulurkan sebuah kartu berwarna putih susu, dengan pita merah muda yang cantik tersemat di tengah-tengah permukaannya.
            Hans & Laura tertera di sana.
            Gue menerimanya.
            “Ajak Marly juga, sampaikan salam gue buat dia ya, Max.”
            Dan setelah itu, Laura berdiri. Tanpa sepatah kata, tanpa sedikit pun menoleh lagi, dia keluar meninggalkan Prudence.
            Dan gue.
            Si pathetic yang bahkan merasa terejek hanya karena sebuah kartu undangan pernikahan yang ada dalam genggaman gue saat ini.
Laura

            Berbicara soal pernikahan, akan selalu membuatku gugup. Apalagi saat-saat di mana dirimu menyebarluaskan seluruh undangan untuk para kerabat dekat maupun kenalan-kenalan yang nantinya diharapkan hadir pada pernikahan itu sendiri. Biasanya, saat aku menerima undangan pernikahan dari kenalanku, aku akan tersenyum dan perasaanku menghangat tanpa sadar karena melihat binaran mata si pemberi undangan yang notabene adalah calon pengantin. Mereka tak akan bisa berhenti tersenyum karena salah satu tujuan terbesar dalam hidup mereka itu akan terlaksana sebentar lagi.
            Tapi aku berbeda.
            Saat aku memberikan kartu bersemat pita cantik itu kepada Max tadi, aku tak merasakan kebahagian serta rasa hangat yang membuat matamu berbinar itu. Yang ada, hanya rasa gugup dan takut dalam waktu bersamaan. Entah mengapa, tapi kurasa ini bukanlah ide yang bagus.
            Sudah laam kami tidak bertemu. He’s change. Secara fisik. Ia lebih terlihat dewasa, tetapi sama cueknya. Bahkan aku tidak pernah menebak apa keinginannya selain meraih mimpi bersama cahaya-cahayanya itu. Max berpacaran dengan Marly, yang dulunya adalah teman Max. She’s witty. And caring. Especially about Max. Kupikir, jika ada satu wanita yang bisa mendampingi Max selama hidupnya, orang itu adalah Marly. Yang kudengar, mereka berdua memang belum terlalu lama menjalin hubungan. Tapi aku bersyukur, Marly yang akhirnya Max pilih.
            Setelah aku.
            I don’t know. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan Max terhadapku sekarang. Dulu, saat akhirnya aku memutuskan untuk memaafkannya, aku hanya ingin hubunganku dengannya kembali seperti biasa. As usual. As friend. Just friend.
            Yang ia tidak tahu, selama kami berpisah, Hans masuk lebih dalam ke dalam kehidupanku. Aku memang tak pernah menyangka akan ada perasaan lebih dari sekadar teman atau rekan kerja antara aku dan Hans. But, he’s not bad. Hans mirip Evan. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengatasi sedikit rasa patah hatiku yang tertinggal terhadap Evan. I know, Evan sudah hidup bahagia bersama Cee. Aku hanya ingin mencari sisa kebahagiaan itu. Untukku.
            Aku melangkah dengan cepat meninggalkan Prudence. Meninggalkan Max tanpa sepatah kata apapun lagi. Tiba-tiba saja aku merasa takut berada lebih lama bersama Max. Ada sesuatu yang membuatku meragu.
            Tatapannya.
            Tatapan yang masih sama seperti dulu. Seperti tatapan pertamanya di depan kelas saat aku meminta walkman-ku kembali, saat pertama kali kami mengobrol di Prudence, saat pertama kali ia menyatakan perasaannya padaku, dan saat pertama kali kami kembali bertemu di depan stasiun radio tempatku bekerja.
            Sekeras apapun aku mengabaikan Max, satu-satunya yang tak bisa kuabaikan adalah tatapan itu.
            Tatapan yang penuh cinta.
Max

