Followers

Minggu, 28 Juni 2015

[Day 28 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 28


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
 Chapter 28: Heart
.
.
            Betapa sebuah kalimat mampu menguarkan berbagai arti. Mengimplisit tak kasat mata, namun sudah dapat dipastikan mengandung makna denotasi yang jelas. Seolah tanpa tersurat, segalanya dengan mudah diterjemahkan dan dirasakan lamat-lamat.
            Dia bilang terima kasih.
            Katanya, Kanae lebih banyak tersenyum dan dia berterima kasih padanya. Bagi seorang Akihiro, itu sebuah pencapaian tak terprediksi. Ketika Shiro mengatakannya, jelas ia merujuk senyum Kanae yang bertambah kuantitasnya itu bersebab pada dirinya. Dan ketika ia mengucap kata mujarab itu, hal tersebut mengindikasikan bahwa ada sebuah ‘restu tersembunyi’ yang diam-diam Shiro sampaikan.
            Apa memang benar kerikil terjal dalam perjalanannya menggapai Kanae hampir hilang? Apa memang, ujung jalan yang menjadi destini dalam menaut hati seorang Kanae sudah hampir terlihat? Dan apa memang, segala usaha kerasa yang ia jalani itu menerbitkan sebuah senyum yang lebih banyak untuk Kanae?
            Ia tak ingin mengharap lebih, tapi ia yakin sudah berusaha dengan lebih.
            Ketika pada akhirnya ujung jalan sudah mulai mengintip, ia hanya perlu mengatur beberapa manuver lagi.
            Sebab ini belum benar-benar berakhir.
            Ia mungkin sudah mampu menggenggam hati Kanae erat-erat, tapi jelas Kanae belum mengizinkan ia mengambilnya.
            Dan kini, terima kasih dari Shiro membuatnya semakin yakin;
            sudah waktunya ia meminta izin pada Kanae untuk mengambil hati gadis itu.
            Untuk ia simpan rapat-rapat.

To Be Continued.

semakin dekat ke hari 30 :3 :3 enjoy 202 words!

Sabtu, 27 Juni 2015

[Day 27 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 27


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
    Chapter 27: Project?
.
.
            Suara langkah terdengar statis ketika Akihiro memasuki ruang kerjanya. Di sana, Sei sudah datang lebih dulu. Teman satu kubikelnya itu tiba-tiba saja menghampirinya dengan dahi yang berkerut-kerut samar.
            “Ada yang mencarimu.”
            “Siapa?”
            “Shizuna-san.”
            Kedua hazel Akihiro melebar dengan refleks. Entah mengapa, segala gagasan aneh sudah lebih dulu terbentuk di dalam pikiran-pikirannya tersebut.
            “Why you so … surprised? Bukankah kalian memang sedang mengerjakan proyek bersama?”
            Ucapan Sei seperti genangan air yang mengalirinya di antara el nino yang menyesakkan. Ah, benar, pasti Shiro memanggilnya karena urusan pekerjaan, kan? Memangnya apa lagi?
            “Ah, ya. Aku akan ke sana.”
            Ketika Akihiro kembali melangkahkan kaki keluar ruangan, suara Sei terdengar berteriak di belakangnya. Mengujar tanpa mengenal tempat dan menilai kapasitas volume lengkingannya sama sekali.
            “Hoi, ingat, kaubelum menceritakan tentang hubunganmu dengan adik perempuan Shizuna-san, Akihiro!”
            Akihiro hanya menggeleng pelan. Mulut besar sekali, si Sei itu. Untung kantor masih sepi, jika sudah ramai dan teman-teman satu divisinya mendengar itu, apa yang harus ia katakan kalau-kalau mereka meminta penjelasan.
            Pria itu memasuki lift dan menekan tombol di mana ruangan Shiro berada. Meski ia sudah meyakinkan diri bahwa Shiro memanggilnya untuk urusan pekerjaan, diam-diam ia memikirkan hal lain, bagaimana jika atasannya itu memanggilnya karena Kanae? Bagaimana kalau … astaga! Akihiro mengumpat dalam hati. Jangan-jangan Shiro tahu kemarin Kanae baru saja mencium pipinya.
            Namun, segera saja Akihiro menepis pemikiran itu. Konyol sekali, sih, dirinya.
            Ketika Akihiro sampai di ruangan Shiro, de javu  menyergap dirinya. Dulu, ketika ia membuka pintu ini, ia dikejutkan oleh pemandangan yang membuat hatinya carut-marut. Tapi, tak ingin lebih lama berpikir gamang, ia segera mengetuk pintu sebelum akhirnya memutar kenopnya.
            Syukurlah, hanya ada Shiro di sana.
            “Selamat pagi, Shizuna-san.”
            Tatapan mata Shiro memandangnya sekilas, kemudian mempersilakannya untuk duduk di kursi di hadapan pria itu.
            “Aku sudah melihat data yang kau kirimkan beberapa waktu lalu…”
            Dan pembicaraan mereka pun akhirnya berpusat antara proyek yang tengah mereka jalani. Akihiro diam-diam menghela napas, heran sendiri ia masih bisa bersikap profesional setelah semua yang telah terjadi di antara mereka.
            “Baiklah, kutunggu hasilnya lusa. Kuharap kau melakukannya dengan baik.” Pungkas Shiro pada ujaran terakhirnya.
            Akihiro mengangguk pelan, bersiap untuk melangkah pergi setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dan salam hormat pada Shiro.
            Namun, ketika ia baru saja menyentuh kenop pintu, Shiro kembali memanggilnya.
            Akihiro berbalik, kembali menatap pria yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.
            Lalu pria itu menandas.
            “Akhir-akhir ini Kanae lebih banyak tersenyum.”
            Shiro sedikit mengangkat sudut bibirnya sebelum kembali meneruskan.
            “…terima kasih.”

To Be Continued.

huhu ngerasa aneh sama chapter ini :'> but, enjoy 406 words :)

Jumat, 26 Juni 2015

[Day 26 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 26


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
  Chapter 26: Sweet
.
.
            Kata orang, ada beberapa hal manis di dunia ini yang dapat kita temukan. Seperti, melihat sepasang pengantin di atas altar, melihat seorang bayi mungil yang tertidur pulas, melihat sepasang sahabat yang saling membantu, pun melihat kedua orangtua kita saling melempar senyum penuh kasih sayang.
            Namun, bagi Kanae, hal-hal manis tersebut dirasanya dalam bentuk yang lebih sederhana. Yang tak ia prediksikan akan ia dapatkan. Dan tak ia kira akan membawa perasaannya ke dalam kehangatan dan kenyamanan yang sangat menyenangkan ini.
            Wajah merona Akihiro ketika ia mengecupnya;
            itulah kata kuncinya.

To Be Continued.

88 words story only :3

Kamis, 25 Juni 2015

[Day 25 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 25


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
  Chapter 25: Osculation
.
.
            “Ini apartemenku.”
            “Apa boleh?”
            Akihiro terkekeh kecil, tangannya dengan refleks terulur untuk mengacak lembut helaian rambut hitam Kanae dengan gemas. “Tentu saja, Kanae-sama. Memang siapa yang mau melarang?”
            Sekilas rona merah muncul di kedua belah pipi Kanae, lagi-lagi membuat Akihiro tersenyum lembut. Gadis itu manis sekali, dan tak pernah sadar telah sukses membuat hati Akihiro berjungkat-jungkit menyenangkan. Apa dirinya juga begitu? Apa ia membuat hati Kanae berdebar-debar juga?
            Akihiro membuka pintu apartemennya. Ini pertama kalinya ia membawa seorang gadis ke sini. Entah kenapa, ia hanya ingin Kanae mengenalnya lebih jauh, lebih intim. Ketika ia sudah yakin dengan perasaannya sendiri, maka tugasnya kali ini adalah meyakinkan perasaan Kanae. Dan ia akan melakukannya dengan totalitas penuh agar membuat gadis itu benar-benar membalas perasaannya.
            “Mau minum apa?”
            Kanae mendengar Akihiro mengujar, tapi ia tak segera menjawab. Netra oniksnya tengah terpaku pada ruang apartemen Akihiro yang minimalis dan rapi. Warna hitam dan putih mendominasi, menguarkan aura maskulinitas tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya. Belum lagi aroma citrus yang menyambangi indera penciuman gadis itu. Harum Akihiro. Ah, betapa nyamannya jika ia bisa terus-menerus berada di sini dengan aroma Akihiro menemaninya sepanjang waktu.
            “Hei, Kanae?” sebuah lambaian telapak tangan yang besar mengagetkan Kanae dari segala kemelut pikirannya. Gadis itu mengalami disorientasi pikiran sejenak, sebelum akhirnya menyadari seringaian Akihiro di depannya. “Kau mau minum apa?”
            “A-apa saja,” jawabnya cepat.
            Pria di depannya itu lagi-lagi tersenyum, menggeleng pelan sebelum kembali melangkah memasuki bagian dalam apartemennya. “Tunggu di sini, ya. Aku buatkan minum dulu.”