            I’m the sucking stupid men in the world.
            Karena tiba-tiba saja gue ingin membatalkan pernikahan Laura.
            Am I asshole? Call me like that as much as you want. I don’t care.
            Gue nggak pernah begitu menginginkan sesuatu seperti gue menginginkan Laura. She’s everything. Dia itu seperti sesuatu yang melengkapi semua cahaya-cahaya yang selama ini gue kagumi. Laura adalah pelengkapnya.
            Dan kini dia akan menikah.
            Yang Laura nggak tahu, selama tiga bulan gue berpacaran dengan Marly, gue selalu mencari-cari diri Laura di sana. Yang nggak pernah gue bilang pada Marly, bahwa sesungguhnya gue nggak pernah sekalipun merasakan perasaan yang lebih dari seorang sahabat terhadap dia.
            Karena yang gue tahu, cuma Laura yang sampai saat ini memiliki hati gue.
            “Wow, kalau gue jadi Laura, gue bakal merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia, Max.”
            Marly menatap undangan pernikahan Laura dengan mata berbinar. Dulu, gue selalu menyukai segala sikap Marly yang cuek and really cool. Tapi, entah mengapa, kini gue muak.
            Karena nggak mendapat jawaban, Marly memalingkan pandangannya untuk menatap gue. Dia terkekeh pelan.
            “Tapi, gue juga beruntung punya lo.”
            Setelah itu dia kembali memandangi kartu undangan itu dengan antusias. Gue nggak tahu, apa itu adalah sebuah kode buat gue supaya gue juga cepat-cepat menikahi dia atau bagaimana. Tapi, oh, c’mon! She’s don’t know yang gue rasakan sekarang malah ingin cepat-cepat membatalkan pernikahan orang.
            Gue memang jahat. Nggak seharusnya gue memerlakukan Marly seperti ini. Tapi, gue nggak tahu harus berbuat apalagi.
            Besok adalah hari di mana Laura melangsungkan pernikahannya. Bersama Hans.
            Hans. Bukan Max.
            Dan masih belum ada yang bisa merubah pikiran gue. Betapa inginnya gue menggagalkan pernikahan itu.
            Gue butuh kafein. Dengan cepat gue bangkit dari sofa besar di apartemen Marly dan melangkah menuju pintu. Marly memanggil gue.
            “Mau ke mana, Max?”
            “Prudence.”
            “Ah, ikut—“
            “—not now.” Gue memotong ucapan Marly. Dia mengangkat alisnya dan menatap gue heran. “Please. I need more time to myself.”
            Marly terdiam. Dan gue meneruskan langkah.
Laura