            Kanae mengangguk dan melangkah mendekati sofa beludru hitam yang berada tak jauh darinya. Ia duduk di sana, mengempaskan diri pada bangku empuk nan nyaman tersebut. Matanya kembali menginvasi sekelilingnya, saat tiba-tiba ia menemukan kumpulan bingkai-bingkai foto yang tersusun rapi di meja kecil di samping sofa yang ia duduki.
            Gadis itu beringsut mendekat ke arah meja, meneliti satu-persatu foto-foto yang menarik perhatiannya. Kanae tersenyum melihat berbagai ekspresi Akihiro di sana. Ada salah satu foto yang membuatnya terkikik, yaitu foto berobjekan Akihiro dalam seragam elementary school sedang menangis dengan gigi ompong.
            “Senang dengan apa yang kaulihat?”
            Suara itu lagi-lagi menyita kegiatannya. Ia menoleh dan mendapati Akihiro tengah berdiri di sampingnya dengan secangkir teh hangat. Harumnya manis sekali.
            “Kau lucu sekali dulu.” Kekeh sang gadis pelan.
            “Memangnya sekarang sudah tidak?”
            Tanya itu membuat Kanae gemas dan serta-merta meninju pelan bahu Akihiro. Namun, sepertinya Akihiro menikmati sentuhan itu, karena ketika Kanae berniat kembali menarik tangannya, pria itu tetap menahannya di sana. Mengelusnya pelan dengan sebuah senyum lembut yang membekukan Kanae.
            Waktu seketika berhenti, harum citrus dan teh yang menyatu membuat pikiran Kanae semakin melebur entah ke mana. Pun sentuhan Akihiro di tangannya yang menghangat. Segalanya terasa nyaman. Begitu nyaman sampai-sampai Kanae merasa ingin merasakan sesuatu yang kiranya lebih dari ini.
            Tak mampu menahan segala rontaan dalam rongga dadanya, Kanae mencondongkan tubuh, mendekat pada Akihiro hingga ia bisa merasakan hangat napas pria itu di pipinya. Tanpa aba-aba, kedua kakinya berjinjit pelan, bibirnya mencari-cari sampai ia menemukan pipi Akihiro dalam kecupannya.
            Kanae mengecup Akihiro.
            Mengirim sejuta sengatan kupu-kupu ke dalam perut pria yang kini tengah melebarkan mata karena terkejut itu.

To Be Continued.

508 words untuk aspartam-aspartam :3

Rabu, 24 Juni 2015

[Day 24 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 24


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
  Chapter 24: Night
.
.
            Malam itu tak seperti malam-malam yang lalu,
            karena subjek bersubtitusi menjadi kamu
            Yang membuatnya tersenyum penuh,
            dan menghapus segala jenuh.
.
.
            Malam itu langit semendung abu,
            angin berembus menghantar syahdu
            Tapi, sudut hatinya menghangat selalu
            meski dingin menyentuh-nyentuh kalbu.
.
.
            Malam itu,
            hujan turun bersama sendu
            Membwa segenap pilu,
            yang meronta tak kenal ragu
            Tapi, dirinya tahu,
            Setelah ini, badai pasti berlalu.
…

Bold is Kanae’s
Italic is Akihiro’s
Underline is Shiro’s

To Be Continued.

Ieuuuuuu gombal session. Anggap saja isi hatinya mereka, ya. Silakan menebak-nebak sendiri. /kabur/

Selasa, 23 Juni 2015

[Day 23 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 23


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
   Chapter 23: Boy’s Talk
.
.
            Ia pernah jatuh cinta sebelumnya, tentu saja.
            Tapi, tak sedalam ini.
            Cinta yang lalu tak semenyenangkan ini. Yang ini serasa mencandu, mendamba, tak kan pernah cukup. Yang ini penuh dengan kelokan tajam, naik-turun, dan mendebarkan. Segalanya tak terasa biasa, segalanya lebih berwarna.
            “Hei, kulihat kau begitu sering bersama adiknya Shizuna-san akhir-akhir ini.” Sei mengujar di antara suapan makan siangnya.
            Akihiro mendongak, sekilas membalas pandangan Sei yang penuh dengan tatapan penasaran. Rasanya sudah lama sekali ia tak meluangkan waktu istirahat makan siang bersama temannya itu. Sekalinya kembali bersama seperti ini, yang ia tujukkan adalah pandangan menjemukan seperti itu.
            “Hu-um.” Begitulah Akihiro menjawab tak acuh.
            Sei mendelik, “heh, apa-apaan itu? Kau hutang banyak cerita padaku, Akihiro.”
            “Memangnya kau siapa, eh?”
            Kekehan terdengar mendominasi kemudian, sesaat sebelum Sei kembali berbicara. Kali ini lebih tulus dengan sebuah senyum tipis di bibirnya. “Kau berhasil mengajaknya kencan, ya? Setelah taruhan minum itu?”
            Untuk sesaat Akihiro hanya bergeming. Menghabiskan sisa-sisa terakhir suapan dan menyesap minumannya. Setelah dirasa semuanya telah tersikat bersih, barulah ia kembali menatap Sei. “Tidak juga. Aku, kan, kalah.”
            Sei terlihat semakin kesal mendegar jawaban singkat nan tak acuh yang sedari tadi diberikan oleh Akihiro. “Lalu? Kenapa kalian bisa sedekat itu, hah?”
            Akihiro akhirnya tersenyum geli. Terlihat sekali temannya ini tengah berada pada tahap penasaran setengah mati. Biar saja, Sei sekali-sekali harus diberi pelajaran.
            Maka ia menjawab.
            “Ceritanya panjaaang sekali. Tapi, nanti, kalau pada akhirnya kami benar-benar sudah resmi, akan kuceritakan padamu selengkap-lengkapnya.”
            Hari itu, Sei mendiamkan Akihiro sepanjang sore.

To Be Continued.

yap, istirahat sebentar romensnya :3 tiba-tiba kangen Sei lagi :3 245 words for day 23!

Senin, 22 Juni 2015

[Day 22 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 22


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
 Chapter 22: Mugen
.
.
            Perlukah kukatakan padamu, kau membawa efek kejut di setiap detik hari-hari statisku?
            “Aku bisa merasakan, Shiro benar-benar mencintaimu.”
            Akihiro menutur pelan, tangannya terulur untuk memberikan sebuah helm pada Kanae. Gadis itu hanya menatap Akihiro dengan kerutan samar yang muncul di dahinya.
            “Kedengarannya seperti kau sedang mengaku kalah? Kurang percaya diri, eh?” Balas gadis itu sembari merotasikan kedua mata besarnya.
            Akihiro mendengus, merapikan jaketnya sekaligus memakai helm miliknya, “dalam mimpimu, Kanae.”
            Tawa renyah terdengar kemudian dari mulut Kanae, membuat Akihiro mau tak mau ikut tertawa. Sudah pernahkah ia bilang? Tawa gadis itu menular.
            Mesin motor telah terdengar menderung, kali ini, tanpa Akihiro minta, Kanae segara naik dan melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Diam-diam, pria itu tersenyum.
            “Seberapa persen kau yakin cintamu lebih besar dari milik Nii-san, Akihiro?” Kanae semakin mengeratkan pelukannya ketika Akihiro menjalankan motor. Angin menerpa wajahnya, beberapa helai rambutnya yang mendesak keluar dari helm melambai-lambai seolah menari.
            Sayup-sayup, gadis itu mendengar Akihiro menjawab pertanyaannya.
            “Mugen.[1]”

To Be Continued.