            I need more time to myself.
            Ada yang bilang, kalau seorang perempuan akan menikah, maka ia harus dikurung di rumah selama beberapa hari. Semacam, diasingkan dari dunia luar. Istilah daerahnya; dipingit.
            But, apa yang sedang kulakukan sekarang? Berjalan menyusuri pusat kota Melbourne dengan modal sweater tipis di udara malam musim gugur. Ternyata yang kubutuhkan bukanlah mengasingkan diri dari dunia luar, tetapi mengasingkan diri dari keluargaku.
            Prepare for … tomorrow.
            Melbourne di malam hari serasa tidak seindah dulu. Atau hanya perasaanku saja? Entahlah, aku seperti melihat sebuah lukisan kosong tak bernyawa. Hanya cahaya-cahaya lampu yang menerangi kegelapan itu. Seolah hanya cahaya itu yang hidup. Tak ada lagi yang lain.
            Jika aku mengatakannya pada Max, ia pasti setuju. Ia mungkin akan terus mengoceh lebih jauh tentang cahaya dan keindahannya. Tentang lampu-lampu kota Melbourne yang terlihat hidup, atau beberapa lampu baru yang dipasang di atap kamarnya.
            I miss that time. Dan tanpa sadar, langkah kaki membawaku ke Prudence.
            Aku menyusuri coffee shop sederhana itu seorang diri, malam hampir larut dan sudah tidak banyak pengunjung yang datang. Aku menuju kursi yang biasa kutempati bersama Max. Memesan minuman, kemudian merenung di sana.
            Apakah Hans adalah pilihan yang benar?
            Pikiranku mengatakan iya, tetapi hatiku seolah menyangkal. Kalau benar mengapa aku seragu ini untuk menghadapi hari esok? Kalau salah, apa yang membuatku ragu?
            “Laura?”
            Sebuah suara berat yang tak asing membuatku mendongak.
            Max berdiri di sana.
            “Hei, what are you doing here?” ia bertanya pelan seraya melangkah dan duduk pada kursi di hadapanku.
            Aku menatapnya. “Uhm … insom?”
            Max tidak tertawa. Tidak juga merengut. Ekspresinya tak terbaca. “Huh?”
            Aku meringis pelan. “I don’t know, Max.”
            Minuman pesanan Max datang, dan kami kembali terdiam. Kini, tidak ada proyek yang tengah kami kerjakan seperti saat kami berdua ke Prudence sewaktu itu. Tidak ada lagi Max dan Laura yang tengah sibuk pada kegiatannya sendiri.
            Tapi aku merasa de javu.
            “Ra, why you never talk to me about Hans? Tentang hubungan kalian setelah lo pergi dulu…”
            Aku mendengar suara Max merendah, dan lebih serius. Tetapi cukup untuk membuat perasaanku kalang kabut. Why? Kenapa?
            I don’t know.” Jawabku akhirnya. Aku memang tidak tahu, kan?
            Stop act like you never know something, Laura. Berhenti bertingkah semuanya fine-fine aja.” Ucapnya lagi. Matanya menatapku tajam.
            No, Max. Tapi memang nggak ada apa-apa.”
            Max menghela napas gusar, dan aku melihat sebelah tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
            “Boleh aku ngomong sesuatu, Ra? I promise this is the last I’m talking about us. Aku janji ini terakhir kali aku mengungkit kita.”
            Ada sensasi hangat yang kurasakan saat mendengar Max memanggilku dengan sebutan aku-kamu. It’s likewe’re back to our past. Yang mana, saat itu semua masih terasa mudah. Aku dan Max. Kami masih saling bebas melakukan apapun tanpa harus takut menyakiti satu sama lain.
            Aku mengangguk, dan Max melanjutkan.
            Do you still love me, Ra?” Ia bertanya dengan pelan. “Aku tahu besok kamu menikah, tapi aku bisa mati karena ini. I’ve died, Ra. Apapun jawaban kamu bakal aku terima.” ia menatapku teduh.
            Do you still love him? Apa aku masih mencintai Max?
            Because I love you. I always love you, kalau kamu mau tahu.” Max kembali melanjutkan. Pikiranku masih saja melayang-layang. Apakah aku masih mencintai Max?
            Shit.
            “Tapi besok aku menikah, Max.” ujarku akhirnya. Menjawab dengan pilihan jawaban yang lain.
            Sinar dalam kedua bola mata Max seolah meredup.  It mean … no?” Tanyanya berbisik.
            I don’t know, Max. Memangnya kalau aku jawab masih, kita bisa apa? Kamu nggak akan membatalkan pernikahan aku, kan?” balasku dengan suara kacau.
            Memangnya apa yang akan berubah kalau aku menjawab ‘iya’? Max tidak akan mungkin berpikir untuk membatalkan pernikahanku. That’s impossible.
            Tapi, ucapan Max selanjutnya membuat kedua netraku melebar.
            I’ll do that if you say yes.”
            Dan, aku seperti menemukan jawaban semua keraguanku.
            I’ll do that, Laura. Everything. Kalau pada akhirnya kita bisa … kembali.” Max kini meraih kedua tanganku. Hangat. Seperti dulu.
            Dan segalanya terasa jelas.
            Aku sadar, bahwa selama ini aku selalu mencari kenyamanan pada setiap tempat yang kukunjungi. Aku selalu mencari sebuah tempat di mana nantinya dapat kusebut rumah. Bukan sekadar tempat untuk pulang, tapi di mana kau akan tinggal.
            Dan ternyata, bagiku Max adalah jawabannya.
            “Acara akan dimulai jam delapan pagi besok. Dan, kamu harus datang sebelum jam delapan.” ucapku akhirnya. Max tersenyum.
            Thenwe’ll go.”
.
.
Finish

Jumat, 15 November 2013

Catch You with Alphabets: Chapter 5: E untuk Exception


Chapter 5: E untuk ‘Exception
["Love always become exception.” -Unknown]
.
.
            Aku pernah berada dalam sebuah masa-masa sulitku. Seperti, ketika aku memutuskan untuk meninggalkan orang tuaku di Yogyakarta untuk menetap di Jakarta, atau saat di mana naskah novel yang kukerjakan larut malam hingga bergadang ternyata tak cukup pantas untuk diterbitkan oleh publisher-ku—hingga akhirnya membuatku harus merombaknya ulang kembali bersamaan dengan kesulitan yang berulang di sini, atau di mana aku tengah bertengkar dengan kedua orang tuaku dengan sebuah masalah yang itu-itu saja.
            Yang terakhir adalah kesulitan terbesarku.
            Mam dan Pap selalu memertanyakan atas segala kemajaun pekerjaanku sebagai penulis paruh waktu. Aku mengerti, itu adalah salah satu cara mereka untuk kembali mengusikku secara tidak langsung mengarahkanku untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan—karena mereka tahu, saat ditanya tentang kemajuan pekerjaanku saat ini, aku tidak akan mampu menjawabnya.
            Like I said before, aku selalu ingin bekerja mengenai hal-hal yang kusukai. Kedua orang tuaku selalu menginginkan aku menjadi seorang pendidik—gelarku yang sebenarnya memang S.pd, karena saat itu aku lulus sebagai mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namun, aku merasa passion-ku lebih ke sastra, bukan pendidikannya. Maka dari itu, saat aku memutuskan pindah ke Jakarta—bukannya menetap di Yogyakarta dan mengikuti tes CPNS, sedikit banyak Mam dan Pap kurang menyetujui.
            Dan saat ini hal itu terulang kembali. Sebuah masa-masa sulit di mana aku bertengkar dengan orang tuaku hanya karena profesiku saat ini.
            “Mau di kemanakan masa depanmu, Flo? Jika dengan profesimu saja masih belum jelas hingga saat ini.”
            Begitu yang Mam katakan padaku di ujung telepon. Aku memijit pangkal hidungku pelan, berusaha menghilangkan pening yang tiba-tiba saja menyambangi. Kupikir Mam berinisiatif menelepon karena hanya ingin melepas rasa rindu seperti sebelum-sebelumnya, namun, saat beberapa basa-basi ia mulai menanyakan tentang pekerjaan novelku, aku mulai curiga.
            “Kita sudah pernah membicarakan ini, Mam. Please, give me a chance just for this profession.
            Terdengar suara helaan napas panjang di sana. Itu adalah salah satu cara Mam untuk menahan emosi. Dan kalau sudah sampai menahan emosi, itu pertanda bahwa Mam ingin menangis.
            Dan aku tak ingin mendengar wanita yang paling kusayangi itu menangis.
            “Kami sudah memberimu kesempatan yang panjang,honey. Suaranya sudah terdengar lebih kecil dan parau. “Semua orang tua hanya ingin melihat anaknya berhasil, Flo!”
Aku tak sanggup lagi menahan segala rasa sesak pada rongga dadaku saat akhirnya mendengar suara isakkan dari ujung telepon. Maka dari itu, tanpa maksud apapun selain tak lagi sanggup menahan sesak akibat melihat Mam menangis, aku memutuskan sambungan telepon.
            “I’m really sorry, Mam.”
            Dan aku menangis sejadi-jadinya saat itu. Tak ada lagi hal yang dapat dan kupikir sanggup aku lakukan selain menangis di apartemen. Aku mematikan handphone, menolak tamu yang datang, bahkan mengabaikan e-mail dari editorku yang terus-menerus memeringati tentang waktu deadline yang sudah hampir habis.
            Karena masa-masa tersebut adalah situasi tersulit yang pernah kualami. Karena, akan ada banyak hal yang terpengaruhi oleh situasi itu.
            Tak ada hal yang lebih menyakitkan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa Ibumu menangis karena dirimu sendiri.
            BIP. BIP.
            “Saat ini Flaciona sedang tidak bisa menjawab telepon Anda. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi…”
            BIP.
            “Flo, ponselmu mati? Hari ini aku mengadakan regular party bersama teman-teman Ron di apartemenku. Bisa datang? Ajak Vergi juga, ya. Kutunggu kabarmu.”