[1] Infinite

story only 158 words.

Minggu, 21 Juni 2015

[Day 21 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 21


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
   Chapter 21: Change
.
.
            Belum seratus hari aku mengenalmu, belum pula kita saling terbiasa dalam sebuah ikatan statis yang kasual. Namun, senyummu memaksaku menerima kehadiranmu tanpa ragu, menghalau ranjau yang sudah sejak lama aku pasang ketika kedatangan orang baru. Lakumu mematikan segala asing yang hinggap begitu sedikit, membuang segenap angkuh yang selama ini hinggap hingga segala tulang-belulangku. Entah bagaimana caranya, kau membuatku terbuka, pada segala kata dan rupa yang seringnya kau hadirkan.
            Di hari pertama kau bilang cinta. Dan saat itu pula aku merasa kau berbeda. Hari-hari berikutnya kau terus berusaha, seakan kepongahanku hanyalah kerikil kecil yang tak seberapa.
            Dirimu mengacaukan logikaku. Juga mendiferensiasikan rasa pada Nii-san[1] yang telah lama kugenggam erat. Begitu erat hingga rasanya tak ingin kulepas. Menyubtitusi kestatisan yang telah lama kami rasa. Meluruskan segala hati yang kenyataannya tak wajar. Karenamu, segala perilakumu, juga senyum-senyummu.
            Kau, Akihiro. Kau berani mengubah sudut pandangku. Pada segala cinta yang tak ingin kuubah rasanya. Kau berani menembus segala zona nyamanku dengan Nii-san yang kami tutupi sewajar mungkin. Kau, kau memberi cahaya baru, rasa baru, warna baru, dan hari-hari baru. Dan kau, memberikan kesederhanaan baru pada cinta dalam bentuk kesederhanaan yang indah.
            Akihiro, bagaimana caranya aku mengatakan padamu, juga pada Nii-san, bahwa hati ini telah berubah? Bahwa rasa ini tak lagi berlabuh di tempat yang lama. Melainkan telah menaut pada satu hati yang baru.
            Dan, Nii-san, aku minta maaf.
            Maafkan aku, maafkan aku.
            Mungkin, pada akhirnya aku bisa belajar menjadi seorang adik yang baik bagimu.
            Maafkan aku, dan … terima kasih.
.
.
            Kanae menarik netra dari gumpalan kumulonimbus di atas sana, sekaligus menarik diri dari monolog tak terarah yang barusan saja melekat di kepalanya. Matanya melirik pintu roof top. Menunggu-nunggu dua orang yang kini menjadi entitas berarti baginya keluar dari tempat itu. Entahlah, dirinya tak ingin menerka-nerka.
            Butuh beberapa detik ia berhasil keluar dari kemelut pikirannya. Hela napas ia embuskan dalam-dalam. Dan saat itulah, ia melihat Shiro keluar dari pintu itu dengan langkah lebar yang tergesa—seperti penuh dengan beban.
            Belum sempat ia memanggil, Shiro sudah lebih dulu menangkap pandangannya. Pria itu tersenyum kecil—senyum dingin khas Shiro. Langkahnya mendekat, membuat Kanae bertanya-tanya apa yang terjadi selama mereka (Shiro dan Akihiro) berbicara di sana. Ketika sampai di hadapan Kanae, Shiro mengangkat sebelah tangan untuk menyentuh sisi wajah Kanae. Membelainya lembut di sana.
            “Apapun yang terjadi, kau tetap adikku.”
            Dengan satu kalimat itu, segalanya terasa melegakan bagi Kanae.

To Be Continued.