            BIP. BIP.
            “Astaga, Flo! Apa yang kau lakukan dengan ponselmu? Deadline-mu besok siang, Astaga! Jangan membuatku gila, Flo! Hubungi aku secepatnya jika kau masih memikirkan nasib naskahmu!”
            BIP. BIP.
            “Halo, uhm, maaf, benar ini dengan Saudari Flaciona? Kami dari kantor pemasaran Pen Publishing. Kami tertarik dengan naskah Anda yang berjudul Senja. Bisa segera hubungi Kami secepatnya setelah ponsel Anda aktif? Terima kasih.”
            BIP. BIP.
“Flo, ada apa dengan ponselmu? Ini Glenn. Aku ingin bertemu denganmu. Bisa?”
BIP. BIP.
            “Aghhhhh! Shit!!!”
            Hampir lima menit sudah mesin penjawab telepon sialan itu berteriak. Hell, aku tak ingin mendengar apapun. Aku tak peduli dengan Sena, Ger—editorku, penerbit baru, atau Glenn sekalipun.
            Aku tidak tahu apa yang mampu membuat perasaanku kembali tertata rapi setelah tercabik-cabik mendengar suara tangisan Mam. Jika seperti ini, aku bahkan yakin tidak akan sanggup meneruskan pekerjaanku lagi.
            BIP. BIP.
            “Flo?”
            Mataku melebar. Mendengar nada suara tak asing yang seharian ini hampir kulupakan.
            “Hei, ada apa denganmu? Ponsel mati? Mengabaikan seluruh pekerjaan? Tak menghubungiku?”
            Suara yang akhirnya membuatku menemukan alasan untuk kembali menata rapi hatiku yang terlampau sesak ini.
            “Ada yang ingin kau ceritakan?”
            Isakkanku kembali terdengar, tapi entah mengapa kali ini aku merasakan sebuah perasaan lega yang teramat sangat hingga tangisku ini bercampur dengan rasa haru.
            “Ceritalah…”
            Suara itu terhenti sejenak. Menyisakan suara helaan napas berat dari ujung mesin penjawab telepon, serta kesunyian kamarku yang di dominasi oleh suara isakkanku.
            “Kutunggu kau menghubungiku kembali. Aku … menunggu di depan apartemenmu.”
            BIP.
Saat itu juga, seluruh syarafku seperti refleks menerima perintah organ tubuhku yang kini siap bangkit dan begerak cepat untuk berlari ke luar kamar. Perasaanku tak menentu, jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat—seolah aku adalah pecandu narkotik sakau yang akhirnya menemukan obatku lagi.
            Dan saat akhirnya aku membuka pintu apartemen, menemukan Vergian tengah bersandar pada sisi tembok sebelah kiri, perasaanku akhirnya meledak.
            “Flo—“
            “—I hate myself, Vergi! I hate…”
            “Sssst.”
            Vergian memelukku dengan erat, kemudian menuntunku kembali masuk ke dalam apartemen. Sebelah tangannya sibuk mengusap sisi tubuhku, dan sebelahnya lagi berusaha menutup pintu apartemen.
            Setelah pintu tertutup, ia kembali mendekapku erat, membawaku ke dalam kamar dan duduk di sisi ranjangku. Tanpa banyak bicara, ia terus memelukku. Membelai lembut rambutku yang berantakkan, juga kedua bahuku yang bergetar.
            Vergian selalu melakukan hal ini saat aku menangis.
            Ia hanya akan terdiam, tanpa mengatakan apapun. Terus memelukku hingga aku merasakan bahwa ialah obat untuk seluruh kesulitanku.
            “Vergi, aku membuat Mam menangis.”
            Karena Vergian adalah sebuah pengecualian.
            Saat kurasakan aku tengah tak peduli dengan seluruh orang, tetapi ia adalah pengecualian.
            Vergian akan selalu menjadi seseorang yang dapat menenangkanku, obat mujarabku. Vergian tak akan pernah menjadi seseorang yang lain untukku. Vergian tak akan pernah bisa menjadi orang yang kuhindari saat aku tengah berada dalam situasi sulitku ini.
            Because he’s my exception.
      Dan, memang, cinta selalu menjadi sebuah pengecualian.
A/n: this is my part of my NaNoWriMo project. Chapter 5, E untuk Exception. Uhm, hanya segelintir kisah Flo dan Vergi serta pahit manis hubungan mereka berdua. Dan … Novelku masih jauh dari target:’( baru 8rban kata dari 50rb kata:’) 15 hari lagi tersisa untuk melengkapi kekurangan itu. Ugh, can I?;p