[1] Kakak laki-laki

Nah, yang di atas itu monolognya Kanae. Entah kenapa lagi kepengin bikin pake 1st pov gitu, jadinya bermonologlah dia :3 it's day 21, right? 394 for today! Thanku for all constructive critism, yaaa :D

Sabtu, 20 Juni 2015

[Day 20 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 20


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
 Chapter 20: Rival
.
.
            Ada dua cara bagaimana seseorang dapat jatuh cinta; karena terbiasa dan karena pandangan pertama.
            Untuk beberapa orang, mereka lebih memilih cinta karena terbiasa. Katanya, justru cinta seperti itulah yang nantinya akan memenangkan permainan dalam dunia percintaan. Karena hal itu akan lebih kuat dibanding dengan cinta pada pandangan pertama.
            Dan seperti itulah hubungan Shiro dan Kanae terbentuk; cinta karena terbiasa. Mereka terbiasa bersama, menerima rasa sakit bersama-sama, mengambil keputusan bersama-sama, berbagi kebahagiaan bersama-sama, dan kebersamaan itu yang membuat mereka terbiasa. Yang pada akhirnya, menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya.
            Akihiro tak ingin menjadi orang yang menutup diri, yang mengatakan bahwa jatuh cinta pada saudara kandung adalah mustahil. Bahwa hal-hal serupa incest dan semacamnya hanyalah perwujudan nafsu manusia yang tak ada puasnya. Atau rasa saling kompleks yang terlalu protektif pada satu sama lain, yang akhirnya mereka salah artikan sebagai rasa cinta yang romantik.
            Tapi, Shiro dan Kanae benar-benar saling jatuh cinta. Mereka menyimpan rasa itu dalam diri masing-masing, dan hanya akan terbuka jika mereka tengah saling mengisi. Tak akan ada yang tahu, karena perasaan itu begitu rapat. Dan itu memang cinta. Sebagaimana keduanya saling memandang tanpa rasa kasih yang platonik. Melainkan saling memandang sebagai entitas laki-laki dan juga perempuan dewasa normal. Yang sewajarnya saling jatuh cinta.
            Kesamaan rasa sakit adalah faktornya.
            Mereka saling menanggung beban yang sama, yang akhirnya membuat mereka merasa satu penderitaan. Dan akhirnya memahami perasaan masing-masing, saking pahamnya, hingga mereka tak sadar sudah menaruh rasa terlalu jauh di luar batas kakak-adik.
            Begitulah yang Shiro katakana ketika Akihiro menemuinya.
            “Siapa yang pertama kali menyadari perasaan itu?” Akihiro menandas, menatap Shiro yang kini menautkan atensi ke arah balkon roof top. Pemuda pemegang kendali perusahaan tempatnya bekerja saat ini itu ternyata tak sedingin yang ia kira. Yeah, dingin memang. Hanya saja, Akihiro tak mengira bahwa Shiro akan setuju ketika ia mengajaknya bicara.
            Terdengar helaan napas berat yang dihela Shiro. Pria itu tak segera menjawab, membuat Akihiro bertanya-tanya apa sebenarnya yang ia pikirkan.
            “Aku tidak ingat pastinya, yang jelas, kami sama-sama menyadari beberapa bulan sebelum orangtuaku memutuskan untuk bercerai.” Ia berhenti sebentar untuk menatap Akhiro. “Sungguh, apa aku benar-benar harus menceritakan hal ini, heh? Kau pikir kau siapa?”
            Akihiro tersenyum kecil, “aku mendatangimu sebagai Deisuke Akihiro. Pemuda yang jatuh cinta pada Shizuna Kanae, adik yang kaucintai. Bukan sebagai Akihiro yang mendatangi Shizuna Shiro-sama[1] untuk membahas masalah proyek bisnis mereka. Jadi, anggap saja aku sedang menantangmu bercerita tentang proses kalian jatuh cinta.”
            “Urusai[2],” Shiro mendengus pelan. Namun, mulutnya tetap melanjutkan. “Aku sudah mengatakannya. Kami jatuh cinta dengan proses yang berbeda denganmu yang sekadar jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan, dengar baik-baik Shizuna-san[3], aku tak pernah berencana untuk mengenyahkan perasaan itu.”
            Saat cinta itu hadir dengan segudang proses bertajuk ‘terbiasa’, percayalah, akan sulit untuk menghentikannya kecuali dengan cara yang sama ketika cinta itu hadir; terbiasa.
            “Aku tahu. Aku mengerti,” Akihiro membalas yakin. Mata hazel-nya menatap mata hitam Shiro dalam-dalam. “Aku hanya ingin kau tahu tentang perasaanku pada adikmu. Dan…”
            Shiro mendengarkannya baik-baik.
            “…tak masalah jika kau tak ingin menghilangkan perasaanmu. Tapi, jika nantinya perasaan Kanae padamu hilang karena kehadiranku, aku memintamu untuk bersikap sportif. Biarkan ia memilihku jika memang itu adalah hal yang ingin Kanae lakukan.”
            Shiro tak pernah merasa terintimidasi, namun, kali ini, seseorang telah berani mengintimidasi perasaannya sejauh ini dengan segala kepercayaan diri yang meledak-ledak.
            “Baik. Aku akan selalu menerima apapun keputusan Kanae.”
            Setelah mengatakan hal itu, Shiro segera melangkah pergi. Meninggalkan Akihiro yang diam-diam menggeleng tidak percaya.
            Gila. Kali ini, ia benar-benar memiliki saingan cinta yang tidak biasa.

To Be Continued.


[1] Digunakan untuk memanggil seseorang yang dihormati
[2] Diam
[3] Digunakan untuk memanggil seseorang yang baru dikenal/belum akrab

593 words! Nggak nyangka banget udah hari ke-20 :3 awalnya saya ragu apa bisa konsisten untuk nulis random sebulan ini. Dan, ternyata bisa sampai sini juga :3 terima kasih untuk kamu yang masih mau membaca dan (khususnya) yang pernah meninggalkan jejak di sini. That's mean sooo much for me :)

Jumat, 19 Juni 2015

[Day 19 #NulisRandom2015] Frühling: Chapter 19


Frühling;
.
.
—Spring
.
.
 Chapter 19: Unthinkable
.
.
            “Kalau mereka berpisah, bagaimana dengan kita?”
            “Kita akan pindah, dan sampai aku bisa mengurus perusahaan Otou-san[1] dengan benar, aku akan membeli rumah.”
            “Kau tahu Otou-san dan Okaa-san[2] tak akan setuju, bukan?”
            “Kita sudah memberikan kebebasan untuk mereka berpisah, sekarang saatnya mereka memberikan kebebasan untuk kita, Kanae.”
            “Nii-san[3]…”
            “Ssst, sudahlah. Selama bersamaku, kau akan baik-baik saja.”
            “…”
            “…”
            “Terima kasih, Nii-san … terima kasih.”
            “…tak apa, aku mencintaimu.”
.
.
            Udara semakin terasa mendingin di pertengahan musim semi. Meski begitu, pohon sakura semakin mekar, hanami[4] di mana-mana, membawa aroma tersendiri bagi masyarakat Jepang yang menyukai musim paling berwarna ini.
            Seperti Kanae.
            “Orangtuaku bercerai ketika musim semi.” Kanae tersenyum sedih ketika mengucapkannya. Tangannya terulur ke atas, seolah-olah ingin menangkup seluruh kelopak sakura yang gugur di atas mereka dengan telapak tangan mungilnya. Akihiro terduduk di sebelahnya, menatapnya dalam seakan tak berniat melepas pandangan barang sejenak. Bahkan untuk melirik bunga-bunga sakura yang cantik. Baginya, Kanae lebih cantik dari apapun.
            “Padahal aku selalu suka musim semi. Indah. Berwarna-warni. Menenangkan.” Lanjut gadis itu lagi.
            “Kau tahu? Musim semi dan kau memang kombinasi yang sangat pas, Kanae.” Akihiro kemudian menandas, kini memalingkan wajah untuk sekadar menyembunyikan rona merah yang muncul di kedua belah pipinya. Pria itu tersenyum. Ia benar-benar seperti remaja ingusan yang baru pertama kali mengalami jatuh cinta. Sial.
            “Kenapa?”
            Dan Akihiro tak pernah mengharapkan jawaban defensif itu. Atau bahkan retoris? Karena mungkin, semua orang pun tahu musim semi yang dikombinasikan dengan Kanae akan menghasilkan pemandangan yang begitu indah. Atau setidaknya, begitulah orang-orang yang tengah mabuk asmara mengutarakannya.
            “Karena memanjakan mataku, oh, tentu saja.” Pria itu menjawab dengan seringainya. Menggoda.