Kamis, 31 Oktober 2013

About My NaNoWriMo

Nah, besok tepat pada tanggal 1 November 2013 event NaNoWriMo akan dimulai! Who's excited with that? Me? Yes!;p

Sebelumnya, apa itu NaNoWriMo? NaNoWriMo adalah singkatan dari National Novel Writing Month. Event ini sudah diadakan dari beberapa tahun yang lalu, dan ternyata cukup berhasil. Intinya, ini adalah sebuah tantangan menulis novel minimal 50.000 kata dalam sebulan. Yeah, just one month! Kalau dipikir, memang sepertinya tidak mudah, ya. Karena aku juga baru tahun ini ikut event tersebut, so, aku belum pernah merasakannya.

Kalau selama ini aku biasa menyelesaikan menulis novel sekitar 40.000-an kata minimal selama enam bulan, kali ini ditantang hanya dalam kurun waktu satu bulan! Tenang, NaNoWriMo tidak terikat plot, kok. Kamu bisa menuliskan segala cerita yang ada di dalam pikiranmu. Yang penting, selama satu bulan November itu kamu sudah mencapai minimal 50.000 kata. Dan dengar-dengar, akan ada reward untuk yang berhasil memenangkan ini, lho!

Nah, aku juga sudah membuat konsep cerita untuk NaNoWriMo besok. Aku akan membuat sebuah novel yang berisi sebuah drabble di setiap chapter/bab-nya. Maksud drabble di sini adalah sebuah cerita singkat yang alurnya tidak tersusun secara urut disetiap chapter-chapternya. Uniknya, aku menggunakan awalan huruf alfabet dari A hingga Z di setiap judul. Karena sesuai tema dan judulnya, novel ini berisikan kisah-kisah cinta alfabetis yang terjadi dalam tokohnya. I see, ini memang akan menjadi sebuah cerita sederhana. But, aku harap, cerita sederhana ini bisa kunikmati disetiap saat aku menulisnya.

This is about my NaNoWriMo:
...
Judul: Catch You with Alphabets

Genre: Romance

Tagline: "Dari A sampai Z;—sebanyak itu aku mencintaimu."

Short sinopsis:
Flaciona—little bitchy girl, penyuka keramaian, periang, dan penggila hujan.

Vergian—coolest prince, penikmat ketenangan, pembenci hujan, dan pendamba malam.

Ada rasa yang mengalir lebih dari tiga tahun di antara mereka. Ada konflik yang terjadi dalam setiap hubungan berbeda arah yang mereka jalani. Ada asa, rindu, ragu, dan juga kenangan.

Yang terpenting; ada cinta di antara keduanya.

Dan, mari kuceritakan kisah mereka. Tentang suka dan duka yang berlabuh tiga tahun pada hubungan mereka.

Juga, tentang fragmen A sampai Z yang mengiringi cerita mereka.

Bersiaplah, akan kutangkap kau dengan alfabet.
...

That's a part of my NaNoWriMo;p and now, just hope may this project will completed before deadline!;D

Happy November! Happy writing as much as possible every day, everytime started from tomorrow!

Xoxo,
Good luck
Me;p