            Kanae tertawa. Memukul pelan bahu Akihiro yang lebar—juga hangat, ia yakin itu. Wajahnya menghangat. Peduli setan jika rupa pipinya sudah merona merah. Ia tak peduli.
            “Akihiro,”
            Akihiro selalu senang mendengar Kanae menyebut namanya. Ada gelenyar hangat yang memenuhi rongga perutnya. Cataplexy. Suara gadis itu seolah berubah menjadi lebih merdu ketika khusus mengucapkan namanya.
            “Hm?”
            “Semalam Nii-san memergokiku pulang denganmu.”
            “Oh ya? Apa katanya?”
            “Tidak berkata apa-apa. Ia hanya bilang … daisuki da[5].”
            Senyum Akihiro perlahan menguap. Pria itu melirik gadis di sampingnya yang tengah menatap jauh direksi di depan sana, keluarga-keluarga penuh sukacita yang juga sedang berhanami. Matanya terlihat sedih, atau menyesal—Akihiro terlalu takut untuk menentukannya.
            Ia belum pernah memikirkan seberapa jauh dan serius perasaan Shiro terhadap Kanae, atau perasaan Kanae terhadap Shiro, atau bahkan perasaan keduanya terhadap satu sama lain. Ia hanya tahu jika ada relasi tak wajar antar kedua saudara tersebut. Melupakan bahwa ia sebenarnya tengah berada dalam situasi yang sulit dalam mencintai.
            Tidak naïf, Akihiro tahu akhir-akhir ini Kanae mulai membuka diri padanya. Gadis itu lebih banyak tersenyum, bahkan tak lagi menolak dengan sentuhan-sentuhan kecil yang ia berikan. Tapi, ia lupa akan perasaan Kanae terhadap Shiro. Apa perasaan itu masih tetap ada sementara gadis itu sudah mulai menunjukkan respon positif akan segala tindakannya? Atau sudah berkurang? Atau bahkan sudah hilang sama sekali?
            Begitupun terhadap Shiro. Semenjak skandal ciuman antara Shiro dan Kanae yang Akihiro lihat, bahkan ia sama sekali belum pernah bertemu dengan Shiro lagi.
            Bagaimana ia mau terus maju jika nyatanya ada banyak sekali batu kerikil dan rintangan yang belum dibereskan?
            Bagaimana ia bisa mendapatkan hati Kanae, jika pada kenyataannya, Shiro masih membayang-bayangi sosok Kanae.
            Maka, satu-satunya cara adalah—
            “Kanae,”
            “Hm?”
            “Aku ingin bertemu dengan Shiro. Boleh?”
            —membereskan segala relasi taksa antara Shiro dan Kanae terlebih dahulu.

To Be Continued.


[1] Ayah
[2] Ibu
[3] Kakak (untuk kakak laki-laki)
[4] Piknik di bawah pohon sakura
[5] Aku menyayangimu

di atas, saya kutip sedikit scene flashback antara Shiro dan Kanae. Sebenarnya saya ingin menuliskannya secara eksplisit flashback supaya pembaca bisa benar-benar mengerti bagaimana dalamnya hubungan antara Shiro-Kanae. Bagaimana mereka benar-benar pernah saling jatuh cinta. Tapi, karena keterbatasan any stuff and things (lol) jadi sepertinya saya cuma bisa memberikan flashback implisit dengan dialog seperti itu saja :') dan, sudah hari ke-19 ternyata, enjoy 572 unthinkable chapter ;p